oleh

Perjalanan Alfin Tuasalamony Sebelum Berkostum Madura United

KABARMADURA.ID – Salah satu pemain Madura United, Alfin Ismail Tuasalamony memiliki kisah tersendiri sebelum merumput bersama klub yang bermarkas di Pulau Madura tersebut. Sejak kecil, Alfin sering bermain bersama teman satu kampungnya di Tulehu, Maluku.

Hobinya bermain bola diturunkan  dari sang ayah yang memang sangat menggandrungi sepak bola. Ia mengatakan bahwa ayahnya adalah pemain sepak bola, namun tidak sampai tingkat nasional.

Pada tahun 2007, pemain kelahiran Maluku, 13 November 1992 tersebut pernah memperkuat tim lokal dan tampil di Piala Medco U15.

Ia direkrut PSSI untuk masuk Sociedad Anonima Deportiva (SAD). Tahun 2008 masuk ke SAD Uruguay.

Alfin Tuasalamony berada di SAD Uruguay atau Deportivo Indonesia kurang lebih sekitar tiga tahun. Ia lalu direkrut klub yang pernah dimiliki oleh Bakrie Group, CS Vise di Belgia. Ia  mengaku pertama kali merasakan manisnya dunia sepak bola.

“Itu pertama kalinya kami merasakan manisnya sepak bola, semuanya kami difasilitasi pemerintah,” ungkapnya.

Pada 2011 itu, ia datang ke Eropa bersama dua rekannya, Yericho Christiantoko dan Yandi Sofyan. Selama tiga tahun, ia bermain untuk klub kasta kedua Liga Belgia tersebut. Penampilannya cukup impresif bersama CS Vise dengan mencatatkan 51 penampilan dan berhasil mencetak satu gol.

Setelah tiga tahun merantau di Eropa, ia kembali ke Indonesia dan bermain untuk Persebaya. Di tahun yang sama, ia juga bermain di Timnas Indonesia U23 di SEA Games 2013, berduet dengan Bayu Gatra.

Debutnya bersama Timnas Alfin sudah tidak diragukan lagi. Ia bersama Timnas sejak 2007 hingga 2014. Ia memperkuat timnas Indonesia muda di berbagai jenjang usia seperti U15, U17, U19 dan U23.

Ia digadang-gadang menjadi pemain muda potensial di Indonesia kala itu berkat performa impresifnya.

Pada 15 Mei 2014 ia mulai bermain untuk Timnas Indonesia senior dalam laga persahabatan melawan Republik Dominika. Baginya memperkuat Timnas merupakan dambaan sejak kecil.

“Kami merasa menjadi pemain yang berguna setelah mampu memperkuat Timnas,” ujarnya.

Selama satu musim bersama Persebaya, ia bermain sebanyak 22 kali dan mencetak empat gol. Namun, karirnya bersama Persebaya tidak bertahan lama, karena gaji yang tersendat.

Pada 2014, ia memutuskan hijrah ke Persija. Namun, lagi-lagi mengalami masalah serupa, yaitu gaji. Ia berhenti bermain selama 1 tahun waktu karena patah kaki sebab akibat kecelakaan..

Pada 2016, ia kembali ke Persebaya yang waktu itu berganti nama menjadi Bhayangkara FC. Waktu itu, ia belum konsisten bermain sebab cederanya. Ia hanya bermain sebanyak 8 kali di Liga 1.

Setelah dari Bhayangkara FC, lalu pindah ke Sriwijaya FC pada musim Liga 1 2018.. Ia hanya mampu bermain sebanyak 12 kali laga pada musim itu.

Pada pertengahan 2018, mantan pemain Timnas itu itu bergabung dengan Arema. Konsistensi permainannya bersama Arema membuatnya kembali diperhitungkan. Di tim tersebut, ia bisa dimainkan sebagai bek kiri dan gelandang sayap.

Bahkan, performanya di Liga 1 2019 membuatnya kembali dipanggil Timnas Indonesia dalam latihan jelang Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Tahun 2020 ia bergabung dengan Madura United, ia mengaku akan bersama klub berjuluk Laskar Sape Kerrab selama masih dibutuhkan.

“Selagi masih dibutuhkan oleh tim ini kami tidak akan pindah, karena harapan kami ingin membawa Madura United berprestasi,” pungkasnya. (km61/maf)

Komentar

News Feed