Peran Strategis Ayah dalam Mendidik Anak


Peran Strategis Ayah dalam Mendidik Anak
(KM/IST)

Oleh: Titik Hidayati*)

Dari  Abu Hurairah Ra berkata: telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW kemudian berkata, “Wahai Rasulullah  siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? ”, Rasulullah SAW menjawab: “Ibumu”, laki-laki itu bertanya lagi :” kemudian siapa?”,  Rasulullah SAW menjawab: “Ibumu”, laki-laki itu bertanya lagi :” kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab: “Ibumu”, laki-laki itu bertanya lagi :” kemudian siapa?” Rasulullah SAW menjawab: ”Kemudian bapakmu”.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadist di atas memang seolah-olah ibu menjadi orang yang berpengaruh karena merupakan orang yang paling dihormati hingga namanya disebut tiga kali. Padahal sebenarnya bukan untuk menafikan peran seorang ayah, akan tetapi menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi, hadits di atas menunjukkan karena ibu adalah orang yang paling banyak melewati kesulitan sebelum kita lahir ke dunia ini. Yaitu, mengandung Sembilan bulan, melahirkan dan menyusui selama dua tahun.

Meskipun hadits ini terkategori menyanjung seorang ibu sedemikian rupa, tapi sosok ayah juga sering disebut di dalam Al-Quran dikarenakan peran strategisnya yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Ayah dan ibu mempunyai peran pentingnya masing-masing.

Selamat Hari Ayah untuk Ayah Terhebat se-Dunia

Apa kabar para Ayah di dunia?  Sudah menjadi seperti apakah kalian di hati para anak-anak anda sekalian?. sosok ayah yang penyayang, sosok pahlawan atau  seorang ayah yang adanya sama dengan tidak adanya?   

Na’udzubillah! Kalau sampai menjadi orang tua yang adanya sama dengan tidak adanya.  Semoga selalu dijauhkan dari sikap-sikap yang kurang baik. Seperti apapun bentuk anak-anak yang Allah titipkan ke tangan-tangan para ayah sekalian, jangan sampai mempunyai pemikiran yang kurang baik. Karena bisa jadi apa yang kita pikirkan akan menjadi doa yang mengguncang ‘Arsy-Nya.

Sesekali para Ayah perlu bertanya kepada anak-anaknya. Kedudukan seperti apa yang anak-anak punyai di dalam hatinya tentang kalian para Ayah. Sehingga dengan begitu bisa menjadi koreksi bagi para ayah, selanjutnya memperbaiki yang dinilai kurang bagus dan melanjutkan menjadi lebih baik ketika itu sangat baik.

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Wahai para Ayah yang hebat Se-dunia, ingatlah! Bahwa peran mendidik anak bukan hanya kewajiban seorang ibu. Tetapi kewajiban semuanya. Bukan karena Ayah yang mencari nafkah sehingga seolah-olah peran mendidik adalah milik Ibu semata. Ibu hanya tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, jadi tugas seorang ayah untuk meluruskannya.

Allah SWT sering mengingatkan anda para  Ayah, di dalam Al-Qur’an  surat At-Tahrim: 6.“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar , dank eras, yang tidak duhaka kepada Allah  terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat di atas mengingatkan para Ayah untuk menjaga keluarganya. Karena Ayah adalah seorang pemimpin dalam keluarga tersebut. Jadi tugas mencarikan ibu yang shalehah untuk anaknya adalah tugas seorang Ayah. Dan mendidik istri dan anaknya juga tugas seorang ayah. Bahtera rumah tangga itu akan dinahkodai sampai ke arah mana itu tergantung seorang pemimpin yaitu ayah. Tugas seorang istri adalah sebagai Ummun warabatul bait (Ibu dan pengatur rumah tangga). Tugas mendidik adalah tugas keduanya, ibu dan ayah.

  Mendidik anak tidak semudah membalikkan telapak tangan karena itu perlu keteladanan, pembiasaan setiap hari. Kalau hanya ibu yang menjadi teladan sangat berat sekali tentunya. Anak-anak setiap hari berinteraksi tidak hanya dengan ibu tetapi juga dengan ayah. Ayah dan ibu adalah cermin mereka di lingkungan rumah. 

Ada beberapa metode atau cara dalam mendidik anak. Penulis mengutip dari bukunya Hery Huzaery yang judulnya Agar Anak kita menjadi Shaleh. Menurut Hery Huzaery ada empat cara untuk menjadikan kita shaleh. Pertama, menasehati anak dengan cara yang baik, jadi ketika menasehati anak sangat berhati-hati sekali. Nasehati anak dalam keadaan tenang, damai, santai sehingga anak siap menerima nasehat dengan baik. Kedua, berdialog harmonis dengan anak. Komunikasi dua arah., sehingga bisa tersampaikan keinginan anak dan pesan yang ingin disampaikan orang tua. Ketiga, pandai bercerita, berkisah. Mungkin kita tahu dengan sosok gagah nan tampan yang menaklukkan konstantinopel pada masa kekhilafahan Turki Utsmani. Muhammad Al Fatih atau Mehmed II, hafal Al-Qur’an di umur delapan tahun. Menguasai tujuh bahasa di umur sebelas tahun. Muhammad Al-Fatih banyak menguasai berbagai bidang, ahli tanaman obat, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli astronomi, dan masih banyak lagi, atau bisa disebut multitalenta. Ini dia dapatkan melalui kisah-kisah atau cerita-cerita. Keempat, pembiasaan baik. Bisa karena biasa. Seorang yang berhasil mencapai sukses pada bidangnya bukan semata karena bakat. Tetapi karena pelatihan yang dilakukan secara terus menerus sehingga menjadikan dirinya ahli. Begitupun dengan akhlak, harus dilakukan pembiasaan setiap hari sehingga menjadi watak atau  sikap yang sudah terbawa hingga alam bawah sadarnya.  

*) Kepala Sekolah TK Sekolah Alam Excellentia Pamekasan, aktif di FLP Cabang Pamekasan