Perencanaan Selesai, Program Pugar Dipending Sepihak

  • Whatsapp
(FOTO: KM/SUBHAN) KANDAS: Program Pugar Rp2,1 Miliar di Kabupaten Sampang Tidak Bisa Digelar dalam waktu dekat, Pemerintah Pusat sudah mempending.

KABARMADURA.ID, SAMPANG– Kendati berbagai tahapan realisasi program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) di Kabupaten Sampang sudah dilaksanakan, meliputi sosialisasi dan perencanaan. Namun, Program yang awalnya dianggarkan sekitar Rp2,1 Miliar dari dana pusat itu terancam gagal digelar.

Hal itu diungkap oleh Kepala Bidang Budidaya Ikan Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Moh. Mahfud. Kata dia, pada pertengahan bulan Juli 2021 kemarin, pemerintah pusat mempending anggaran realisasi program Pugar di wilayahnya. Meski demikian, pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak, hanya pasrah, itu sudah keputusan pusat.

Dirinya menguraikan, program Pugar itu diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bertujuan untuk mensejahterakan petambak garam rakyat di berbagai daerah serta mendorong terwujudnya Swasembada Garam di Indonesia. Sementara pemerintah daerah, hanya sebatas merealisasikan.

“Beberapa waktu lalu, kita sudah melakukan sosialisasi program pugar ini, dan perencanaannya juga sudah. Tapi per minggu kemarin, informasi dari KKP, anggarannya dipending, kemungkinan untuk penanganan wabah covid-19. Kami hanya pasrah saja,” ujar Mahfud saat dikonfirmasi Kabar Madura, Senin (26/7/2021).

Lanjut dia, pada tahun anggaran 2021, daerah yang berjuluk kota Bahari itu mendapatkan program Pugar yang akan dilaksanakan di Desa Disanah Kecamatan Sreseh dengan luasan lahan garam rakyat mencapai 21 hektar.

Adapun kegiatan program pugar dengan pagu miliaran itu meliputi, integrasi lahan garam rakyat, normalisasi saluran, perbaikan jalan produksi dan penyaluran bantuan Geomembrane kepada petani garam di wilayah itu. Alhasil kegiatan itu terancam gagal dilaksanakan.

“Sebetulnya sekarang ini sudah memasuki tahap lelang, tapi mau bagaimana? kalau sudah ada perintah dipending dari pusat. Kami tetap berharap program pugar ini bisa digelar, kita tunggu saja kebijakan pusat nanti,” keluhnya.

Sementara itu, salah seorang petani garam di Sampang Moh Hosen (45) berharap, Pemerintah pusat dan daerah lebih memperhatikan nasip para petani garam. Mengingat harga garam beberapa tahun terakhir sangat murah. Akibatnya sebagian petani memilih tidak berpoduksi.

Kata Hosen, Kesejahteraan para petani, terlebih buruh tani garam di Sampang dan daerah penghasil garam lainnya kerap terabaikan. Apalagi lagi saat ini masih ada wabah covid-19. Dirinya meminta, pemerintah agar hadir, memberikan bantuan kepada para petani sehingga petani tetap produktif untuk berproduksi.

“Pemerintah jangan pasif, tapi hadir ditengah-tengah kondisi petani garam yang semakin terpuruk ini, kami hanya ingin ada perhatian dan solusi dari pemerintah,” ulasnya (sub/bri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *