Perangkat Desa Diduga Tahan Kartu ATM PKH dan Ambil Dana Bantuan

  • Bagikan
(FOTO: KM/IST) TIDAK TERIMA: Puluhan KPM PKH mendatangi rumah perangkat desadi Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, guna meminta alasan terkait penahanan ATM.

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Perangkat desa diduga menahan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH ).

Dugaan tersebut terjadi di Desa Sokobanah Daya, Kecamatan Sokobanah, Sampang. Penahanan ATM yang ditengarai oleh kepala dusun tersebut, diketahui setelah puluhan KPM mendatangi rumah pamong desa tersebut, guna meminta alasan terkait penahanan yang sudah lama dilakukan.

Kronologinya, sebelumnya terdapat puluhan ATM PKH yang ditahan, sehingga bantuan yang diterima tidak sesuai dengan jumlah komponen yang ada, sehingga buku tabungan (butab) dari ATM yang ditahan tersebut dicetak ke bank penyalur.

Alhasil, dengan dicetaknya tersebut, muncul beberapa kejanggalan. Sebab, ada penarikan bantuan yang tercatat pada tanggal 12/12/2020 dengan jumlah berkisar Rp5.500.500.

“Ada penarikan padahal ATM tidak dipegang saya, jadi kami dari beberapa KPM PKH mendatangi rumah apel (kepala dusun) Dusun Lonnangkek Desa Sokobanah Daya, karena bantuan itu hak kami,” ucap KPM PKH yang tidak ingin disebut namanya, Minggu (10/1/2021).

Kedatangannya bersama KPM lainnya untuk meminta jawaban atas ketidaksesuaian bantuan yang diterimanya dengan angka nominal bantuan yang ada di buku tabungan tersebut. Bahkan sebelumnya, dia mengaku sudah berupaya untuk meminta ATM, karena penahanannya sudah lamadilakukan. Namun, hingga saat ini tidak diberikan.

Kendati demiakian, dalam waktu pencairan bantuan tersebut dilakukan dirumah kepala dusun tersebut dengan upaya pengumpulan ATM. Padahal, upaya tersebut tidak diperbolehkan. Sebab, pemerintah penyalurkan bantuan melalui ATM itu agar penerima bisa mengambil dengan sendiri.

“Jika KPM tidak tahu, setidaknya diambilkan, lalu dikembalikan. Tapi ditahan dari dulu, waktu saat saya cek ternyata ada transaksi. Saya cuma pegang ATM selama tiga bulan selama dapat bantuan, setelah itu diambil oleh pak apel. Kalau uangnya, saya pernah menerima Rp500 ribu, Rp400 ribu, Rp350 ribu dan Rp150 ribu. Kadang dipotong Rp50 ribu,” tuturnya.

Baca juga  Satgas Covid-19 Sampang BakalRapid test Massal Pengunjung Pasar

Sayangnya, saat konfirmasi terkait pengumpulan dan penahanan ATM tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Jamsos Dinsos) Sampang Erwin Elmi Syahrial belum bisa diminta keterangan, bahkan dihubungi melalui telepon selulernya tidak direspon. (mal/waw)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan