Pengembangan Cagar Budaya, TACB Sumenep Terkendala Pendanaan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) PESIMIS:Tahun ini berencana ada penambahan cagar budaya namun TACB terkendala pembiayaan.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Jumlah situs bersejarah di Sumenep mencapai ratusan. Hal itu berdasarkan penelitian dan kajian dari tim ahli, sedikitnya ada sekitar 227 tempat yang ditetapkan sebagai situs bersejarah. Dari sekian situs bersejarah tersebut, tahun ini ditargetkan ada 10 situs yang akan dijadikan cagar budaya.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Wilayah Sumenep Tadjul Arifien R menyampaikan, untuk memenuhi 10 target tambahan cagar budaya masih mengalami kendala. Salah satunya yang paling dominan terkait pembiayaan.

“Kalau saya meyakini tahun ini tidak bakal ada tambahan, yang tahun 2020 saja kami biaya sendiri dana pribadi, tidak ada dari Disparbudpora,” kata dia, Selasa (13/7/2020).

Dikatakannya, dari target calon cagar budaya yang dijadikan prioritas adalah Batu Ghung Sapudi yang bertempat di Kecamatan Gayam. Namun dalam mewujudkan hal itu sifatnya kondisional. Sebab, selain butuh proses juga harus menyesuaikan dengan anggaran.

“Tetapi jika tidak ada biayanya ya kami tidak bisa bekerja, apalagi pada masa seperti saat ini, harus dipahami juga,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Robi Firmansyah menyampaikan, tahun ini memang dianggarkan lagi untuk 10 cagar budaya. Namun yang menjadi persoalan terkait anggaran yang terbatas.

Dikatakannya, tahun ini dana untuk proses pengkajian cagar budaya hanya sekitar Rp75 juta. Anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumenep tahun 2021 tersebut juga dikhususkan untuk menggaji tim ahli.

“Kecil memang anggaranya, apalagi sebagian untuk perawatan cagar budaya yang sudah ditetapkan,” paparnya.

Dia menyebutkan sudah ada beberapa tempat yang mendapatkan surat keputusan (SK) dari bupati, di antaranya Komplek Keraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep, dan Benteng Kalimo’ok Kalianget.

Sementara sisanya sudah ditetapkan tahun 2020 ini, yaitu Asta Pangeran Lor dan Wetan, Asta Panembahan Blingi Sapudi, dan Kawasan Kota Tua Kalianget. (ara/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *