Penderita DBD di Sampang Didominasi Anak SD

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ FATHOR RAHMAN) WASPADA: Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, menghimbau agar masyarakat waspada terhadap serangan nyamuk di musim pancaroba.  

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sampang cukup tinggi. Rata-rata penderitanya, anak usia sekolah dasar (SD). Kasus tersebut, perlu diwaspadai di sejumlah kecamatan. Meski belum ditemukan adanya kasus meninggal, setiap masyarakat harus melakukan antisipasi dengan menguras, menutup dan mengubur (3M).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Agus Mulyadi mengatakan, banyaknya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dikarenakan kurangnya penerapan pola hidup bersih sehat (PHBS). “Kami selalu sampaikan, PHBS wajib diterapkan. Tidak hanya di keluarga, tapi juga di sekolah, tempat kerja dan lingkungan sekitar,” ujarnya, Kamis  (17/6/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, sejak bulan Januari hingga Juni terdapat 36 kasus DBD. Dari jumlah itu, korban didominasi oleh anak-anak SD. “Rata-rata usia pasien DBD yang ada saat ini berkisar 5 sampai 14 tahun, semuanya sudah ditangani dan tidak ada yang meninggal,” ucapnya.

Diketahui, kasus DBD sejak 2 tahun terakhir cenderung menurun. Di tahun 2019, terdapat 259 kasus dan di tahun 2020 terdapat 181 kasus. Namun, perlu tetap dilakukan kewaspadaan. Sebab, jika kasus ini tidak segera ditangani cukup berbahaya.

Agus Mulyadi menjelaskan, sebenarnya musim pancaroba sudah berlalu. Namun, saat ini masih sering turun hujan. Bahkan, dengan kondisi ini yang perlu diwaspadai. Sehingga, dipastikan tidak ada air yang menggenang terlalu lama.

“Memang sejak dua tahun terakhir, kasus DBD masih tetap di 22 desa. Tapi kasus ini, perlu penanganan serius. Karena, DBD bisa menyebabkan kematian jika tidak segera dirawat,” tegasnya.

Ia mengaku, sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka DBD. Salah satunya, dengan sosialisasi PHBS, 3M, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan fogging. “Kami sudah optimal menggelar semua kegiatan pencegahan,” klaimnya. (man/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *