oleh

Peran Milenial dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Habibah Auni

Pemuda kerap kali dikatakan sebagai aset emas bangsa, mengingat hakikatnya sebagai pemegang estafet kepemimpinan selanjutnya. Sebagaimana pepatah arab berbunyi, “Sungguh di tangan pemudalah urusan umat ini, dan di bawah kaki merekalah hidup dan matinya umat ini”. Dengan demikian, generasi muda yang terkelola dengan baik, akan membawa perubahan yang baik kepada negara.

Terbukti dalam sejarah, pemuda berhasil menopang kemajuan bangsa Indonesia. Seperti sumpah pemuda, misalnya. Berkat peran pemuda dahulu yang gigih mengupayakan momentum ini, Indonesia dapat bersatu dan perlahan-lahan menuju gerbang kemerdekaan. Yang mana membuat pemuda sekarang mampu menghirup udara bebas tanpa kekangan.

Kendati kemerdakaan secara formal sudah dicapai, tetap saja ada tantangan yang menghadang kekokohan Indonesia. Sebab jika kita tidak waspada, bisa saja kemerdekaan negara diombang-ambing dari luar ataupun dalam negeri. Oleh karena itu, pemuda sekarang seyogyanya melanjutkan perjuangan pemuda terdahulu, dengan turut serta mempertahankan kemerdakaan Indonesia.

Pemuda milenial

Tentu saja untuk mendorong pemuda agar ikut serta dalam menjaga bangsa, kita perlu mengenal pemuda itu sendiri. Dengan demikian, pemahaman akan potensi dan kelebihan yang dimiliki pemuda sekarang, sangat penting untuk dilakukan. Yang dalam konteks ini, pengulikan tentang pemuda, akan dilihat dari sisi milenial.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, pemuda sekarang kerap dipanggil dengan sebutan milenial, atau generasi pertama penduduk digital. Ciri utama dari pemuda tipe ini adalah banyaknya porsi kehidupannya dalam hal-hal yang berbau digital seperti komputer, handphone, dan teknologi lainnya. Hal ini terbukti dari data yang dipaparkan oleh Haryanto (2019), yang menyebutkan bahwa 82.7% – 88.5% dari 171.17 juta pengguna internet, merupakan kaum milenial.

Kendati demikian, tingginya angka persentase ini belum menjamin penguasaan milenial atas internet atau digital. Sebab, bisa saja angka ini hanya mencerminkan banyaknya penggunaan internet untuk hal-hal yang bersifat menyita waktu. Alih-alih merepresentasikan banyaknya pemakaian internet untuk hal-hal yang bermanfaat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Coombes di Amerika Serikat, sepertinya dapat memperkuat argumentasi ini. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa kemampuan literasi digital yang dimiliki milenial sebesar: (1) 30.206% untuk pengumpulan informasi, (2) 28.705% untuk me-manage informasi, (3) 25.202% untuk evaluasi informasi, (4) 22% untuk menemukan informasi lagi, dan (5) 16.885% untuk penyimpanan informasi yang kemudian hari dapat dimanfaatkan.

Kecilnya angka kemampuan literasi digital yang dimiliki oleh Amerika Serikat, tentu sangat ironis mengingat posisinya sebagai negara maju. Apabila kondisi literasi digital Amerika Serikat saja seperti ini, lantas bagaimana dengan Indonesia yang kapasitas literasinya jauh lebih kecil? Yang berdasarkan hasil survey World Culture Index Score 2018, Indonesia hanya menempati posisi ke-17 dari 30 negara dalam hal literasi?

Partisipasi politik

Oleh karena itu untuk mengejar ketertinggalan ini, Indonesia perlu mengoptimalkan penuh potensi literasi digital yang dimiliki milenial. Dengan cara memanfaatkan instrumen utama literasi digital, yaitu kemampuan menggunakan digital dan kemampuan berpikir kritis.

Apabila kedua kemampuan ini sudah dikuasai milenial, maka tidak mustahil untuk membuat milenial aktif pada segala kegiatan yang membutuhkannya. Bahkan menurut Livingstone dan Helsper (2007), kemampuan literasi digital ini bisa membantu milenial dalam memperoleh peluang berkolaborasi dan mengisi ruang publik.

 

Apabila milenial sudah memiliki kemampuan literasi digital, maka pengetahuan akan politik pun turut ia miliki. Pengetahuan tentang politik inilah yang selanjutnya mendorong milenial untuk mengatasi ancaman demokrasi, sebab milenial aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan politik.

Terlebih lagi, milenial yang berada di rentang usia 16-25 tahun akan memiliki orientasi politik dalam jangka waktu panjang. Artinya milenial dapat memiliki pengetahuan pengetahuan politik yang kokoh guna membantu tegaknya demokrasi bangsa Indonesia.

Terdapat tiga keuntungan yang didapatkan milenial dari keikutsertaan dirinya dalam aktifitas politik. Pertama, partisipasi milenial dalam social development, yang secara tidak langsung memperkuat kapasitas literasi digital dirinya. Kedua, memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan organisasi. Terakhir, mendorong perubahan sosial yang revolusioner.

Dengan demikian, milenial dengan keunikannya, dapat ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan tersebut yakni dengan memanfaatkan kemampuan literasi digital yang dimilikinya. Dimana kemampuan ini, digunakan milenial untuk mengisi ruang politik. Sehingga nantinya, negeri ini memeliki pertahanan politik yang sangat kebal, yang mana mampu membendung segala ancaman terhadap kemerdekaan.

*Penulis adalah Mahasiswa Teknik Fisika UGM. Menjabat sebagai Redaktur di Gebrak Gorontalo. Ratusan tulisan opininya sudah tersebar di berbagai media massa nasional dan lokal, seperti: Times Indonesia, Kumparan, Republika, Radar Bekasi, Radar  Jogja, Radar Banjarmasin, Kalimantan  Post, Jabar Ekspres, Harian Jogja, Galamedia, InilahKoran, Banten Pos, Kabar Banten, Kabar  Madura, Harian Sulteng Raya, Harian Momentum, Harian Tabengan, Medan Bisnis Daily, Majalah Banten Perspektif, dll. Selain itu, penulis juga sudah membuat dua buku dengan judul “Menyelami Jejak Warta Nusantara” dan “Timur Tengah dalam Pusaran Hegemoni”.

Komentar

News Feed