oleh

Perjalanan Terjal Madura United di Liga 1 2017 hingga 2019

Bagian 1

Kabarmadura.id-2017 adalah awal tonggak berjalannya kebali kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia pasca mengalami gonjang-ganjing hingga dibekukan oleh FIFA. Konflik di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sejak tahun 2011, hingga lahir dua kubu antara Liga Primer Indonesia (LPI) dan Indonesia Super Legaue (ISL), kemudian dilanjutkan penyatuan pada tahun 2013 masih diwarnai polemik.

Puncaknya tahun 2015, induk organisasi sepak bola Indonesia yang sempat bangkit tahun 2014, harus kembali menelan kenyataan pahit, karena dibekukan kembali oleh FIFA tahun 2015 hingga tahun 2016.

Klub-klub sepak bola Indonesia baru merasakan indahnya tidak berkonflik dalam menjalankan roda organisasi di tahun 2016. Namun, karena tahun 2016 masih masuk dalam kalender PSSI dalam hukuman FIFA, kompetisi resmi baru dilaksanakan tahun 2017, dimana kompetisi tersebut mulai memberlakukan sistem promosi dan degradasi.

Tahun pertama kompetisi Liga 1 pasca  pembekuan FIFA dicabut, Madura United memasang target tinggi, juara. Adanya kelonggaran dari PSSI bagi masing-masing klub peserta untuk memiliki pemain dengan statusmarquee playe, disambut serius manajemen Madura United dengan mendatangkan Peter Odemwingie.

Sementara adanya peraturan setiap pertandingan harus memainkan pemain usia U23, juga ditata dengan serius oleh Madura United dengan mendatangkan pemain muda sarat pengalaman. Terdapat Risky Dwi Febriyanto, Rifat Marasambessy, Eriyanto, Saldy, Angga Saputra, Tanjung Sugiarto dan Panggih Prio Sambodo.

Kolaborasi pemain muda, pemain sarat pengalaman  dan marquee player, menjadikan Madura United melaju di puncak klasemen. Bahkan, pada tahun tersebut, Madura United berhasil mengakhiri putaran pertama sebagai pemuncak klasemen.

Namun, seiring perjalanan memasuki putaran keuda, kewajiban untuk memainkan pemain U23 dalam satu pertandingan diubah sepihak oleh penyelenggara. Madura United yang tidak melakukan banyak perombakan pemain atas perubahan itu, mulai merasakan tekanan. Beberapa pemain senior dipanggil timnas, Madura United akhirnya hanya menyisakan lebih banyak pemain muda.

Tekanan  bagi Madura United juga makin berat seiring dengan pulangnya Peter Odemwingie ke negara asalnya karena cedera. Total 11 pertandingan Peter Odemwingie absen dalam membela Madura United.

Alhasil, Madura United yang harus turun dengan komposisi pemain muda, karena  skuad seniornya banyak yang dipanggil timnas dan cedera, juga harus kehilangan Peter Odemwingie karena cedera langsung terjerat dalam kubangan tren negatif.

Puncak tren negatif Madura United karena kekurangan pemain, terjadi saat melawat ke kandang PSM Makassar di pertandingan terakhir. Pemain Madura United hanya tersisa 16 orang yang bisa dimainkan, karena lainnya mengalami cedera, akumulasi kartu dan juga dipanggil timnas.  Itupun, salah satu pemain yang dimasukkan sebagai pemain tengah adalah Herry Prasetyo yang diberikan seragam merah putih bukan sebagai penjaga gawang.

Kompetisi 2017, Madura United akhirnya hanya finish di peringkat 5 klasemen akhir. Sementara juaranya adalah Bhayangkara FC.

2018

Bibit-bibit petaka Madura United di kompetisi musim 2018 mulai nampak saat mengikuti Pre-Sesio Piala Presiden. Komposisi skuad yang dirancang dengan pemain-pemain bintang gagal terwujud seiring gagalnya kesepakatan dengan Peter Odemwingie untuk kembali memperkuat Madura United. Bahkan Odemwingie mengungkapkan sangat sulit bagi dirinya untuk bermain di kompetisi sepak bola Indonesia.

Gagalnya memulangkan kembali Odemwingie, menjadikan Madura United mengalami situasi sulit dalam mencari  striker. Kehadiran Macel Sacramento yang tercatat sebagai top skorer pada Kompetisi Liga 1 tahun 2017 gagal moncer. Pemain asal Brasil tersebut diketahui mengalami masalah Hernia sehingga di putaran pertama sulit untuk bermain penuh.

Selain masalah Marcel, Madura United yang pada tahun tersebut mencoba membentuk the dream team dengan mendatangkan pemain-pemain naturalisasi  yang terdiri dari OK Jhon, Guy Junior Nke Ondoua, Rapahel Maitimo, Cristian Gonzales,  dan Greg Nwokolo justru mendapati kenyataan kurang mengesankan

Crisitain Gonzales memilih pindah ke PSS Sleman, sementara Rapahel Maitimo dan Guy Junior juga mencatatkan diri tidak memiliki menit bermain yang maksimal karena cedera dan kalah bersaing dengan pemain lainnya.

Demikian halnya dengan Guy Junior, pemain yang beristerikan perempuan asal Gresik tersebut, juga gagal mendapatkan tempat di starting eleven Madura United. Alhasil, target 2018 justru mengalami gonjang-ganjing sejak kompetisi belum diputar.

Hal itu diawali dengan pergantian pelatih dari Wesley Gomes de Olivera ke Milomir Seslija.  Pergantian pelatih tersebut juga menjadi periode yang mewarnai perjalanan Madura United id tahun 2018.

Milomer Seslija yang memilih cabut dari Madura United, digantikan oleh Joko Susilo sebagai pelatih caretaker. Puncaknya, di putaran kedua Gomes De Olivera kembali  didatangkan sebagai  penyelamat Madura United bersama-sama dengan asisten pelatih Rasiman.

Periode yang penuh dengan gonjang-ganjing tersebut menjadikan Madura United hanya finish di peringkat 8 klasemen akhir kompetisi Liga 1 tahun 2018. (bersambung)

2017

  • Regulasi harus memainkan minimal 3 pemain U23 dalam setiap pertandingan Liga 1 diubah secara sepihak oleh operator kompetisi pada putaran kedua Kompeisi Liga 1.  Madura United  yang tidak melakukan perekrutan pemain senior mengalami situasi sulit karena pendaftaran pemain sudah ditutup. Dalam beberapa pertandingan Madura United terpaksa harus memainkan para pemain muda karena pemain senior dipanggil timnas, cedera dan akumulasi kartu.
  • Madura United dalam satu pertandingan pernah harus bermain dengan komposisi sebanyak 16 pemain saja dari seharusnya 18 pemain dalam setiap pertandingan. Disebabkan pemain lainnya cedera, dipanggil Timnas dan akumulasi kartu. Herry Prasetyo yang berposisi sebagai penjaga gawang terpaksa harus menggunakan kostum merah putih karena kekurangan pemain
  • Peter Odemwingie sebagai marquee player Madura United menjadi tumpuan utama dalam engarungi kompetisi Liga 1 2017. Namun, pemain asal Nigeria tersebut mengalami cedera sehingga 11 pertandingan tidak bisa membela Madura United.

2018

  • Tahun 2018 Madura United secara ambisius membentuk the dream team dengan memanggil beberapa pemain bintang naturalisasi. Tercatat 8 pemain naturalisasi yang berhasil digaet Madura United. Namun, dari 8 pemain tersebut 4 diantaranya Guy Junior, OK Jhon, Rapahel Maitimo, Cristian Gonzales gagal moncr bersama Madura United
  • Terdapat 3 fase pergantian pelatih pada tahun 2018. Diawali dengan pergantian Gomes De Olivera ke Milomir Seslija, Milomir Seslija ke pelatih caretaker Joko Susilo dan dari Joko Susilo ke Gomes Olivera.
  • Gagal menggaet Peter Odemwingie juga diwarnai dengan silih bergantinya pemain di posisi striker. Marcel Sacramento, Alberto e Paula dan Mohammadou Samassa menjadi warna dalam perjalanan kompetisi 2018. Belum lagi, pemain asing asia juga menjadi kendala setelah Nuriddin Davronov mengalami cedera dan digantikan dengan Milad Zeynedpour.
  • Belanja besar-besaran di awal musim utamanya di pres-sesion tidak memberikan dampak signifikan dalam perjalanan Madura United, untuk pertamakalinya sejak  2016 di TSC, Madura United harus finish di bawah 5 besar.

Komentar

News Feed