oleh

Pendidikan Sepanjang Hayat

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)

Kemarin, tanggal 2 Mei, kita sama-sama memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tentu saja banyak harapan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Apalagi banyak persoalan yang harus diselesaikan terkait pendidikan nasional kita. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2018, masih banyak pekerjaan rumah untuk pendidikan di Indonesia, seperti mengenai kemampuan baca siswa yang skornya rendah, skor matematika dan sains di bawah rata-rata, prestasi capaian yang kurang, dan pemerataan mutu. Belum lagi berbicara mengenai degradasi moralitas generasi bangsa yang pastinya ada sangkut pautnya dengan dunia pendidikan nasional. Integrasi antara kecerdasan spiritual, kecerdasan inelektual, dan kecerdasan emosional mestinya menjadi perhatian utama pemangku kebijakan, dan orang-orang yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan, seperti guru, kepala sekolah, dosen, rektor, dan lain sebagainya.

Selain itu, ada mindset mengenai pendidikan yang saya rasa kurang tepat. Yaitu ketika telah tamat dari institusi pendidikan formal maupun informal, dirasa semuanya sudah cukup. Semisal, seorang mahasiswa  merasa cukup dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki karena telah mendapatkan titel sarjana dari kampusnya. Atau bisa juga seorang doktor atau profesor yang merasa sudah kenyang dengan ilmunya karena merasa berhasil melewati jenjang tertinggi pendidikan formal. Saya rasa pemikiran semacam itu perlu dibenahi. Karena sejatinya, ilmu dan pengetahuan itu sangat luas dan beragam. Sebab itu, kita dituntut belajar seumur hidup. Belajar terus menerus tiada henti.

Seperti yang dilansir oleh Republika.co.id, Sabtu 7 November 2015, dalam mencari ilmu, kita bisa mencontoh perjuangan Baqi bin Makhlad, seorang murid Imam Ahmad bin Hanbal, yang ketika berusia 20 tahun, ia melakukan perjalanan dari Andalusia menuju Bagdad dengan berjalan kaki. Ia rela menempuh perjalanan begitu panjang, melewati padang pasir, melintasi lautan, dan mendaki pegunungan, untuk belajar hadis pada ulama terkemuka bernama Imam Ahmad bin Hambal.

Apalagi generasi sekarang telah hidup di era digital. Di mana teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat, segala akses untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan terbuka lebar. Hanya saja, kadang, sebagian dari kita justru terjebak oleh hal-hal lainnya yang kurang bermanfaat, sehingga kurang cekatan dalam memanfaatkan peluang mengembangkan diri melalui internet. Padahal, semua saluran telah tersedia. Semua kembali kepada kita, mau apa tidak menjadi generasi yang pintar, cerdas, dan berwawasan luas.

Sebagian dari kita merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh. Rasa keingintahuan mengenai sesuatu sudah mulai berkurang ketika selesai belajar di institusi formal. Mungkin, selama ini kita belajar hanya untuk selembar kertas bernama ijazah. Artinya, kita terlalu fokus pada nilai yang tertera pada selembar kertas itu. Padahal, itu sebatas bukti bahwa kita pernah sekolah/kuliah. Bukan menjadi bukti bahwa kita pernah berpikir. Buktinya masih banyak lulusan kampus ternama yang belum mampu berpikir seperti seorang sarjana. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa, sebagian dari kita malas belajar lagi ketika sudah lulus dari kampus. Apalagi sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Untuk apa belajar. Toh, sekarang sudah semua telah tercapai. Begitulah kira-kira pandangan sebagian orang. Seolah-olah tujuan hakiki dari menuntut ilmu adalah uang dan materi. Dampaknya, kita kurang bergairah untuk terus belajar.

Padahal, pendidikan itu tidak pernah selesai di lembaga formal. Setinggi apapun gelar yang diraih, yang namanya proses menuntut ilmu itu adalah proses seumur hidup. Orang yang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki sebenarnya adalah orang yang bodoh. Beda halnya, dengan orang yang selalu merasa bodoh dan haus ilmu, sejatinya ia adalah orang yang cerdas. Saya rasa orang cerdas adalah mereka yang selalu berusaha untuk belajar kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Artinya, mereka tidak membatasi aktivitas belajarnya hanya di lingkungan sekolah atau kampus. Mereka tidak membatasi proses belajarnya hanya kepada kepada guru/dosen. Mereka tidak membatasi kegiatan belajarnya hanya waktu jam-jam sekolah/kuliah.

Ferudun Ozdemir, dalam bukunya Allah Ada, Masalah Tiada, mengungkapkan bahwa dalam mencari ilmu, Muaz bin Jabal telah menyampaikan  mencari ilmu untuk Allah Swt adalah merupakan bentuk hormat kepada Allah Swt. Bertukar pemikiran merupakan tasbih, melakukan pembuktian dari apa yang kita renungkan merupakan sebuah peperangan demi Islam. Membagi ilmu kepada mereka yang belum tahu merupakan sedekah, sedangkan membacakan kepada orang yang sudah mengerti akan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ilmu merupakan sahabat yang menghilangkan kesulitan bagi seorang yang sendiri, sebatang kara. Ilmu merupakan kompas untuk menjelajahi jalan yang benar. Ilmu memberikan kemudahan dalam kesulitan.

Dari paparan di atas, saya rasa penting kiranya jika sistem pendidikan nasional kita dirancang agar mereka yang belajar di lembaga formal bisa terus belajar dan mengembangkan keilmuannya meskipun telah lulus sekolah/kuliah, mendorong siswa/mahasiswa  terus belajar sampai ajal menjemput. Apalagi saat ini, dalam belajar, kita tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita bisa meningkatkan keilmuan dengan cara banyak membaca di perpustakaan, diskusi dengan teman, ikut seminar, kursus, atau membaca e-paper, e-journal, yang tersedia secara gratis. Intinya, teruslah belajar. Bukan karena ijazah. Bukan karena ingin mendapatkan materi atau pangkat. Belajar untuk meraih ridha Allah. Belajar untuk memperluas cakrawala pemikiran, belajar untuk memperindah akhlak kita. Itulah yang paling utama. Percayalah, derajat kita akan terangkat kalau kita memiliki ilmu, seperti yang tercantum dalam Alquran, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al-Mujadalah ayat 11). Mumpung nafas masih di kandung badan, tetaplah bersemangat untuk belajar. Tentu saja untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

*)Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya, Penulis buku “Empat Titik Lima Dimensi”, Redaktur Kabar Madura

Komentar

News Feed