oleh

Perjuangan dr. Syaiful Hidayat Tangani Pasien Covid-19

Sempat Terima Ancaman Bunuh Diri dari Pasien

Kabarmadura.id/Pamekasan-Setiap profesi memiliki kesulitan dan risikonya masing-masing, tetapi resiko terbesar saat ini sedang di atas pundak seorang dokter yang setiap harinya bertugas merawat dan menangani pasien terinfeksi Covid-19. Seperti yang dijalani dr. Syaiful Hidayat saat bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bapak dua anak tersebut setiap hari harus melawan rasa takutnya dari ancaman bahaya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).Bagaimana tidak, di saat virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok ini menjadi wabah seluruh dunia, dan diklaim berbahaya, profesinya yang justru menuntutjadi yang terdekat dengan virus ini.

Sebagai dokter spesialis paru-paru, pria yang lahir di Pamekasan pada 10 Januari 1974 silam itu, telah mengalami berbagai macam pengalaman dalam hal dunia kesehatan, terlebih dalam menghadapi pasien.Tetapi seluruh pengalaman tersebut baginya belum seberapa menyulitkan dibandingkan dengan keharusan menangani pasien Covid-19.

Hal tersulit baginya selama menangani pasien Covid-19 yaitu dalam menghadapi ketidakmengertian warga terhadap bagaimana virus itu dan pentingnya mengisolasi diri, agar virus tersebut tidak menyebar sehingga mengakibatkan orang lain tertular.

Ketidakmengertian warga semacam itulah yang membuatnya bersama tenaga medis lain hampir kewalahan dan kehabisan akal.

Tidak sedikit pasien yang menolak untuk diisolasi di rumah sakit dan meminta kepadanya untuk dipulangkan, tetapi dirinya kali ini harus manahan untuk berbelas kasihan tidak memberinya izin untuk pulang.

Sebab menurutnya, sejatinya bentuk welas kasih kepada pasien, yaitu dengan membiarkannya berada di ruang isolasi dan melarangnya dekat dengan orang lain.

Kendala semacam itu bukan hanya datang dari pasien itu sendiri, melainkan juga datang dari keluarga pasien yang juga ikut menolak untuk anggota keluarganya diisolasi di rumah sakit.

Bahkan Syaiful bercerita, pernah suatu saat keluarga pasien memaksanya hingga mengancam dengan senjata tajam agar anggota keluarganya dibiarkan pulang, dan ada juga pasien yang mengancam akan bunuh diri jika tidak dibiarkan pulang.

Hal itu membuat perjuangannya sebagai ketua Satgas Penanganan Covid-19 RSUD SMart Pamekasan semakin teruji.

“Seandainya mereka juga mengerti dan memhami bagaimana sulitnya berada di posisi kamu, mungkin mereka akan menawarkan dirinya untuk diisolasi tanpa kami minta, tapi ya mau bagaimana lagi,” ucapnya lirih.

Dia memaklumi atas sikap pasien dan keluarga pasien tersebut, sebab, beban sosial otomatis akan dirasakan oleh setiap pasien yang terinfeksi Covid-19.Stigma buruk tentang virus Corona di tengah masyakarat akan membuat warga di sekitarnya akan menjauhi siapa saja yang dikonfirmasi terinfeksi Covid-19, bahkan jika orang tersebut memiliki toko, warga akan menghindar dan memilih untuk tidak berbelanja di tokonya.

Hal itulah yang dia maklumi, sehingga menghadapinya harus dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha meyakinkan pasien untuk tetap berada di rumah sakit hingga benar-benar dinyatakan sembuh dari virus yang hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya tersebut.

Di sisi lain, ia juga memiliki keluarga yang harus ia jaga agar tidak terpapar Covid-19. Setelah seharian ia bersentuhan dengan pasien Covid-19 di rumah sakit, dia harus memastikan bahwa dirinya ke rumahnya.Hal itu dia lakukan dengan langsung mandi dan mencuci pakaiannya setiba di rumah.

Anak keduanya yang masih berusia lima tahun menjadi alasan terbesarnya untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatannya. Dia tidak ingin anaknya itu harus berurusan dengan Covid-19 lantaran tidak segera membersihkan tubuh dan pakaian yang dikenakan selama berada di rumah sakit.

Setiap hari, sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit, seolah menjadi rutinitas a menerima wejangan dari keluarga. Hal itu dijadikan pengingat untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter.

Raut wajah kawatir dari keluarga kerapkali menjadi pemandangan saat dia hendak berangkat bekerja.

Oleh karena itulah, ia harus bersabar menahan rasa pengap diselimuti baju hazmat dan alat pelindung diri (APD) lengkap selama berjam-jam saat menangani pasien Covid-19 demi memastikan bahwa dirinya aman dan tidak membawa virus bersama tubuhnya, meskipun ia merasakan bahwa satu jam berada dalam balutan APD lengkap serasa setahun baginya.

“Bagi saya yang terpenting adalah keluarga, saya tidak ingin saya membawa pulang virus ini ke rumah, jadi saya harus memastikan bahwa saya aman,” pungkasnya. (waw)

 

Komentar

News Feed