Pengaruh Pola Asuh terhadap Kemampuan Berbahasa dan Berbicara pada Anak 

Oleh: Athica Puteri Basyari*)

Anak merupakan setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun, menurut UU No 13  Tahun 2003. Lebih tepatnya anak yang dimaksud disini adalah anak usia prasekolah yakni  berusia 1-5 tahun. Usia prasekolah merupakan masa dimana anak anak belum memiliki banyak  pengetahuan seperti bersosialisasi dan mengekspresikan diri melalui Bahasa atau ungkapan oleh  karena itu seorang anak harusnya mendapatkan pengetahuan dasar dari orang orang sekitar.  Usia 1-5 tahun merupakan usia dimana anak membutuhkan bimbingan dari sosok terdekat seperti orang tua yang mampu mengedukasi seperti melatih berbicara, berjalan, membaca,  menulis, memahami emosi, mengenal lingkungan dan lain sebagainya. Peran orang terdekat  disini sangatlah penting karena dari mereka nantinya anak mendapatkan informasi. Tentunya  pemberian informasi pada anak tidak boleh sembarangan, harus disampaikan dengan baik dan  benar, karena pada dasarnya hal-hal yang nantinya disampaikan akan terekam kemudian ditiru  oleh anak. Sehingga pemilihan lingkungan tempat anak tumbuh perlu diperhatikan. 

Lingkungan merupakan suatu komponen penting dalam kehidupan, terutama pada anak  anak yang mengalami masa tumbuh dan berkembang, perlu kita ketahui bahwa yang paling  memiliki pengaruh pada pendidikan yaitu salah satunya lingkungan keluarga dan lingkungan  sekolah Di sini orang tua memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung bagi  anak dalam mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Jika orang tua tidak mampu menciptakan  lingkungan yang mendukung bagi anak maka nantinya dapat menimbulkan suatu masalah. Salah  satu contoh yaitu keterlambatan dalam pemahaman Bahasa pada anak. Dari kasus gangguan  bicara pada anak usia prasekolah terdapat 70% kasus yang ditangani oleh terapis ( Weiss, 1987)  salah satu penyebab dari kasus tersebut yaitu cara mendidik anak atau bisa disebut pola asuh. 

Pola asuh orang tua akan berdampak terhadap anak, sebab nantinya anak akan meniru apa yang  sudah orang tua berikan kepada mereka, seperti bagaimana orang tua memberikan contoh  dalam berbicara serta berperilaku terhadap mereka.  

Situasi dan pola asuh yang mendukung akan mempengaruhi aspek perkembangan  Bahasa pada anak. Pola asuh anak bisa dilihat dari cara pendekatan yang digunakan oleh orang  tua. Jika orang tua memberikan respon positif (sebagai bentuk pola asuh) ketika anak berbicara  maka anak akan memberi respon positif juga yang mana nantinya dapat melatih kemampuan  berbahasa pada anak. Karena ketika anak mendapatkan respon positif terhadap tindakan  mereka maka anak akan merasa dihargai dan perasaan dihargai itu akan membuat mereka  mampu mengeksplorasi lebih jauh lagi, hal demikian juga termasuk kedalam pola asuh anak. 

Namun sayangnya ini masih ada saja orang tua yang kurang mengerti mengenai pola  asuh utamanya pada orang tua yang keduanya memiliki profesi sebagai pekerja aktif. Karena  mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menemani anak. Kebanyakan dari mereka  memberikan gadget sebagai alat pengalih perhatian, sehingga mereka tidak perlu repot repot  mengajak bermain anak, dengan cara tersebut para orang tua pada dewasa ini menyelesaikan  masalah. Kemudahan yang disajikan di era digitalisasi ini membuat segala sesuatu nya mudah  diakses oleh semua masyarakat. Namun hal ini sering disalah artikan oleh kebanyakan orang  tua dengan membiarkan sepenuhnya anak untuk mengakses segala sesuatu nya tanpa  pengawasan. Jika dilihat justru pola asuh acuh tak acuh seperti itu akan menimbulkan masalah  yang lebih kompleks kedepannya. Berdasarkan riset yang dilakukan pada tahun 2014 oleh The  Asian Parent Insight dan Samsung Kidstime melalui Mobile Device Usage Among Young Kids menyatakan bahwa sebesar 98% dari total responden mengizinkan anaknya bermain gadget  lebih dari 1 jam. Kasus pola asuh akan berdampak pada tumbuh kembang dalam kemampuan  berbahasa pada anak contohnya.  

Kemampuan yang dimiliki seorang anak tidak hanya akan berguna bagi dirinya namun  juga akan berguna bagi bangsa. Dalam berbahasa contohnya. Anak yang memilki kemampuan  berbahasa yang baik dan benar maka akan beradaptasi dengan baik juga dengan lingkungan. 

Dari kemampuannya beradaptasi nantinya anak akan mulai mengenali lingkungannya sehingga  ia dapat berkreatifitas. Kreativitas kreatifitas yang dihasilkan akan menambah catatan prestasi  anak bangsa. Yang mana artinya pendidikan dini dari orang tua akan berpengaruh pada  bagaimana karakter bangsa nantinya berkembang. 

Dari pembahasan diatas bisa disimpulkan bahwa pengaruh pola asuh terhadap  kemampuan Bahasa anak sangat berpengaruh.Orang tua harus menjadi pihak yang paling  mempunyai hubungan bagus dengan seorang anak. Sama dengan teori dari (Upton, 2012) yang  menyatakan bahwa perkembangan Bahasa termasuk konteks social,pola asuh yang digunakan 

oleh orang tua juga sebagai salah satunya, respon serta interaksi yang diberikan orang tua  berperan penting dalam kemampuan Bahasa anak. Ketika anak mendapatkan contoh berbahasa  yang kurang baik serta lingkungan keluarga yang tidak mendukung maka kemampuan anak  dalam berbahasa nantinya juga rendah. 

Adanya kerjasama perlu dibangun untuk menciptakan lingkungan yang baik sehingga  anak merasa didukung penuh dalam setiap aksinya, dukungan itu membantu anak membangun  rasa percaya diri. Dari kepercayaan diri yang dimiliki nya nantinya dia akan berani  mengekspresikan diri nya melalui kata kata dan berbicara. Beda hal nya dengan anak yang selalu  dimarahi oleh orang tua nya karena kesalahan kesalahan yang sebenarnya wajar dilakukan oleh  anak prasekolah, anak yang terlalu sering dimarahi akan merasa tertekan dan nantinya akan  sulit untuk mengekspresikan diri sehingga juga akan berpengaruh pada kemampuan bicara nya.  Yang mana kemampuan berbicara akan berguna untuk menjalani kehidupannya kelak menjadi  generasi bangsa. Kemampuan berbahasa akan membantu dalam melahirkan generasi generasi  bangsa yang berprestasi, yakni melalui kreativitasnya dalam memahami Bahasa Indonesia,  bahkan bahas Bahasa asing lainnya dapat membantu berprestasi dalam kancah nasional  maupun internasional. 

Daftar Pustaka 

Upton, P. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. 

Weiss, R.S. (1987) Reflections on the Present State of Loneliness Research. Journal of Social  Behavior and Personality, 2, 1-16.

*) Mahasiswa Prodi Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.