oleh

Perawat Dihantui Putus Asa akibat Masifnya Pelanggar Sosial Distancing

Kabarmadura.id/Bangkalan-Usai menyelesaikan pendidikan sebagai tenaga medis. Seorang perawat akan disumpah saat wisuda. Dengan sumpah perawat tersebut, profesi sebagai tenaga kesehatan masyarakat untuk merawat pasien menjadi yang utama.

Sumpah itulah yang sampai saat ini didedikasikan oleh salah satu garda terdepan penanganan covid-19 di Bangkalan hingga rela meninggalkan keluarga.

FAIN NADOFATUL M, BANGKALAN

Nama lengkapnya Harisandi Alfarizi, dia ditugaskan sebagai tenaga harian lepas (THL) di Puskesmas Arosbaya, Bangkalan. Saat wabah Covid-19 melanda Bangkalan, dia ditugaskan oleh kepala Puskesmas (Kapus) Arosbaya, sebagai salah satu tenaga kesehatan yang membantu penanganan Covid-19.

Cerita lelaki yang kerap disapa Andi ini, diawali tentang suka dan dukanya selama menjadi garda terdepan tersebut. Kepada Kabar Madura dikatakan, penanganan Covid-19 sebenarnya tidak melelahkan. Karena Andi melihat ada sisi negatif dan positif yang bisa diambilnya dalam menjalani pengabdian ini.

Menurut Andi, sisi positif itu salah satunya, di dalam gugus tugas selalu bekerja sama dengan lintas sektor, baik dari kepolisian, TNI, dan relawan covid. Dari situ, ia benar-benar bisa nerasakan arti kebersamaan yang membuat lelah saat bekerja berkurang.

“Kami setiap pagi sore selalu bekerja. Kalau pagi menemui keluarga penderita Covid-19 yang dikarantina dan biasanya memberikan bantuan masker atau makanan yang didapat dari sumbangan. Terus menyemprot masjid, pasar dan tempat keramaian lainnya,” ceritanya, Selasa (19/5/2020).

Ketika sore datang, dia dan timnya selalu mengadakan woro-woro (himbauan, red) tentang pentingnya menggunakan masker. Termasuk, imbauan melarang orang masuk ke Arosbaya agar menggunakan masker.

“Ya kami selalu lakukan karena memang tugas kami selalu memberi info terkait kesehatan,” ujarnya.

Di sisi lain, Andu harus ditugaskan di Balai Diklat karantina Bangkalan atau posko Petapan Suramadu. Di situlah, kadang ia selalu teringat istri, karena selalu ditinggalkan. Namun, dia telah berpesan kepada istri bahwa tugas yang ia emban memanglah harus begitu.

Untungnya, istrinya sudah memahami pekerjaannya. Terkadang pula, orang tua dan keluarga terdekatnya yang selalu mengingatkan akan penularan Covid yang sangat cepat. Bahkan, tak jarang orang tua Andi melarangnya untuk bekerja keras dalam menangani Covid-19. Sebab, sebagai orangtua, tentunya anaknya yakni Andi ditakutkan menjadi salah satu yang terdampak Covid-19.

Meski ada rasa khawatir dari istri dan larangan orangtua. Andi percaya bahwa Tuhan sudah menulis takdir dan kebaikan yang ia tanam. Bahkan, ia sangat senang jika pekerjaannya tersebut akan bermanfaat buat orang lain.

“Ya urusan rezeki asalkan itu bakal ngikut sendiri. Maka dari itu saya selalu semangat dalam menjalankan tugas dan pengabdian memang sumpah waktu saya lulus kuliah,” terangnya.

Meski, terkadang merasa miris ketika bekerja masyarakat kurang mematuhi bahkan mengolok-olok. Namun, itu tak menciutkan tekatnya sebagai garda terdepan menangani Covid-19. Ia merasa mungkin perjalanan hidup ada yang baik atau tidak. Sehingga, hal itu malah menjadikannya motivasi untuk tetep memberikan semangat kepada perawat lainnya.

Andi juga menanamkan motto, dari pada suatu saat di hujat oleh masyarakat karena tidak bekerja. Lebih baik katanya, melakukan tugas ini meskipun masyarakat kurang merespon.

“Ya itu kurang lebih mungkin kisah duka yang saga terima. Tapi mudah-mudahan masysrakat lebih sadar dan dewasa. Tidak hanya pintar menyalahkan tapi berbuat yang terbaik,” paparnya.

Pekerjaan yang harus mempertaruhkan nyawanya tersebut. Terkanan dan rasa takut tertular yang menyelimuti benaknya. Namun, karena ia mengaku, lebih memahami dan mengerti bagaimana perjalanan penyakit tersebut. Rasa itu hilang ketika ia sudah menyakini takdir.

“Namun saya tetep pakai APD lengkap kalau bekerja,” ungkapnya.

Saat penugasan di Balai Diklat, Andi menceritakan, sempat merasa miris. Sebab, tidak ada seorang pun petugas yang berani mendekat ke pasien terinfeksi Covid-19 kecuali dari tenaga kesehatan. Banyak petugas merasa takut yang berlebihan. Padahal menurutnya, baik pasien maupun petugas, sama-sama manusia.

“Tapi mungkin tugas atau protapnga seperti itu makanya kita tetep berjalankan,” tuturnya.

Banyaknya pasien Covid-19, terlintas dalam pikirannya untuk menyerah. Karena kebijakan saat ini sudah banyak melonggarkan terkait keramaian. Dari situlah semangatnya berkurang. Sebab, ia sudah bekerja sungguh-sungguh, namun masih ada jalan bagi pemudik yang bergerumbulan datang. Terlebih pusat perbelanjaan dan pasar semakin ramai.

“Masyarakat harus tambah sadar kalau penyakit covid itu masih belum ada penurunan. Malah bertmbah, jadi saya harap ketija keluar rumah pakai masker. Dan mudah-mudahan di balik musibah ini Allah sudah membuat rencana terbaik buat kamk semua dan semoga kita lebih sadar akan kebesaran dari Allah,” tutupnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed