oleh

Perjuangan Ali Ridho, Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Al Khairat

Kabarmadura.id/Pamekasan-Bertekad berkontribusi besar terhadap kemajuan melalui keistiqomahan, menjadi orang besar dan berilmu butuh proses panjang dan perlu usaha keras. Bahkan butuh  konsistensi serta ketekunan yang perlu diaplikasikan, begitulah deskripsi optimis yang ada pada sosok Ali Ridho,dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) Al Khairat Palengaan Pamekasan.

KHOYRUL UMAM SYARIF, Pamekasan

Perjalanan panjang yang ditempuh oleh pemuda sederhana ini tidaklah mudah. Pria yang berasal dari Desa  Bung Baruh, Kecamatan Kadur ini memiliki ketekunan dalam mengemban ilmu.

Ali Ridho pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren (PP) Bata-Bata selama 11 tahun lamanya,yakni sejak tahun 2001 hingga 2011. Padahal saat itu, dirinya masih disibukkan dengan kuliah dan organisasi ekstra kampus di PMII.

Karir pendidikannya dimulai dari SDN Duko Timur II Larangan, berlanjut ke MTsN Kadur, MA Mambaul Ulum Bata-Bata, S-1 STAI Al-Khairat, S-2 UIN Walisongo Semarang dan melanjutkan S-3 di UIN Sunan Ampel Surabaya (saat ini masih proses).

Meski begitu, dia sempat mengaku jenuh dengan dunia pendidikan, yakni  pascalulus S-2 di tahun 2013 lalu. Sebab, tidak ada satu kampus pun yang membutuhkannya sebagai tenaga pengajar.

Bahkan, sempat berpikir kembali ke pondok dan mengaplikasikan ilmu yang sudah diperoleh selama di dunia pendidikan. Kondisi itu tidak menciutkan dirinya untuk tetap tegar dan semangat.

Singkat cerita, Ali Ridho menerima tawaran dari kampus IAI Al-Khairat sebagai dosen. Selang setahun atau pada 2014, posisinya makin tinggi di kampus teraebut,yakni menjadi ketua Prodi PAI.

“Insyaallah jika terus konsistensi di dunia pendidikan akan mendapat getahnya. Lawan kata jenuh, hingga menuju keberhasilan atau kesuksesan,” ujarnya, Selasa (3/12).

Mengacu pada keinginan pendiri kampus IAI Al Khairat, membuat Ali Ridha tidak pernah menghitung besar atau kecil dedikasinya, apalagi secara kualitatif, tetapi yang penting bermanfaat meskipun sekecil apapun itu.

“Kalau bahasa KH. Abdul Majid,utlubul istiqomatah wala tatlubul karomah,yang artinya carilah keistiqomahan jangan cari kekeramatan, karena sebetulnya konsistensi itu akan melahirkan keistiqomahan,” ucapnya.

Adapun tahapan yang dilakukan untuk menuju kesuksesannya yaitu harus ada usaha yang istqomah walau sekecil apapun. Selalu berpikir sesuatu diluar kebiasan. Sehingga mampu mengaplikasikan sebuah keinginan untuk mencapai suatu kesuksesan.

“Jadi  kalau kebiasannya itu berpikir ini tahapan kesatu atau kedua jadi kita sudah berpikir bagaimana tahapan ketiganya. Apa yang dipikiran dijalankan, kita kan kadang hanya berkinginan namun aplikasinya nihil,” tuturnya.

Terobosan yang akan dilakukan kedepan, yakni akan melakukan sinergitas dengan seluruh komponen yang ada. Menurutnya, mustahil akan tercapai suatu keinginan jika dilakukan sendiri.

“Akan melakukan lompatan yang inovatif baik, akan melebih menyederhanakan pola komukasi dengan menjadi  pola komunikasi kekeluagaan itu semua butuh sinergitas,” tegasnya.

Sebagai orang yang sangat peduli akan pendidikan, dirinya terus berharap mahasiswa menjadi orang yang bisa bermanfaat kepada orang lain sesuai dengan keilmuan yang sedang ditekuni.

“Terutama para kaum muda sebab ditangan dirinyalah nasib bangsa akan ditentukan di masa depan,” harapnya. (ito/waw)

Komentar

News Feed