oleh

Pentas Study Generasi Teater Fataria Bersama Komunitas Kesenian Luar Kota

Naskah Besar dengan Garapan Mapan

Para penikmat kesenian di Madura pada hari Kamis-Sabtu (3/19) kemarin, telah disuguhkan pertunjukan yang mengasah ketajaman pikiran, yakni pentas  study generasi XXVII yang berlangsung di Auditorium IAIN Madura Tlanakan, Kabupaten Pamekasan.

Kegiatan yang diusung oleh Teater Fataria ini mengangkat tema “Kesenian yang Mahakarya,” dengan tujuan menciptakan karya seni yang berkualitas.

Acara Pentas Study Teater Fataria ini menyuguhkan pertunjukan yang menarik bagi setiap indra yang menyelami,  apalagi berbagai komunitas teater luar Madura juga menjadi penyaji dalam acara tersebut. Jelas, dengan adanya acara  pertunjukan teater malam itu, menjadi wadah diskusi untuk mencari pencerahan, sarana hiburan bagi banyak kalangan, dan menjadi ruang apresiatif.

Pada hari pertama, penonton dipukau oleh naskah “Cipoa,” karya Putu Wijaya dengan Sutradara Djarot, dari Teater Fataria. Selanjutnya penampilan dari HIMATIS ISI Surakarta dengan naskah “Setan dalam Bahaya” karya Taufik Al Hakim yang disutradarai oleh Bondan Pattateru.

Berlanjut ke pementasan hari kedua mengangkat naskah yang berjudul “Philophobia”, Hady Francesca, penulis naskah sekaligus sutradara dari Teater Fataria.

 Naskah “Philophobia” ini menceritakan tentang orang yang phobia dengan cinta. Sutradara mengemas pementasan tersebut dengan simbol-simbol. Tentunya dengan aktor yang mapan. Salah satu adegan yang memukau, ketika wanita ekspresif muncul dengan menciumi patung, dengan dukungan musik yang membius penonton. Pementasan ini mampu membuat penonton masuk dalam alur hingga akhir adegan, emosi penonton benar-benar terjaga. Hal itu berkat kemampuan ritme aktor di atas panggung yang memukau.

Selanjutnya, pementasan kedua di hari kedua, dipersembahkan Teater Pelangi UM Malang, dengan naskah “Bukan untuk Umum” karangan Agus Fauzi, yang disutradarai oleh Ananda Bebek. Dengan kemampuannya yang khas, sutradara berhasil membagun ruang panggung menjadi sangat ideal dengan kecantikan artistik dan kematangan aktor.

Selanjutnya, di hari terakhir, Teater Fataria membuka dengan persembahan “Tari Ghelleng Sokoh” dengan kreator Ani Masyita.

Pementasan pamungkas dari Teater Api Indonesia dengan naskah “DOR” Putu Wijaya. Sutradara Luhur Kayungga mengemas naskah Putu Wijaya ini sama sekali berbeda dengan penggarapan naskah DOR di tangan sutradara lain. Luhur Kayungga memuat simbol-simbol dan tubuh aktor untuk menyampaikan isu yang diangkat, yaitu tentang keadilan. Bahkan sutradara menghadirkan tawaran-tawaran dan teroran mental bagi penonton usai melihat pertunjukan tersebut.

“Teater Api Indonesia itu pertunjukannya lebih sering mengangkat isu-isu sosial yang sedang hits saat ini, terutama membahas isu-isu keadilan. Tentunya sangat padat terror-teror yang diberikan” ujar Fiki selaku ketua pelaksana Pentas Study, Sabtu (09/3/19)

Saya selah satu penonton malam itu, terpukau terlebih seperti mendapat vitamin untuk  berkarya dengan lebih bijak. Pastinya lebih peka terhadap kesadaran berkesenian yang tinggi, mengenali potensi seni yang terdalam pada diri sendiri dan bisa mengimbangi zaman melalui karya.

Pict: Fatwa A R

Penulis: Fatwa A R
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas
Trunojoyo Madura
Aktif di UKM-F Teater Sabit

 

Komentar

News Feed