Perang Salib dan Kemenangan Materialisme


Perang Salib dan Kemenangan Materialisme

 Oleh: Muhamad Pauji*)

Bukan cuma ratusan, bahkan ribuan versi dari kalangan sejarawan dan cendekiawan, baik nasional maupun internasional, baik Muslim maupun Kristen, menyampaikan tinjauan berdasarkan perspektifnya tentang hakikat Perang Salib. Tulisan atau artikel di Kompas yang didominasi intelektual Kristiani, tentu memiliki versi yang berbeda dengan cendekiawan muslim yang menulis untuk harian Republika, alif.idislampos.com, atau nusantaranews.coTinjauan sejarahnya berbeda, ruang lingkup pembahasannya bergantung dari latar belakang ideologi dan agamanya. Dengan segala konsekuensi logis, bahwa figur yang ditampilkan sebagai pahlawan dan tokoh heroik, juga sesuai dengan versi dan seleranya masing-masing.

Bagi saya, itu sah-sah saja. Bahkan hingga saat ini, masih tetap dianggap valid perihal siapakah yang layak disebut pemenang dalam Perang Salib itu, Islam ataukah Kristen? Namun, dalam konteks milenial ini, apakah masih relevan memperdebatkan siapa yang pantas disebut pemenang? Sebab, menang secara fisik, jelas belum identik menang secara batin, yang tak sekadar terjamah oleh pandangan kasatmata.

Beberapa bulan lalu, sehari setelah perayaan Idul Fitri, pihak Kompas menampilkan opini “Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf” (kompas.id, 3 Mei 2022) oleh K.H. Eeng Nurhaeni selaku pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten. Dalam tulisan yang bernas itu, diuraikan secara lugas perihal sikap teladan dari Sultan Saladin di seputar Perang Salib, yang mengacu dari akhlaqul adzimah yang diteladani Nabi Muhammad. Sepulang kemenangan Perang Badar, Rasulullah menegur para sahabat dan pengikutnya, bahwa euforia kemenangan tidak selayaknya ditonjolkan di depan publik, karena menurut beliau, kemenangan pertempuran hanyalah jihad kecil-kecilan.

Para sahabat tersentak kaget, dan memprotes, “Lalu, jihad macam apa yang besar itu, ya Rasulullah?”

“Kesanggupan kalian dalam menahan hawa nafsu, itulah jihad yang sebenarnya.”

Jawaban Nabi Muhammad membuat banyak sahabat tertegun, seraya membawa mereka pada sikap introspeksi diri, bahwa euforia atas kemenangan yang bersifat duniawi – termasuk kemenangan politik – adalah jalan keliru yang boleh jadi akan menggelincirkan manusia pada sifat ujub dan takabur.

Untuk itu, kemenangan di medan pertempuran, tidak identik menunjukkan bahwa keluhuran budi dan peradaban akan meningkat. Kemenangan Perang Salib yang disusul dengan tampilnya peradaban sains dan teknologi, hanya semata-mata penyesuaian perangkat dengan perubahan zaman. Manusia abad milenial memiliki paradigma yang tak jauh berbeda dengan manusia purba yang hidup di zaman batu. Mereka sibuk mengejar dan membunuh binatang buruan, namun di era hiper modern ini, yang menjadi sasaran buruan adalah makanan, tambang emas, dan unjuk kekuatan (pamer senjata).

Dalam salah satu artikelnya, “Mengarang Dunia” (www.jawapos.com), penulis Eka Kurniawan menyangsikan adanya kedamaian dengan maraknya senjata-senjata nuklir sebagai ajang adu kekuatan di tiap-tiap negara. Hal itu menjadi tameng akan adanya perang antar negara superpower yang dibungkus menjadi perang antar dua negara kecil, atau meminjam tempat di negeri yang lemah dan terbelakang. Bangsa-bangsa industri maju, seakan hanya dapat bertahan dengan mengadakan ekspansi untuk mengeksploitasi manusia-manusia lapisan bawah, di negeri-negeri dunia ketiga (miskin), tak terkecuali Indonesia.

Tujuan utamanya tak beda jauh dengan zaman penjajahan dan penaklukan wilayah-wilayah yang menjadi sasaran pendudukannya. Dulu, setelah Perang Salib didengungkan oleh Paus Urbanus II, empat abad berikutnya (1509 Masehi), bangsa-bangsa Eropa (Portugis) mendarat di bumi Nusantara, kemudian menyusul Belanda hingga berkuasa selama tiga ratus tahun lebih.

Di tahun 1965, pihak Amerika terpesona oleh keelokan tambang emas di Irian Jaya, hingga berkolaborasi dengan penguasa dalam negeri yang menamakan dirinya Orde Baru, setelah menggulingkan pemerintahan Soekarno (yang disebut Orde Lama). Apa yang ditonjolkan Amerika dalam sepanjang sejarah imperialisme mereka, tak lain adalah soal sembako, emas dan kedigdayaan senjata (militerisme).

Sama halnya dengan pendudukan wilayah Nusantara. Dulu, Tentara Salib menaklukkan dunia Islam karena raja-raja Islam tidak bersatu dan terperangkap ke dalam khilafiyah dan saling gontok-gontokan. Pada saat Eropa berhasil menduduki wilayah jajahannya, termasuk Belanda di bumi Nusantara, selalu dibarengi dengan peristiwa perpecahan dan lemahnya persatuan secara internal. Raja-raja Nusantara dan Melayu selalu saling bertengkar dan tak pernah bersatu-padu. Tidak adanya persatuan yang tulus nan kuat adalah alasan kekalahan dan ketaklukan, bukan karena hebatnya Portugis atau Belanda selaku negeri-negeri penjajah.

Sekarang ini, negeri Cina selaku wakil Asia menjadi simbol tentang kesadaran akan manfaat perburuan yang menjadi watak dasar umat manusia. Ia seakan menjelma dan menjadi penerus Eropa, serta menjadi pesaing berat Amerika Serikat dalam rangka memburu negeri-negeri jajahannya. 

Serupa tapi tak sama, sebagaimana era Soekarno yang memilih kubu non-blok, dari tarik-menarik kekuatan Amerika dan Uni Soviet. Saat ini, kedua kekuatan itu telah beralih namun tetap mengumandangkan lagu-lagu lama: “Hai negeri kecil, dengan bangsa-bangsa pemuja hedonisme… segeralah tentukan sikap untuk menjatuhkan pilihan, kubu Amerika ataukah Cina?”

Itulah yang membuat Soekarno berpijak pada tiga prinsip dasar kekuatan negara (trisakti), agar kita berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dengan demikian, dari era Perang Salib, kolonialisme, dan perang dagang saat ini, watak-watak berburu yang merupakan tabiat manusia purba tetap bercokol dalam hati sanubari manusia hiper modern. Meskipun dikemas dengan embel-embel kemajuan industri, sains dan teknologi, namun hakikat paradigma dan software-nya tetap yang itu-itu juga (baca: Revolusi Akhlak dan Industriwww.nusantaranews.co).

Jika kita tidak konsisten berpijak pada petuah para bapak bangsa yang mengajarkan kesederhanaan dan hidup bersahaja (zuhud), maka kita semua akan terjerembab ke dalam jurang kenistaan, yang tak beda jauh dengan keledai atau binatang ternak (asfala safilin). Terlebih di hadapan bangsa-bangsa kolonial, baik yang datang dari Eropa, Inggris, Amerika, maupun Cina sebagai saudara se-Asia.

Apalah arti kemajuan sains dan teknologi, jika masih dikendalikan oleh manusia-manusia bermental pemburu yang gemar mengeksploitasi yang satu atas lapisan-lapisan manusia lainnya. Sebab dalam perangainya, konkret faktual, perangkat kemajuan sains dan teknologi yang dibanggakan itu, sama sekali bukan jaminan manusia masa kini lebih beradab dan berkebudayaan. Peradaban sains dan teknologi, justru akan semakin merusak jiwa-jiwa manusia bila tidak diiringi dengan nilai-nilai keadaban dan kemanusiaan. Jiwa-jiwa yang berpaham materialisme dan hedonisme, hanya akan melahirkan kolonialisme demi kolonialisme yang terus bersinambung dan berakumulasi antara satu dengan yang lainnya.

Motivasi kolonialisme dengan mentalitas saling berburu, biarpun dikemas dengan embel-embel rasionalitas, kemajuan sains dan revolusi digital, dalam sejarahnya selalu bermuara pada juggernaut (istidraj) yang menimbulkan malapetaka dan penghancuran oleh tangan-tangan manusia sendiri. 

*) Pegiat organisasi OI (Orang Indonesia), menulis cerpen dan esai di berbagai harian nasional, luring dan daring.