Pengikisan Tepi Pantai Ancam Rumah Warga

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BERESIKO: Pengikisan air laut di sejumlah daerah pesisir di Bangkalan harus segera teratasi.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Pengadaan tangkis laut untuk mengantisipasi perluasan abrasi, harus segera diseriusi. Sebab setiap tahun kurang lebih 100 meter pesisir pantai di Bangkalan terkikis. Akibatnya, rumah warga terancam terkikis abrasi air laut. Kondisi ini  terjadi di daerah Tanjungbumi dan Sepuluh.

Meski sudah  melakukan beberapa langkah penghambatan, nihil hasil yang maksimal. Bahkan pengikisan air laut di  Tanjungbumi merupakan daerah yang paling parah. Sebab setiap  tahun, ada 100 meter daratan  terkikis air laut. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Bangkalan Mohammad Zaini, Kamis (11/11/2021).

Menurutnya, sudah berkoordinasi dengan bupati mengenai ancaman abrasi laut ke pemukiman warga. Namun, hingga saat ini belum ada tindaklanjut mengenai hasil koordinasi tersebut. Bahkan beberapa langkah pencegahan sudah dilakukan oleh aparatur desa. Seperti pembangunan pemecah ombak dan bendungan pasir.

Hanya saja, tidak bisa efektif lantaran terbatas kemampuan dana. Selain itu, instansinya juga sudah mengajukan usulan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun belum ada hasil. Sebab dana yang dibutuhkan untuk membangun tangkis laut mencapai Rp5 miliar.

“Desa sudah berupaya menggunakan dana desa (DD) dan juga Corporate Social Responsibility  (CSR), tapi anggarannya tidak mampu. Sedangkan pengajuan kami ke kementerian gagal dan belum ada solusi,”

Pihaknya menegaskan, penanaman mangrove yang biasanya menjadi solusi untuk penanganan abrasi sepertinya juga tidak bisa dilakukan. Sebab selain butuh waktu yang lama, lahan yang akan ditanami sangat terbatas. “Tidak bisa ditanami mangrove, karena sudah parah,” tegasnya.

Salah satu warga Desa Tlangoh Hoiri mengaku gelisah, lantaran posisi pantai yang dulu berjarak 1 kilometer lebih dari rumahnya, kini semakin dekat. Menurutnya, jika dibiarkan akan memakan rumah penduduk dengan rentan waktu 2 hingga 4  tahun kedepan. Bahkan kawasan tepi pantai akan habis.

“Warga dan kades sudah mencoba berbagai solusi, tapi tidak bisa. Kami butuh solusi, untuk menyelamatkan lingkungan kami,” harapnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *