oleh

Perekonomian Masyarakat di Kabupaten Sumenep Mampet Akibat Covid-19

Kabarmadura.id/Sumenep-Covid-19 cukup berdampak terhadap roda perekonomian masyarakat secara nasional. Tidak terkecuali di Kabupaten Sumenep. Adanya larangan berkerumun menjadi faktor utama macetnya roda perekonomian masyarakat.

Terutama, bagi masyarakat yang bergelut di bidang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hingga saat ini, mereka tidak lagi bisa beraktifitas secara normal. Khususnya di kantin sekolah. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan UMKM Dinas Koperas (Dinkop) dan Usaha Mikro,

Sumenep Lisa Bertha Soetedjo, Kamis (17/09/2020).

“Roda ekonomi yang tidak bergerak rata-rata di kantin sekolah. Pendapatannya, nol persen. Kalau tidak berjualan otomatis tidak mendapatkan penghasilan,” ujarnya.

Saat ini kondisi masyarakat sangat lemah dalam ekonomi. Omzet per minggu anjlok  80 persen hingga 100 persen dari perolehan biasanya. “Kalau di pasar-pasar masih mending. Tetapi di kantin sekolah tidak ada pengahasilan sama sekali. Karena tidak ada yang beli,” paparnya.

Meski  ada uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah ketersediaan kantin tidak beroperasi. Sebab tidak diperbolehkan. “Ada 164 UMKM yang terdampak Covid-19, ditambah jumlah kantin disekolah sebanyak 104 lebih yang saat ini omsetnya turun,” paparnya.

Dia mebjelaskan, pelaku UMKM, mulai dari usaha makanan, tekstil, aksesoris, dan lainnya, saat ini sudah dilakukan pembinaan secara matang. Namun, ekonomi di Sumenep masih lemah. “Kedepan akan dilakukan sesialisasi utamnaya di pedesaan  juga akan dilakukan pembinaan secara intens,” paparnya.

Dia mengaku sudah memaksimalkan dengan meluncurkan program BPUM. semua yang berdampak sudah diberikan bantuan beruapa bantuan langsung tunai (BLT) serta bantuan lainnya. “sosialissi dan monitoring evaluasi sudah dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumenep Agus Eka Haryadi mengaku, saat ini mayoritas  omset turun hingga 80 persen. Bahkan, ada sebagian pengusaha batik, seperti Batik Canteng Koneng turun hingga 90 persen. “Semua penjual saat ini sangat rugi mas,” ucapnya.

Menurutnya, masa Covid-19 cukup berdampak terhadap daya beli. Sehingga, penghasilannyapun rendah. Bahkan bisa jadi merugi.

Para produsen saat ini kesulitan mencari bahan, lantaran adanya larangan, berkerumun. “Intinya ekonomi masyarakat lemah mas,” papar dia.

Dijelaskan, Mereka saat ini tetap memproduksi. Sebab, rata-rata penjual tidak punya stok dan lebih banyak pesanan. Sedangkan pesanan sekarang terkadang digagalkan, qkibat Covid-19. “saya berharap Covid-19 cepat reda. Sehingga, ekonomi kembali normal,” tukasnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengatakan, pihak yang paling terdampak dari adanya wabah Covid-19 salah satunya adalah pengusaha serta para penjual di kantin, serta di toko. Sebab, jika mereka tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan hasil.

 “Kami sangat prihatin pada masyarakat pedagang Sumenep, kedepan akan diadakan rapat lagi mengenai itu bersama OPD terkait,” pungkasnya. (imd/ito)

Komentar

News Feed