oleh

Penentuan Sembuh dari Covid-19 Tanpa Swab Ulang, Dinkes Pamekasan Cukup Terbantu

Kabarmadura.id/PAMEKASAN–Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan kebijakan baru dalam prosedur penanganan pasien terinfeksi Covid-19.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo (RSUD SMart) Pamekasan dr. Syaiful Hidayatmenjelaskan, kebijakan baru tersebut mengenai proses kesembuhan pasien terinfeksi Covid-19.

Jika sebelumnya untuk mengevaluasi kesembuhan pasien menggunakan polymerase chain reaction (PCR), maka dengan kebijakan baru itu, alat tersebutsudah tidak digunakan lagi.

“Terutama yang isolasi mandiri di rumah. Itu tidak perlu diswab, cukup diawasi saja selama isolasi itu dia bebas gejala,” ujarnya.

Bagi pasien terinfeksi Covid-19 dengan kategori orang tanpa gejala (OTG) bisa dinyatakan sembuh hanya dengan mengisolasi diri selama 10 hari tanpa harus melalui pemeriksaan swab.

Sementara bagi pasien yang memiliki gejala, maka tiga hari setelah hilangnya gejala, pasien tesebut juga dinyatakan sembuh tanpa harus melalui pemeriksaan swab. Dengan kebijakam tersebut, lanjutnya, pasien tidak perlu lagi berlama-lama di rumah sakit.

Menurut dokter spesialis paru tersebut, hal itu jauh berbeda dengan prosedur sebelumnya. Jika sebelumnya, pasien harus mendapat dua kali hasil swab negatif untuk bisa meninggalkan ruang isolasi rumah sakit, saat ini cukup isolasi 10 hari sudah dinyatakan aman dari Covid-19.

Model tersebut diklaim telah melalui penelitian yang akuntabel yang dilakukan World Health Organization (WHO), bahkan telah diterapkan lebih dulu di sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

“Itu rekomendasi WHO, jadi kementerian itu tidak sembarangan. Tentu dasarnya secara ilmiah, dan telah dilakukan penelitian,” tukasnya.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki membenarkan informasi tersebut, menurutnya, prosedur tersebut merupakan pedoman baru yang menjadi acuan bagi setiap tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dan pengawasan kepada pasien.

Dia menyebut, dengan perubahan prosedur itu, pihaknya harus lebih banyak melakukan pengawasan terhadap pasien isolasi mandiri. Kendati demikian, pihaknya tidak merasa lebih sulit dengan prosedur baru tersebut.

“Tentunya pengawasanisolasi mandiri lebih banyak. Kalau untuk kesulitan sama saja. Kalau dulu kami mengedukasi agar pasien masuk rumah sakit, sekarang edukasinya agar pasien patuh dengan isolasi mandiri,” ungkapnya. (ali/waw)

 

 

 

Komentar

News Feed