oleh

Peran Besar Sutan Sjahrir

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*

Perawakannya kecil, tenang pembawaannya, tajam pikirannya, siapa lagi kalau bukan Sutan Sjahrir. Dia salah satu dari tujuh “Bapak Revolusi Indonesia” yang mendesak Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan walau dia sendiri absen dari peristiwa besar tersebut. Sosok yang satu ini merupakan intelektual yang melampui zaman. Ide –idenya mengenai kemanusiaan, kebangsaan, dan demokrasi bisa dikatakan cukup brilian. Walaupun sebagian orang menganggap Sjahrir sebagai sosok yang elitis, tapi tak sedikit pula yang mengakui kontribusi dan pengabdiannya melawan kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme saat itu. Strategi dan taktik politiknya kadang sulit diterka lawan maupun kawannya sendiri. Dia cukup lihai memainkan perannya sebagai pejuang.

Lelaki kelahiran 5 Maret 1909 itu ternyata memang menyimpan banyak kisah di masa remajanya. Ketika menimba ilmu di Europeesche Lagree School (ELS) atau sekolah rendah Eropa, tanda-tanda bakal menjadi seorang intelektual mulai terlihat. Dia membaca banyak ratusan buku cerita berbahasa Belanda di Bibliotheek, perpustakaan untuk bangsa Hindia. Tidak hanya itu, dia juga suka main bola, doyan diskusi, main biola, dan gemar berorganisasi. Dia juga sosok yang pandai bergaul, pemberani, dan bahkan mahir mendebat gurunya. Tak heran jika di kemudian hari, dia tumbuh sebagai pribadi yang gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Menurut Des Alwi, anak angkatnya, nasionalisme Sjahrir tumbuh pertama kali tatkala mendengar pidato dr. Tjipto Mangunkusumo di alun-alun Bandung. Pidato Cipto telah membakar spirit kebangsaan Sjahrir. Tak lama kemudian, Sjahrir memilih untuk aktif di dunia politik dan pergerakan. Bahkan, dia juga ikut membentuk perhimpunan “Jong Indonesie” dan majalah perhimpunan. Akibatnya, Sjahrir dimata-matai polisi. Dari usia remaja, Sjahrir memang dikenal sebagai sosok pemberani, kritis, dan suka memberontak. Terutama jika melihat hal-hal yang mengusik nuraninya, dia segera bergerak.

Tidak hanya itu, dalam melawan penjajahan, Sjahrir juga piawai memanfaatkan dunia sandiwara. Saat itu, dia mendirikan perkumpulan sandiwara bernama “Batovis”, yang mana Sjahrir sendiri berperan sebagai penulis naskah, sutradara, dan sesekali menjadi pemain. Melalui dunia seni itulah Sjahrir melakukan perlawanan kepada penjajah. Dia kerap kali menyisipkan ide-ide kebangsaan dan kritikan kepada penjajah. Saya rasa dia sosok yang multitalenta, mampu bergerak hampir di semua bidang. Contoh lainnya, dia mendirikan Tjahja Volsuniversiteit atau Tjahja Sekolah Rakyat, yang bertujuan untuk memberikan pendidikan gratis untuk kalangan jelata. Dia dan kawan-kawannya juga mendirikan kelompok studi Patriae Scientaeque, ajang diskusi politik. Melalui kelompok studi itulah kemampuan logika dan retorikanya semakin terasah. Kebiasaan membaca dan berdiskusi itu terus berlanjut ketika studi di Belanda. Bersama kawan-kawannya di Negeri Kincir Angin, dia sering berdiskusi soal politik dan mengupas pemikiran para filsuf sosialis.

Belum sempat menamatkan studinya di Belanda, Bung Kecil (sebutan Sutan Sjahrir) kembali ke  Tanah Air untuk turut serta berjuang melawan penjajahan. Bersama Bung Hatta dan kawan-kawan lainnya, dia mendirikan Partai Pendidikan Nasional Indonesia untuk melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh pergerakan yang dibui oleh pihak penjajah. Di partai inilah Sjahrir semakin gencar melawan imprealis. Dia membentuk kader-kader militan yang siap berjuang untuk  Tanah Airnya. Dia juga konsisten membangkitkan semangat patriotisme di kalangan pemuda. Namun hal itu tak berlangsung lama, gara-gara aktivitas politiknya yang semakin radikal dan massif, Bung Kecil dimasukkan ke penjara Cipinang. Tapi sayang, penjara tidak mampu memadamkan api nasionalisme yang telah berkobar dalam jiwa Sjahrir. Hanya fisiknya yang mendekam dalam tahanan, namun pikiran dan jiwanya tetap merdeka. Selain itu, dia juga tidak kehilangan semangat dalam menuliskan  segala sesuatu yang terlintas dalam pikirannya.

Setelah sembilan bulan berada di Cipinang, dia dipindahkan ke Boven Digul, Papua. Pihak penjajah sengaja menjauhkannya dari aktivitas-aktivitas politik. Tak sampai di situ, pada tahun 1936 Sjahrir kembali dibuang ke tempat lainnya, yaitu di Banda Neira, sebuah kepulauan di Maluku. Di sinilah Sjahrir cuku lama tinggal, sekitar enam tahunan. Di Banda Neira, Sjahrir mengajarkan bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan tata buku kepada anak-anak Banda.

Selanjutnya, ketika Jepang masuk, Sjahrir tetap seperti sedia kala. Dia masih memegang erat idealismenya. Dia tetap Sjahrir yang dulu, di mana hati dan pikirannya ditujukan untuk kepentingan nusa dan bangsa. Saat Jepang menduduki bangsa ini, Sjahrir berbagi peran dengan Sukarno-Hatta untuk meraih kemerdekaan. Sukarno dan Hatta akan bekerja sama dengan Jepang, sementara Sjahrir menyusun perlawanan di bawah tanah. Saya rasa ini strategi dan taktik politik yang cukup ampuh untuk mengusir Jepang. Karena dengan begitu, Jepang akan kesulitan membaca arah perlawanan para pejuang.

Ketika Indonesia merdeka, Sjahrir ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Dia pun mulai mengambil jalan diplomasi untuk membangun Indonesia. Karena pada saat itu, penjajah Belanda masih berambisi untuk menguasai Indonesia. Bung Kecil juga mulai aktif memperkenalkan Indonesia di forum-forum internasional, seperti Konferensi Asia di New Delhi pada 1946. Dia memberikan bantuan kemanusiaan beras kepada India. Dia berkawan dan mempererat ikatan persaudaraan dengan India melalui diplomasi beras. Dia juga melakukan lawatan ke Mesir, Suriah, Iran, Burma, dan Singapura untuk menguatkan posisi Indonesia di mata internasional. Terbukti, hal tersebut cukup ampuh dalam menarik simpati publik internasional pada Indonesia. Bahkan, dia juga pernah tampil di Lake Succes (markas Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk menggalang dukungan internasional. Selain itu, masih banyak potret hidup Sjahrir yang belum bisa saya paparkan semuanya.

Catatan ini mungkin saya batasi sampai di sini dulu. Rasa-rasanya, tidak cukup catatan ini mengungkapkan semua sisi tentang Sjahrir. Dari uraian di atas, setidaknya kita bisa sedikit mengenal Sjahrir. Harapannya, kita bisa memahami betapa berat perjuangan pahlawan di masa silam, salah satunya perjuangan Sutan Sjahrir. Perannya sangat besar untuk republik ini. Dia rela dipenjara dan dibuang hanya untuk cita-cita mulia: meraih kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, setelah Indonesia merdeka, Sjahrir masih tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seperti tak kenal lelah, dia telah mewakafkan hampir separuh hidupnya untuk Indonesia. Sekali lagi, kita perlu berkaca kepada Sjahrir. Patut kiranya kita meneladani pengabdian dan dedikasinya untuk Indonesia tercinta.

*) Penulis merupakan pegiat literasi asal Desa Klampar, Pamekasan

 

Komentar

News Feed