oleh

Peran Kaum Milenial Wujudkan Pemilu Damai Berintegritas

Oleh: Ahmad, S.Ag, M.Pd, Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Ahmad, S.Ag, M.Pd, Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan.

Keberadaan kaum milenial sangat vital dalam proses berdemokrasi di Indonesia. Segmen pemilih dari kalangan milenial diharapkan memberi kontribusi dan partisipasi guna mendorong pemilu yang akan datang penuh integritas dan melahirkan pemilu yang damai.

Posisi kaum milenial sangat diperhitungkan pada tahun politik sekarang ini. Sebab, jumlahnya cukup signifikan dan kesehariannya yang selalu update dengan teknologi dan ramah dengan media sosial.

Mereka tentu menjadi bagian penentu dari kemajuan dan keberhasilan demokrasi, baik untuk pemilu eksekutif (presiden dan wakilnya) dan pemilu legislatif dari semua tingkatan. Berdasarkan data yang dirilis oleh KPU RI, segmen kaum milenial mencapai angka 70-80 juta jiwa (yang memiliki hak pilih) dari total penduduk yang memiliki hak pilih yaitu 193 juta pemilih di seluruh Indonesia.

Tidak sekadar karena jumlahnya yang lumayan besar (yaitu 40%) dari jumlah pemilih keseluruhan, akan tetapi generasi milenial memiliki kelebihan dibanding dengan pemilih lainnya, di antaranya mereka tergolong melek informasi dan selalu terkoneksi dengan jejaring dengan media sosial, dan digital yang selalu terkoneksi dengan internet merupakan salah satu mendasar yang membedakan generasi X (35-55 tahun) maupun generasi baby moomer (yang usianya 55 tahun ke atas) dibandingkan dengan generasi milenial yang usianya 17 hingga 35 tahun.

Karenanya, media sosial yang kini menjadi salah satu mesin politik dipandang efektif melakukan propaganda politik maupun penetrasi isu dalam kerangka mewujudkan demokrasi yang sehat dan bermartabat.

Pada titik inilah, memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh generasi milenial tidak hanya memiliki sisi strategis secara kuantitas, namun juga amat penting untuk mendongkrak elektoral calon dengan tetap menjaga nilai-nilai demokrasi. Oleh karena itu, pada tanggal 17 April mendatang, kaum milenial dalam menghadapi pemilu sangat dinantikan dan menjadi salah satu faktor penentu dalam kesuksesan pemilu.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh kelompok ini, yaitu dengan memanfaatkan media sosial untuk berkirim pesan atau sifat mengajak untuk terlibat dalam proses politik yaitu datang ke masing-masing TPS dengan menyalurkan hak politiknya. Pada saat yang bersamaan diperlukan literasi media yang massif guna memberikan edukasi kepada masyarakat melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif agar masyarakat bijak menggunakan media soaial dan terhindar dari berita-berita hoaks dan ujaran kebencian.

Antara 35-40% posisi kaum milenial memiliki pengaruh besar. Itu untuk menentukan pemilu yang berkualitas dan berintegritas, di samping arah dukungannya akan menentukan siapa yang memenangi pemilu.

Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga riset terutama di pemilu yang lalu, menunjukkan bahwa pemilih pemuda didominasi swing voters (pemilih galau) dan apathetic voters (pemilih cuek). Pelibatan mereka dalam agenda-agenda politik nasioal dan daerah menjadi sangat dibutuhkan guna menghindari sikap apatis dan sikap cuek tersebut.

Kenapa harus melibatkan mereka? Karena jumlah generasi ini cukup siginifikan untuk menentukan output demokrasi yang akan kita langsungkan pada 17 April 2019 mendatang.

Dalam hal ini partisipasi politik generasi milenial tentu sangat substansial karena dari persentasi jumlah, kelompok ini amat signifikan dalam menyumbang suara dalam kontestasi politik (pemilu) yang akan datang. Keberadaannya yang cukup signifikan banyak dilirik oleh beberapa calon baik untuk pemilu presiden dan pemilu legislatif.

Pendekatan kepada generasi milenial bisa dapat dilihat dari tagline pemberitaan baik melalui media cetak atau media sosial. Kelompok ini diharapkan dapat mewujudkan pemilu yang akan datang dengan pemilu yang berintegritas. Sebagai ukuran bahwa pemilu ini berintegritas, diantaranya;pertama, adanya partisipasi masyarakat cukup tinggi termasuk keterlibatan generasi milenial-nya.

Kedua, minimalisirnya praktik money politic. Selama praktik meraup suara dengan money politic, maka jangan diharapkan pemilu kali ini menghasilkan calon-calon pemimpin berkualitas dan berintegritas. Ketiga, calon-calon yang dipilihnya memiliki rekam jejak yang baik tidak terlibat dalam pusaran kasus korupsi dan tindakan kriminal lainnya.

Ketiga, idealitas tersebut dapat disinergikan bersama-sama melalui berbagai komponen masyarakat, baik dari kelompok elit hingga kaum alit. Karena pemilu bukanlah kepentingan seorang calon saja untuk sekadar berkuasa dan menguasai, namun pemilu merupakan sarana mewujudkan kemakmuran dan ketenteraman bersama. Dalam bahasa agama Islam disebut dengan “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur”.

Komentar

News Feed