Perjalanan Kasat Samapta Polres Pamekasan, Tekan Risiko Unjuk Rasa saat Wabah Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) Kasat Samapta Polres Pamekasan: AKP Teddy Tridani, S.I.K

KABARMADURA.ID – Mencegah dan menangkal segala bentuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi tugas sehari-hari AKP Teddy Tridani sebagai Kepala Satuan (Kasat) Samapta Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bacaan Lainnya

Pria berusia 35 tahun ini, merupakan lulusan akademi polisi (akpol) tahun 2009. Ia menjabat sebagai Kasat Samapta atau yang sebelumnya disebut Sabhara di lingkungan Polres Pamekasan sejak tahun 2020.

Setahun lebih berada di Pamekasan membuatnya tahu banyak ciri dan budaya masyarakat Madura. Dia mulai mempelajari tentang Madura setelah mendapat kabar akan bertugas di Pamekasan. Watak keras orang Madura menjadi pengetahuan pertamanya sebelum ke Madura.

Sebelumnya, ia bertugas di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. Menurutnya, tugas di Pamekasan lebih berat, sebab ia langsung dihadapkan dengan bencana non alam yaitu wabah Covid-19. Hal itu harus membuat putra dari pasangan Purn. H. Mahdar dan Hj. Supeni itu lebih waspada.

Selain itu, salah satu tugasnya yaitu memberikan pengamanan saat terjadi unjuk rasa. Meski suami dari Alvita itu sudah cukup berpengalaman dalam pengamanan aksi unjuk rasa, namun kewaspadaannya bertambah saat ia dan anggotanya harus menjaga diri dari ancaman Covid-19.

“Anggota kami banyak yang positif. Setelah dicek, mereka mulai sakit saat selesai bertugas di lapangan,” ungkap alumnus SMAN 9 Pekanbaru Riau itu.

Sementara itu, aksi unjuk rasa di Pamekasan kerap terjadi meski penyebaran Covid-19 belum sepenuhnya terkendali. Tak ayal, anggotanya banyak yang terkonfirmasi terinfeksi Covid-19 usai melakukan pengamanan di sejumlah tempat.

Hal itu semakin mengkhawatirkan saat istri dan anaknya yang masih berusia satu setengah tahun pernah terinfeksi Covid-19. Ia mengatakan harus lebih berhati-hati menjalankan tugas, sebab keluarganya akan menjadi sasaran pertama jika dirinya terinfeksi Covid-19.

Kendati begitu, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian atau STIK-PTIK itu selalu berupaya mengedukasi semua pihak agar saat wabah Covid-19. Ia melakukannya dengan cara persuasif agar warga tidak berkerumun.

“Tapi saat PPKM diberlakukan aksi unjuk rasa mulai jarang,” pungkas pria yang saat ini tengah nenempuh Program Studi Magister Kajian Ilmu Kepolisian (KIK) di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu.

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *