Pengadaan Alat Rapid Test Habis Rp600 Juta, Berakhir Minim Guna

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) REAKTIF: Pengadaan alat rapid test dilakukan beberapa kali dan telah memeriksa ribuan orang. Hasilnya 211 orang dinyatakan reaktif.

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Sejak awal penanganan wabah Covid-19 di Pamekasan, rapid test menjadi upaya awal untuk mengetahui seseorang terinfeksi Covid-19. Tercatat, Pamekasan memiliki pagu anggaran sebesar Rp4 miliar untuk pengadaan dan pelaksanaan kegiatan rapid test selama wabah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan dr. Nanang Suyanto merinci, hingga saat ini, pihaknya telah memiliki sebanyak 8.342 alat rapid test. Alat tersebut digunakan dalam hal pelacakan secara gratis ke seluruh puskesmas dan beberapa instansi di Kabupaten Pamekasan.

Bacaan Lainnya

Hingga saat ini, pihaknya telah melaksanakan rapid test kepada 6.615 orang di Pamekasan. Dari jumlah teresebut, sebanyak 211 orang mendapatkan hasil reaktif, sementara sisanya non reaktif. Data terakhir yaitu empat orang anggota Satpol PP yang dinyatakan reaktif.

“Tapi yang reaktif belum tentu positif. Yang non reaktif juga belum tentu negatif. Tapi ini perlu untuk screening,”

Sementara total biaya pengadaan alat rapid test,sebagaimana disampaikan Kabid SDK Dinkes Pamekasan R.M. Ramadhian P kepada Kabar Madura, Senin (19/10/2020), selama ini yaitu Rp625.750.040 dari pagu anggaran sebesar Rp4 miliar.

Di lain pihak, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan dr. Syaiful Hidayat menilai, rapid test yang pada prinsipnya hanya dilakukan unuk kebutuhan screening, tidak terlalu penting, bahkan tidak menjadi indikator dalam penegakan diagnosa Covid-19.

Sebab, untuk mengetahui seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak,harus dilakukan proses swab test. Sehingga menurutnya, percuma dilakukan rapid test, terkecuali hanya menghabiskan sisa anggaran dan alat-alat rapid yang belum terpakai.

Hal itu menurutnya berdasar pada arahan dari Kementerian Kesehatan bahwa rapid test tidak perlu lagi digunakan karena tidak menjadi diagnostic infeksi Covid-19. Melainkan untuk mengetahui diagnosa yang akurat maka harus melakukan swab test.

“Rapid itu mendeiteksi semua virus yang masuk, bukan hanya Covid. Kalalu untuk memastikan itu Covid harus lakukan swab,” tukasnya. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *