oleh

Peran Pesantren dalam Peradaban Bangsa

Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang masih mengusung gaya  tradisional. Ia memiliki empat pilar yang menyatu yaitu kiai, santri, kurikulum dan asrama. Keempat pilar itulah yang membentuk generasi beretika.  Mengingat pendidikan di pesantren identik dengan nilai-nilai keislaman yang kental, kekeluargaan, gotong-royong, kemandirian, mengedepankan etika   dan menjunjung tinggi kebijaksanaan.

Oleh sebab itu masyarakat meyakini pendidikan di pesantren memiliki peran penting dalam peradaban bangsa dalam mencerdaskan juga membangun karakter yang baik. Bahkan di masa lalu, pesantren  mencetak  para pejuang kemerdekaan Indonesia. Maka tidak heran, sampai saat ini pesantren masih menjadi salah satu lembaga pendidikan yang diminati oleh masyarakat Indonesia.

Buku ini sendiri membahas tentang akar sejarah pesantren di Nusantara dan bagaimana peranannya dalam membangun peradaban bangsa. Karena tumbuh kembangnya pesantren di Nusantara itu,  memiliki kaitan erat dengan jatuh-bangunnya kerajaan-kerajaan di Indonesia serta proses masuknya Islam itu sendiri.  Dengan bahasa yang aktual dan ditunjang dengan data-data yang akurat, buku ini sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.

Pesantren sendiri pada mulanya  dibangun untuk proses pembelajaran dan penyebaran Islam. Di mana metode pembelajaran ini mulai dikenalkan ketika para ulama—atau yang lebih dikenal dengan sebutan walisongo—mulai berdakwah di Indonesia—khususnya Jawa.   Dengan memanfaatkan kearifan lokal dan budaya yang sudah membumi di masyarakat inilah, mereka melakukan proses Islamisasi secara massal.

Banyak fakta sejarah yang menunjukkan bahwa pada zaman Hindu-Budha, masyarakat sudah  memiliki nilai-nilai yang menjadi akar kebudayaan dan spirit peradaban pesantren. Misalnya konsep berkah dan ijazah. Pada konsep ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidaklah sempurna jika dipelajari secara autodidak dan tekstualis. Sebelum menjadi seorang guru kita harus mempelajari berbagai kitab-kitab agama selama bertahun-tahun sebagai seorang murid atau santri. Seorang murid membutuhkan seorang guru dan butuh ijazah langsung juga restu, untuk melanjutkan mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat (hal 85).

Kebiasaan lainnya adalah mematung, membungkukkan badan dan mencium tangan kepada guru. Kebiasaan ini merupakan nilai-nilai etika sebagai bentuk penghormatan kepada guru, yang selalu diajarkan kepada para santri yang belajar di pondok pesantren. Setiap kali bertemu dengan gurunya, mereka akan menunduk memberi hormat juga mencium tangan. Ternyata nilai-nilai etis ini sudah ada di dalam praktik kehidupan masyarakat Nusantara pada era kejayaan Hindu-Budha (hal 89).

Kemudian soal berbusana. Sebagaimana kebiasaan Hindu-Budha, yang mengajarkan susila atau etika dalam berpakaian, dalam pendidikan Islam yang disebarkan lewat pesantren juga mengajarkan etika berbusana yang baik dan sopan. Di mana para santri diharuskan memakai pakaian yang bersih, rapi, sopan, nyaman dan tentunya menutup aurat. Selain beberapa kebiasaan ini, masih banyak kebiasaan berlatar Hindu-Budha yang diadaptasi  dalam kehidupan di dunia santri. Seperti kebiasaan tirakat atau hidup zuhud—meninggalkan kehidupan duniawi, boyong selepas menempuh pendidikan, kenduri atau slametan pada acara-acara sakral dan banyak lagi.

Semua kebiasaan ini merupakan bukti nyata adanya inkulturasi antara Islam dan budaya Hindu-Budha. Namun di sisi lain, hal itu juga merupakan bukti bahwa dalam proses Islamisasi di Nusantara dilakukan dengan proses damai dan menunjukkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Karena dalam proses Islamisasi ini, para ulama yang datang membawa Islam tidak pernah memaksa, mengintimidasi atau memberangus tradisi dan keariafan lokal. Maka tidak heran sampai saat ini, kearifan lokal tetap terpelihara dan nilai-nilai Islami  tetap mengakar dan adiluhung.

Namun terlepas dari adanya inkulturasi adat budaya, keberadaan pesantren yang dipadukan dengan metode pendidikan Islam dari para ulama, kemudian menjadi kesatuan utuh dalam membina para santri menjadi pribadi yang berdedikasi dan memiliki peran besar dalam peradaban bangsa. Karena dari pendidikan di dunia pesantren, diharapkan para santri akan tumbuh sebagai orang-orang yang berilmu serta memiliki akhlak yang baik. Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Banyak wawasan  yang bisa kita petik tentang sejarah pesantren juga peranannya dalam kemaslahatan umat.

Srobyong, 21 Oktober 2019

Biodata Diri :

Nama Asli                   : Ratnani Latifah

Alamat                        : Jalan Pasar Mlonggo, Kompleks Mushala Al-Falah

Srobyong Rt 04 Rw 02 Mlonggo Jepara 59452.

No HP                         : 085-742-771-803

 

 Biodata Narasi

Cerpen dan resensinya pernah dimuat diberbagai media. Karya-karanya; Bingkai Kasih Khazanah Jiwa (Quanta—Elex Media Komputindo, 2016. Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik (Visi Mandiri, 2017).  Seri Pembentuk Karakter Belajar Bertanggung Jawab (Visi Mandiri, 2017). Muslimah Antibaper; Day With Love, Lifestyle, Hope and Fight (Genta Hidayah, 2017). Ramadhan in Love (Indiva, 2015) kumpulan puisi Luka-Luka Bangsa (PMU, 2015) Lot & Purple Hole (Elex Media Kompuntindo, 2015), The Power of Believe (Diva Press, 2016).Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura. Atau blog https://ratnanilatifah.blogspot.com.

 

Judul               : Akar Sejarah Etika Pesantren  di Nusantara

Penulis             : Aguk Irawan M.N.

Penerbit           : Pustaka Iman

Cetakan           : Pertama, Desember 2018

Tebal               : 462 halaman

ISBN               : 978-602-8648-29-5

 

Komentar

News Feed