oleh

Perempuan Ojek Payung dan Segumpal Luka

Oleh: Kuswanto Ferdian

Januari yang basah, tak ada berita menarik untuk saya tulis. Jika tidak tentang pohon roboh, banjir, rumah ambruk, tanah longsor, gorong-gorong mampet, kecelakaan di jalan raya karena licin dan biasanya orang kesetrum. Hanya itu-itu saja isunya. Peristiwa tersebut, bagi saya sudah jadi berita yang lumrah dan kurang menarik untuk dimuat dalam berita koran. Sebagai wartawan yang sudah lama bergelut di bidang pemberitaan, hari ini, saya ingin sesuatu yang baru untuk ditulis.

Seperti biasa, setiap hari, tempat tongkrongan saya di warung kopi Bu Sumyati. Di tempat inilah biasanya saya beristirahat  ketika merasa lelah selepas mengitari kota untuk berburu informasi. Bagi saya, lokasi warung kopi Bu Sumyati ini begitu strategis, karena dekat dengan mall terbesar di Surabaya. Di warung ini pula, biasanya para buruh pabrik atau karyawan, sering nongkrong saat jam istirahat siang.

Hari ini saya sedikit kesal, karena tak ada satu berita geger yang bisa saya tulis. Untuk menghilangkan rasa kesal itu, segelas kopi hitam yang kental mulai saya teguk, dengan sedikit gerimis yang mulai bersuara pelan di atap seng warung Bu Sumyati. Kasak-kusuk seorang buruh pabrik saya dengar tampak sedang asik bercerita dengan kawannya. Selentingan saya dengar, mereka bercerita tentang seorang anak perempuan yang katanya selalu menangis ketika hujan turun. Saya sedikit tertarik mendengar ceritanya.

“Biasanya, anak perempuan itu, selalu duduk di kursi seberang jalan sana ketika hujan mulai turun,” ceritanya pada sang kawan yang duduk di sebelahnya, sembari tangannya menunjuk ke arah kursi besi di pinggir jalan samping mall terbesar di Surabaya.

“Emangnya ngapain anak itu duduk di kursi seberang jalan saat hujan?”

“Aku gak tau juga. Coba tunggu saja, biasanya sebentar lagi dia datang.”

Ternyata benar apa yang dikatakan buruh pabrik itu. Tiba-tiba diseberang jalan, saya melihat ada seorang anak perempuan bertubuh kurus yang datang sembari memegang payung berwarna hitam di tangan kanannya. Matanya, saya lihat tampak menatap ke arah sudut jalan raya. Kira-kira bila ditaksir, umurnya masih 11 tahunan. Awalnya, saya kira para buruh pabrik ini hanya berceloteh omong kosong saja, nyatanya persepsi buruk saya yang salah.

Hujan mulai mengguyur deras. Lalu lalang kendaraan sedikit pelan. Mata saya terus memandang ke arah anak perempuan yang sedang duduk di kursi besi di seberang pinggir jalan raya itu. Rasa penasaran saya semakin membuncah. Ingin rasanya saya menghampiri anak tersebut untuk sekadar ngobrol basa-basi. Hujan yang deras ini tak jadi masalah bagi saya. Barangkali, ini adalah keajaiban dari Tuhan yang sengaja diberikan kepada saya sebagai rezeki dalam bentuk berita.

“Hay dek, kenapa menangis?” Saya menyapanya dengan ramah. Dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Ini, kakak punya permen, mau enggak?” Dia memandang saya sembari menyeka air matanya. Lalu, dia mengambil permen yang saya pegang.

“Boleh Kakak duduk di samping adek?” Dia menganggukkan kepalanya. Perlahan saya mulai duduk di sampingnya, berdua dan bertiga dengan hujan yang mulai agak gerimis.

“Boleh enggak aku bertanya sesuatu. Tapi harus dijawab jujur ya. Nanti, aku beri kamu uang.”

“Iya kak, boleh,” jawabnya terbata-bata dengan sedikit suara tangis sesenggukan.

“Adek tinggal dimana?”

“Di bawah kolong jembatan,” jawabannya sedikit membuat saya terkejut. Sepertinya menarik untuk terus digali.

“Loh adek gak punya rumah?”

“Punya, tapi sudah disita.”

“Kenapa kok disita?”

“Ayahku dulu seorang koruptor. Begitu ceritanya yang kudengar dari tetangga.”

“Ibu adek kemana?”

“Sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu,” matanya kembali berlinang saat mengucap kalimat itu.

“Ayah adek sekarang ada dimana?”

“Masih di penjara belum keluar.”

Jawabannya mesti singkat dan cepat. Saya merasa iba melihat anak seumur dia sudah mengalami kisah hidup sepelik ini. Saya mulai bisa menafsirkan, mengapa anak ini selalu manangis ketika hujan turun. Barangkali dia sedang meratapi nasib hidupnya yang begitu pahit. Mungkin, dia tak ingin ada orang lain yang melihatnya ketika sedang menangis, jadi hujanlah yang menjadi alasan utama yang bisa menutupi kesedihannya itu.

Saya mengelus dada sembari membayangkan, bagaimana masa kecil saya dulu sewaktu seumuran dengan anak ini yang kala itu masih masa-masa indahnya untuk bermain. Tetapi yang dialami oleh anak perempuan ini, begitu membuat saya terpukul dan merasa tak tega. Tiba-tiba tanpa disangka, dia melontarkan pertanyaan kepada saya. Suaranya datar.

“Kenapa Tuhan menciptakan payung jika hanya meninggalkan air mata?” begitu pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Pertanyaan yang bagi saya sedikit puitis dan seketika membuat saya terperangah. Jujur, saya tak paham menafsirkan kalimatnya.

“Maksud adek gimana?”

“Ya terkadang aku berpikir, payung yang dipakai manusia memang hanya sebatas melindungi diri dari cahaya matahari dan rintik hujan. Tapi banyak di antara mereka tak paham dengan anak kecil seperti kami yang berusaha mencari uang untuk menghidupi diri, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Meski bayaran yang kami dapat sesungguhnya tak seberapa.”

“Kamu kenapa menangis lagi?”

“Di sana ada Kakak saya,” Tangannya menunjuk ke arah seberang jalan.

“Kakak tau kenapa aku memegang payung?” Dia kembali bertanya.

“Karena pekerjaan adek saat musim hujan tiba sebagai tukang ojek payung. Kan adek sendiri yang cerita barusan.”

“Salah! Karena ada kesedihan dibalik payung berwarna hitam yang terbuka ini.”

“Maksudnya?” Lama-lama, saya merasa seperti dipermainkan oleh anak ini. Tapi saya mencoba bersabar.

“Upah seribu rupiah menjadi begitu berharga bagiku dan Kakakku. Dulu, biasanya kami begitu senang menyambut musim hujan datang. Kami berdua biasanya selalu berlarian mencari pelanggan orang kantoran yang ingin pergi ke seberang jalan menunggu taxi atau jemputan yang datang ketika sedang hujan. Ojek payung begitu laris kala itu, bahkan banyak yang mengantre. Tapi sekarang, saat musim hujan tiba menjadi sebuah kesedihan yang begitu menyakitkan. Aku tak tahu ini salah siapa. Mungkin beginilah takdir yang Tuhan berikan untukku.”

Dia berhenti bercerita sejenak. Sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir dari pelupuk matanya yang yang sayu itu. Dia kembali memulai ceritanya.

“Kakakku orang yang sangat baik. Ia tak pernah memarahiku. Bahkan ketika saat kami berdua bekerja, Kakakku menyuruhku untuk duduk saja dan menjaga payung-payung kami yang berwarna-warni.”

Dia terdiam lagi. Saya tak tega melihatnya bercerita dengan suara tangis sesenggukan. Saya masih menunggu akhir cerita yang akan dia ceritakan kepada saya. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dia kembali memulai ceritanya.

“Mungkin inilah payung terakhir yang menjadi kenang-kenangan dari Kakakku. Payung berwarna hitam kesayangannya.”

“Emangnya kakakmu sekarang dimana? Dia sedang bekerja merantau? Atau sedang kemana?”

“Kakakku disitu, sedang menunggu pelanggan ojek payungnya.” seketika tangannya menunjuk ke tengah jalan raya.

“Dimana? Di sana gak ada orang.”

“Di tengah jalan, hanya aku yang bisa marasakan kehadirannya.”

“Maksud kamu apa, dek?! Di tengah jalan gak ada orang,” saya berusaha bicara pelan untuk meladeni jawabannya yang mulai aneh itu. Saya lihat, kali ini pandangan matanya tampak kosong saat bercerita. Dia menoleh ke arah saya, tapi hanya sebentar. Lalu, mulai bercerita lagi.

“Di tengah jalan itu, Kakakku meninggal tertabrak mobil. Waktu itu hujan sangat lebat. Jalan raya sedikit sepi. Kakakku yang sedang ingin menyeberang menghampiri pelanggan ojek payungnya tertabrak mobil berwarna putih biru yang sedang melaju begitu cepat dari arah timur. Mobil itu langsung kabur melaju ke arah barat. Tak ada seorang pun yang mengejar mobil yang menabrak Kakakku saat itu. Kakakku terkapar di tengah jalan dan keluar darah dari telinganya. Hari itu, air hujan yang menggenang di jalan raya berubah menjadi berwarna merah kental. Tak lama kemudian, ada pengendara mobil kijang berwarna hitam yang baik hati hendak melintas, pengemudinya bersama rekannya mengangkat Kakakku ke dalam mobilnya. Saat itu juga aku tak tahu Kakakku dibawa kemana. Yang jelas, kudengar banyak orang yang megatakan kalau Kakakku meninggal di tempat kejadian. Aku ingin sekali menjadi saksi kecelakaan Kakakku. Tapi waktu itu aku hanya bisa menangis. Aku takut perkataanku tidak dipercaya, sebab aku hanyalah anak kecil yang hidup di bawah kolong jembatan. Sampai saat ini aku tak tahu Kakakku dikubur di mana, yang jelas saat ini aku sangat rindu. Tolong jangan bilang kepada polisi kalau itu, Kakakku. Jangan sampai bercerita pada siapapun tentang masalah yang aku alami ini, termasuk pada media atau pun para wartawan. Sebab aku tak ingin berurusan dengan polisi. Aku sudah benci dengan mereka. Karena mobil yang menabrak Kakakku adalah mobil polisi.

Anak perempuan itu kembali menangis. Tangisannya kini, adalah tanginsan yang sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya. Saya memeluknya sembari berpikir akan sesedih ini mendengar akhir ceritanya. Saya bersyukur sekaligus gelisah. Ini bisa saja menjadi berita yang sangat geger untuk saya tulis. Tapi saya tak ingin mengingkari amanat dari anak ini, untuk tidak memberitahukan cerita ini pada siapapun, termasuk saya, sebagai wartawan jalanan.

 

Kuswanto Ferdian, seorang jurnalis di salah satu media online nasional. Kelahiran Pamekasan, Madura 30 Desember 1995. Kesehariannya sibuk menulis berita dan ngopi. Karya bukunya, Rindu Gadis (Kumpulan Puisi), Tak Ada Lagi Kita (Kumpulan Prosa), Bersama Rintik Hujan Air Mataku Mengalir (Kumpulan Cerpen), alamat email: mazwan476@gmail.com.

 

 

Komentar

News Feed