Penulis dan Pemain Bulutangkis 

Opini76 views

Oleh: Mu’min Roup*)                                                                                                   

Di kampung saya ada balai desa yang dilengkapi taman dan lapangan bulutangkis. Bangunan taman didirikan beberapa tahun lalu, tetapi lapangan bulutangkis yang lebih dulu ada di situ, konon sudah didirikan sejak empatpuluh tahun yang lalu. Itu artinya, pengabdian lapangan bulutangkis itu untuk digunakan masyarakat bermain badminton, sudah mencapai empat dasawarsa sejak saya menduduki bangku kelas 5 SD.

Yang menjadi persoalan, mengapa hingga hari ini, belum ada satu orang pun dari masyarakat desa kami yang menjadi pemain besar yang ternama, minimal juara provinsi. Mereka tetap saja jadi pemain kelas kampung, meskipun jam latihan mereka sudah melebihi 10 ribu jam dalam bermain bulutangkis setiap harinya.

Konon menurut para juara, seorang calon pemenang harus berlatih terus-menerus serta memiliki tujuan yang spesifik. Para juara tenis meja, tidak sekadar memainkan bola pingpong di atas meja. Dia memegang bet yang benar, berlatih mengayunkan dan menepuk bola dengan baik, dari tepukan servis, backhand hingga smash. Dia menempatkan diri dalam posisi kaki yang benar, keseimbangan tubuh dan gerakan tangan. Bahkan berlatih untuk memberi perhatian khusus pada kekurangan dan kelemahan yang dimiliki, untuk terus memacu kemampuannya mengoreksi kelemahan tersebut.

Di sisi lain, kebanyakan para juara tentu memiliki seorang pelatih yang terus mengarahkan peningkatan kemampuan dirinya dalam berlatih. Ia mencatat poin-poin terpenting, memberi masukan agar sang pemain memahami aspek-aspek spesifik hingga semakin lincah dan mahir. Terus menggenjot aspek tertentu yang masih belum dikuasai secara optimal, agar semakin ditingkatkandan dipertajam kualitasnya.

Demikian halnya dengan dunia literasi dan tulis-menulis. Meskipun ratusan dan ribuan artikel maupun karya sastra diproduksi tiap hari oleh anak bangsa ini. Tapi, selalu saja kita jumpai tulisan-tulisan dangkal, kopong karakter, karena sang penulis tak mampu merangkai kata dan kalimat yang menukik tajam, punya kepekaan dan kepedulian yang mumpuni. Apakah sang penulis malas dan jarang menghasilkan karya? Tentu saja dia menulis setiap hari, apalagi mereka yang berstatus sebagai jurnalis, wartawan maupun sastrawan.

Penulis seperti itu, kurang-lebih sama dengan pemain pingpong atau bulutangkis di kampung saya tadi. Padahal, mereka turun lapangan setiap hari, bahkan bermain bulutangkis sejak umur SD dan TK. Tapi, ya… hanya sebatas bermain bulutangkis. Itu saja. Bagi penulis kampung yang mengasah pikirannya, mereka juga seringkali berdebat dan berdialog dengan teman-teman sekampungnya di gardu ronda. Bahkan, tidak jarang yang berdebat sengit, saling beradu argumen tentang pemihakan politik yang semakin mempertajam ranah  kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.

Seorang penulis yang baik akan sanggup menyerap realitas kehidupan sehari-hari di tengah masyarakatnya, mengambil jarak dari keriuhan dan kegaduhan mereka, untuk dituangkan ke dalam kanvas kehidupan yang kongkret di atas kertas. Ia mampu mentransformasikan ide dan gagasannya, yang boleh jadi penulisnya berada di tengah keriuhan masyarakat perkampungan, tapi pikirannya sudah melanglang buana dan mengatas indera. Pandangannya berada di atas satelit, memantau kehidupan para tokohnya, tanpa pernah terkecoh untuk masuk kembali ke ranah pikiran kelas kampung maupun DNA kaum inlander yang termarjinalkan.

Baca Juga:  Tafsir Politik Pergantian Kapolres Pamekasan

Pada prinsipnya, menulis yang baik kurang lebih sama dengan melukis dengan kata dan kalimat yang indah. Ia memilih kata dan menuangkan gagasan brillian ke dalam kertas (atau layar komputer), untuk tujuan memperlihatkan lukisan-lukisan kalimatnya kepada pembaca yang segmen pasarnya tak peduli orang kampung, orang metropolitan maupun warga kelas dunia.Boleh saja dia ikut ngeriung atau tahlilan bersama warga kampungnya. Boleh saja dia mengamati setiap mazhab atau aliran tarekat di kampunynya, baik Tijaniyah, Naqsyabandiyah, Syiah, Wahabiyah, Ahmadiyah dan seterusnya. Tanpa harus menjerumuskan diri menjadi penganut yang fanatik dari suatu mazhab dan aliran agama tertentu.

Terkait dengan ini, saya teringat petuah sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pada acara peluncuran buku 100 Tahun Bung Karno di gedung kesenian Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001). Setelah menerbitkan novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa oleh penerbit Hasta Mitra, Pramoedya mengakui bahwa beberapa karya yang pernah ditulisnya sewaktu muda adalah “karya sampah”. Ia tidak menyebutkan buku yang manakah yang disebutnya sebagai karya sampah. Mungkin yang dia maksudkan, ada beberapa karyanya yang sudah tidak relevan lagi sebagai bacaan anak-anak muda masakini.

Di antara penulis-penulis yang mengagumi pemikiran politik Bung Karno dalam buku 100 Tahun Bung Karno tersebut, terdapat karya Noam Chomsky, Peter Dale Scott, Ben Anderson, Hafis Azhari, Fransisca Fanggidaej. Pramoedya tidak ketinggalan menampilkan karyanya yang brillian, dalam sebuah esai berjudul: “Semua Lawan Bung Karno SekarangTerseret ke Meja Mahkamah Sejarah”.

Kalau saja para pelukis besar Indonesia sanggup melatih diri dalam aspek-aspek spesifik untuk menjadi pelukis kelas dunia, mestinya para penulis juga memfokuskan diri dalam aspek-aspek tertentu, hingga mereka memahami kelebihan dan kekurangannya di dunia tulis-menulis. Pada titik tertentu, mereka akan berani bersikap legowo seperti halnya Pramoedya yang tidak perlu ragu melemparkan karya-karya masa lalunya ke keranjang sampah, daripada tetap ngotot agar karyanya diterbitkan meskipun sudah tidak ada relevansinya untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak-anak muda zaman now.

Coba bandingkan dengan pemain pingpong, pemain bulutangkis di kampung saya, atau pemain catur yang nongkrong tiap malam di gardu ronda. Apa bedanya penulis macam itu, dengan para pengamen jalanan yang rajin bermain gitar setiap hari, tanpa pernah mau memahami aspek-aspek spesifik untuk mengasah otaknya agar menjadi gitaris atau musisi andal. Apa bedanya dengan kakek-kakek ompong yang berjalan kaki tiap pagi, tanpa pernah menjadi atlet pejalan kaki. Padahal, sudah lebih dari 70 tahun dia rajin berjalan kaki. Atau, apa bedanya dengan para petani yang rajin menanam padi sepanjang tahun, tanpa pernah berpikir untuk mengembangkan kemampuan dirinya sebagai petani yang berhasil menemukan teori dan sistem penanaman padi yang berkualitas, dengan kandungan butir padi yang melimpah pada setiap batangnya. Hingga bangsa yang hidup di negeri subur makmur loh jinawi ini, tidak serta-merta menjadi pengimpor yang setia dari negeri-negeri Cina dan Vietnam yang katanya komunis itu.

Baca Juga:  Cerita Malam; Siapa Penceramah yang Ditolak dan Diterima?

Yang menjadi masalah serius, mengapa negeri dengan penduduk 270 juta jiwa ini, nyaris belum ada penulis hebat sekelas dunia. Di antara mereka memang ada yang sedang mengembangkan bakatnya, tapi kemudian ikut tergoda dan terjerumus menanggapi keriuhan dan kegaduhan politik kelas kampung dengan DNA kaum inlender yang menjadi penganut fanatik yang setia pada mazhab maupun partainya. Ada juga beberapa penulis muda yang menerbitkan beberapa karya sastra, namun kemudian mudah terpancing hanya menjadi pengamat dan kritikus sastra, sibuk mencari-cari kelemahan dari karya kawan seangkatannya.

Bahkan ada penulis yang mengaku-ngaku “senior” tapi sibuk menjegal para penulis muda yang akan tampil seakan-akan dianggap rival yang membahayakan. Bagaikan lawan politik yang akan merebut dan merampas kursi kekuasaan. Konon, mereka khawatir dapurnya tidak lagi ngebul, lantaran munculnya pendatang-pendatang baru. Mengapa juga dia tidak bisnis membuka warung makan saja, biar jelas-jelas dapurnya bisa ngebul sepanjang hari?

Barangkali inilah yang diprediksi sastrawan Y.B. Mangunwijaya, bahwa sejak kekisruhan politik tahun 1965, bangsa ini gampang terjebak kepada arus phobia yang mengedepankan politik kekuasaan, hingga ke politik oligarki penerbitan buku. Mereka terlena menuruti alam bawah sadar(hawa nafsunya), tanpa punya kesanggupan untuk berkaca-diri, tanpa punya kemampuan mengidentifikasi diri, tanpa mau memahami siapakah hakikat diri yang sebenarnya. Mereka tak sanggup mengidentifikasi aspek-aspek spesifik untuk memiliki kecakapan menulis, hingga kekuatan kata dan kalimat yang bisa menghujam ke dalam kalbu dan sanubari pembacanya.

Memang tidak mudah mencari bibit-bibit baru di dunia kesusastraan kita, yang mampu menciptakan metafora dan dialog-dialog yang mengandung harmonium, serta ketajaman pilihan diksi yang tak lekang dimakan waktu, tak lapuk ditelan zaman.Barangkali setiap penulis yang baik akan selalu terbuka menerima masukan atau menanggapi pertanyaan, khususnya tentang proses kreatifnya hingga sanggup membangun kekuatan metafora, dialog-dialog para tokoh yang cemerlang, sampai-sampai karyanya memang pantas menjadi perbincangan publik dari waktu ke waktu. Semakin lama, justru semakin banyak dipahami esensi dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Dengan membaca dan menikmati karya sastra semacam itu, niscaya suatu bangsa dapat mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan, menuju proses kedewasaan dan pematangan diri sebagai bagian dari warga dunia yang berbudaya dan berperadaban tinggi. ***

*) Dosen pada Fakultas Hukum dan Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *