oleh

Penghulu di Sumenep Tak Ideal

Kabarmadura.id/Sumenep-Jumlah penghulu di bawah naungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep, tidak ideal. Dari 27 Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada, penambahan  penghulu hanya dilakukan di delapan kecamatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi (Kasi) Bimas Islam Kemenag Sumenep Moh. Anif mengatakan, ada 19 KUA yang tidak memiliki penghulu. Sehingga, ketika ada pernikahan harus kepala KUA yang turun sendiri.

“Kepala KUA sudah termasuk penghulu. Namun, misalnya ada prnambahan penghulu maka akan lebih baik,” katanya, Senin (07/09/2020).

Dijelaskannya, kekosongan penghulu terjadi karena tidak ada penghulu yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Sementara Peraturan Menteri Agama Nomor 19 Tahun 2019 tentang Pencatatan Perkawinan mengatur terkait penghulu yang diberikan tugas tambahan selaku kepala KUA.

Pihaknya mengaku, saat ini sudah mulai mengajukan penambahan penghulu ASN sebanyak 19 orang. Sehingga, ketika ada pernikahan dalam waktu bersamaan, maka akan mempermudah dalam menjalankan proses akad nikah.

Diungkapkannya, salah satu solusi yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan penghulu saat ini, ketika hendak melakukan akad nikah dalam waktu bersamaan, pihaknya menunjuk mudin di desa.

“Saat ini masih proses pengajuan penghulu yang dari ASN,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala KUA Kota Sumenep Moh. Afif. Menurut dia, dari jumlah penghulu yang ada masih terbilang kurang, dikarenakan hanya terdapat satu untuk setiap kecamatan. Terlebih di KUA kota yang banyak melakukan pernikahan yang sangat padat dan sering bersamaan. Sehingga, dapat menghambat proses akad nikah.

“Solusi kami terkadang memerintahkan petugas di KUA kota, kadang memanggil KUA luar kota untuk dibantu,” ujar dia.

Dia melanjutkan, dalam menyikapi permasalahn tersebut, dirinya berharap pemerintah pusat bisa menambah tenaga penghulu agar kinerja dapat lebih mudah dan dapat berjalan sesuai kaidahnya.

Pasalnya dengan cakupan daerah setempat tentunya tidak dapat dilakukan secara baik, dan keperluan tenaga penghulu sangatlah mendesak.

“Hal ini sudah pasti menyulitkan, namun harus tetap terjadi, dimana fungsi dan tugas menjadi permasalahan utama,” pungkasnya. (imd/pin)

Komentar

News Feed