oleh

Pendidikan Karakter Pasca-Kebenaran

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Akhir 2019, diwartakan tentang seorang pesohor Korea, Sulli, ditemukan tewas bunuh diri. Tindakannya itu disebut dipicu lantaran tidak tahan lagi menghadapi nyinyiran warganet yang bertubi-tubi. Kejadian pilu itu sontak menjadi perbincangan di lini massa dan melahirkan polemik. Satu sisi, banyak yang turut simpati dan kontemplasi terhadap dampak destruktif nyinyiran. Sisi lain, menyalahkan si pesohor yang dituntut mestinya kuat mental menerima nyinyiran sebagai konsekuensi atas pekerjaannya.

Sementara di Indonesia, si pesohor Korea tersebut oleh suatu media massa daring, coba diberitakan dengan sudut pandang (angle) berbeda: mengupas bentuk tubuh si pesohor. Banyak warganet sontak mengecam-menghujat si pembuat berita. Warganet menilai berita semacam itu amat tidak patut ditayangkan. Teranggap si wartawan telah jauh menerabas etika dan moralitas sembari menanggalkan sensitivitas suasana duka kala itu.

Namun rupanya, tidak sedikit warganet memandang dengan perspektif lain: membela si wartawan. Disorongkan argumen perihal ritme kerja wartawan yang berat. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya wajib setor sekian berita dengan batas tempo (deadline). Dengan kata lain, berita semacam itu bisa saja tayang dari “keterpaksaan” untuk mengejar target yang ditentukan oleh Atasan demi sebuah rating pembaca. Lantas muncullah kembali polemik berkait moralitas–yang sememangnya tiada kesepakatan perihal terlanggar atau tidaknya hal semacam itu. Mengapa tiadanya kesepakatan?

Era post truth/pasca-kebenaran seperti sekarang, membincang moral (baca: menilai) tidak bisa dengan vonis hitam-putih, salah-benar. Ada area abu-abu yang membuka ruang perdebatan. Hal ini sangat membedai dengan keadaan moral masa-masa lampau; kala segala hal bidang kehidupan masih tampak sederhana. Relasi anak-orang tua atau peserta didik-guru, misalnya, toh juga mengalami perubahan; tingkatan kesusilaan. Pendidikan moral masa lalu menibakan posisi orang tua dan guru “berkasta” tinggi. Sehingga, anak atau peserta didik dituntut sikap hormat yang amat sangat. Bentuk penghormatan kepada yang lebih tua, oleh generasi “orang kuno”/X termaknai dengan mempraktikkan tuturan halus, perangai amat santun. Sementara kini, relasi anak-orang tua dan guru-peserta didik bisa dimaknai sebagai kesejajaran. Dengan kata lain, orang tua dan guru selayaknya sahabat/teman bagi anak-anaknya.

Konsep pembaruan tersebut konon bertujuan mengikis gap/jarak relasi keduanya. Sehingga, muncullah keterbukaan sikap dan cara pandang. Anak diandaikan bakal lebih berani bersuara, disinyalir pula bisa memunculkan keakraban yang lebih riil. Guru adalah semata mitra peserta didik. Guru bukan lagi diposisikan sumber pengetahuan. Walhasil, perubahan relasi macam ini jamak melahirkan perubahan sikap anak/peserta didik yang dirasa mulai meninggalkan adab kesopanan. Kehadiran buku ini mengurai strategi penyikapan atas moralitas masyarakat kekinian; berupaya agar kearifan orang lampau/generasi X masih bisa disematkan sebagai nilai dari polah-perangai manusia masa kini; agar tetap kontekstual.

Lebih lanjut, buku ini merinci polah kaum milenial dalam interaksi keseharian, termasuk interaksinya di media sosial. Kaum milenial dipilih buku ini karena terkata berada di usia produktif/muda. Dengan definisi yang lahir pada tahun 1980 sampai tahun 2000, milenial mendominasi gerak perekonomian dan rujukan bersosial yang serba kekinian (hlm: 23). Muda menandaskan keterbaruan; bertipikal mendobrak pakem yang telah baku, termasuk prinsip-prinsip keadaban. Kala nyinyiran kadung diartikan sebagai wujud berpikir kritis.

Laju era sememangnya memunculkan kompleksitas suatu problem yang kiranya membutuhkan kebaruan penyikapan dengan lebih up to date. Meski demikian, penulis buku selaku generasi baby boomers/sepuh ini, merasa ada yang hilang atau sengaja ditanggalkan oleh kaum milenial. Yakni: kesantunan, kesabaran, permenungan, tidak memaksakan kehendak, menahan diri. Sementara kini warganet milenial cenderung asal berkomentar, buru-buru merespons, egois, merasa paling benar, terbiasa menanggapi cuitan-unggahan dengan makian-kata kotor.

Banjir hoaks dan ujaran kebencian seperti hari-hari ini, boleh terkata akibat penyikapan keliru kaum milenial macam di atas. Penulis buku mengandaikan pada penyikapan ideal milenial yang telah berlabel positif seperti kritis, cekatan, kreatif; dengan menyelaraskannya pada kearifan-keadaban berperangai ala generasi X/baby boomers (baca: orang tua) yang diurai pada 44 pasal di buku ini. Walhasil, term nyinyir, misalnya, bisa terganti menjadi semacam kritik konstruktif yang tersampaikan dengan penuh respek.

*Pembaca buku; tinggal di Kudus

Data buku:

Judul: Pendidikan Karakter Era Milenial

Penulis: Hendarman, Ph.D

Penerbit: Rosda, Bandung

Cetakan: Agustus, 2019

Tebal: 218 halaman

ISBN: 978-602-446-365-6

 

 

Komentar

News Feed