Pengusaha dan Warga Baduy

  • Whatsapp

Oleh: Muakhor Zakaria

Sokib Kusen, seorang pengusaha kaya-raya asal Kota Serang, mendengar kabar bahwa orang-orang Baduy di wilayah Banten Selatan tidak mengerti apa-apa tentang harga tanah. Kali ini, ia ingin mencoba peruntungannya di wilayah itu. Setelah memarkir kendaraannya di perbatasan, ia berjalan kaki selama satu hari satu malam memasuki daerah Baduy Dalam.

Bacaan Lainnya

Sesampainya di perkampungan Baduy Dalam, ia memastikan perihal kabar tersebut lalu bertanya kepada sang Puun (kepala suku) berperawakan sedang, warna kulit sawo matang dengan ikat kepala khas suku Baduy. Ia bisa bicara bahasa Indonesia, meskipun tidak menguasai istilah tertentu yang berhubungan dengan kehidupan manusia modern.

Kabar mengenai harga tanah tersebut, kepala suku menawarkan pada Sokib, “Silakan… silakan saja… harganya sekitar 10 juta.”

“Seberapa luas?” tanya Sokib.

“Soal luasnya bisa diatur, tidak ada batasnya. Tinggal pilih salah satu patok yang sudah ditancapkan lalu dipersilakan memberi tanda dengan bambu runcing, sedangkan utusan saya mengikuti Pak Sokib agar mereka menjadi saksi bahwa batas-batas yang dimiliki Bapak menjadi jelas, bukan begitu?”

Maka, tercapailah kesepakatan bersama. Luas tanah itu harus dapat dikelilingi Sokib dalam tempo satu hari. Mulai matahari terbit hingga matahari terbenam. Sebelum memulai memberi tanda dan batas, kepala suku memperingatkan sesuai perjanjian, “Pak Sokib harus sampai kembali di bukit ini. Kalau tidak, uang dan tanahnya akan hilang dan hangus.”

Pengusaha kaya itu setuju. Ia membayangkan ratusan tanah di wilayah Banten Selatan akan dikuasainya. Setelah beberapa bulan lalu ia berobat ke rumah sakit karena penyakit radang paru-paru, kini ia bertekad bangkit lagi untuk terjun ke kancah politik, meskipun usianya sudah menginjak 60 tahun lebih.

Dengan luas tanah yang akan dimiliki ia tersenyum merekah, seraya berangkat di pagi hari itu untuk menandai batasan tanah yang disebut sebagai “hak miliknya”. Ia dilepas oleh puluhan sesepuh warga Baduy, serta dihadiri oleh sang kepala suku (Puun). Mereka bertepuk-tangan saat Sokib berangkat, diikuti oleh utusan-utusan Puun sambil membawa patok-patok bambu. Sebelumnya, telah ia persiapkan sebuah tumpeng raksasa yang nantinya akan dibagi-bagikan kepada seluruh warga Baduy yang turut-serta mengikuti perhelatan akbar itu.

Udara pagi itu sangat dingin. Sokib yang semalam tidur nyenyak bergerak cepat. Ia tidak berhenti sampai jarak yang ditempuhnya mencapai lima kilometer lebih. Di setengah perjalanan matahari semakin meninggi, hingga ia pun merasa gerah dan kepanasan. Diminumnya air persedian yang disimpan dalam tas ranselnya, kemudian ia meneruskan perjalanan.

Sekitar pukul 13.30 ia berkehendak mencukupkan perjalanannya. Ia ingin pulang, di samping karena kelelahan tetapi juga menyadari batas usianya yang sudah tergolong lansia. Sempat kepikiran bahwa ia akan kembali pulang, tapi kemudian ia bertekad melangkah mengitari tanah yang akan menjadi hak miliknya. Tak berapa lama, ia menemukan tanah subur dengan hamparan rumput hijau dikelilingi sungai kecil yang airnya jernih. Dalam keletihannya ia masih bisa tersenyum, karena merasa yakin wilayah itu akan dikuasainya. Ada pula lembah-lembah subur yang diimpikannya akan strategis untuk menjadi tempat wisata sambil ditanami segala jenis buah-buahan.

Pada suatu tempat, saat terik matahari kian menyengat juga persediaan air menipis, ia ingin kembali dan tak sanggup melanjutkan perjalanannya. Tapi konsekuensinya, ia akan memiliki tanah bukan dalam bentuk melingkar, dan sebagian dari puluhan hektar tanah subur yang dikelilingi sungai tadi, akan lepas dari kepemilikannya.

“Tidak!” tekadnya dalam hati, “Pokoknya semua itu harus menjadi milik saya pribadi! Supaya orang-orang tahu siapa saya ini sebenarnya, terutama lawan-lawan bisnis dan politik saya di Provinsi Banten…”

Akhirnya, ia bertekad untuk terus melangkah, meski jalanan dalam bentuk lembah dan bukit sangat sulit untuk didaki dan dijelajahinya. Nafasnya kian terengah-engah. Ia merasa tak kuat lagi menggali lubang untuk memberi tanda patok. Jantungnya berdegup kencang. Mulut dan tenggorokannya kering, tulang-belulangnya merasa lelah dan sakit.

Namun, ia tak berani istirahat, karena matahari kian menggelincir di ufuk barat. Dikerahkan seluruh tenaganya untuk terus bekerja dan membuat lubang. Dari kejauhan mulai nampak kerumunan warga Baduy berkumpul di sebuah bukit. Mereka bersorak-sorak gembira, dan terus memberi semangat.  Namun, matahari telah merendah dan merendah. Dikumpulkannya seluruh tenaga yang tersisa. Berlari sejauh ratusan meter, kemudian jatuh tersungkur. Lalu, ia bangkit lagi dan jatuh lagi.

Ia telah memakai semua sisa tenaganya. Terpikir olehnya seandainya ia tidak mengambil jalan melingkar, lalu memotong pulang saat di padang rerumputan tadi, barangkali ia akan berhasil. Tetapi kini, ia terdiam dalam waktu lama. Merasa uang dan tanahnya telah hilang dan hangus.

“Ayo, Pak Sokib… teruskan perjalanan… lanjutkan… sebentar lagi sampai…!”

Dari jarak beberapa ratus meter terdengar teriakan warga Baduy itu memberinya semangat.  Tetapi apa mau dikata (pikirnya). Peluh telah membutakan matanya. Hari mulai gelap. Ia terjatuh dan tersungkur lagi. Merangkak ke depan dengan susah payah. Warga Baduy hanya tinggal beberapa puluh meter. Ia dapat mendengar teriakan mereka. Juga sudah melihat wajah-wajah mereka.

“Ayo, teruskan perjalanan, Pak Sokib… sedikit lagi…!”

Matahari telah terbenam. Ia sudah terlambat dan merasa kalah. Tapi, kenapa warga Baduy itu masih saja berteriak-teriak memberikan dukungan kepadanya. Tak berapa lama, ia menyadari posisinya yang berada di dataran rendah, sementara warga Baduy yang bersorak-sorai itu berada di atas bukit. Berarti mereka masih bisa menyaksikan matahari.

Sokib merasa yakin masih ada kesempatan. Waktu belum habis. Ia berlari sekencang-kencangnya, terengah-engah, kemudian nafasnya tersengal-sengal. Lalu, ia pun jatuh dan tersungkur di tengah kerumunan warga Baduy dalam posisi tengkurap mencium tanah yang menjadi hak miliknya.

Beberapa wartawan dipersilakan mengabadikan peristiwa bersejarah itu. Sejak semalam mereka menginap di pemukiman Baduy, meskipun mereka tetap menjaga lingkungan sebagai prasyarat untuk tinggal di tengah hunian warga Baduy. Kepala suku dan para sesepuh Baduy bertepuk-tangan menyambut kedatangan Sokib. “Hebat sekali! Luar biasa… saya tak menduga Bapak Tubagus Sokib Kusen begitu kuat dan tangguh… sekarang beliau berhak atas tanah-tanah yang dimilikinya!” ujar kepala suku.

Tetapi, apa yang terjadi kemudian?

Ternyata, pengusaha kaya-raya itu masih dalam posisi semula. Ia masih tengkurap dan tidak memberikan reaksi apa-apa. Dua orang warga menengadahkan tubuhnya. Matanya terbuka dan mulutnya menganga. Ia telah mati. Warga Baduy terdiam sambil duduk bersila sebagai ungkapan rasa duka cita. Tak berapa lama, kepala suku memerintahkan empat orang untuk menggali lubang di sekitar bukit itu.

Mereka menggali kuburan Sokib seukuran 2×1 meter. Ya, bukankah hanya segitu luas tanah yang dibutuhkan untuk seorang manusia?

“Lalu, mengenai tumpengnya bagaimana, Puun?” celetuk seorang wartawan.

“Tumpeng raksasa itu akan tetap kita bagikan untuk seluruh warga Baduy, baik yang mengikuti acara ini atau tidak. Karena pada dasarnya mereka semua telah berjasa dalam merawat lingkungan, serta menjaga diri dari segala keserakahan dan ketamakan….” (*)

 

*)Cerpenis dan kritikus sastra, menjadi dosen di perguruan tinggi La Tansa, Rangkasbitung, Banten Selatan.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *