Perjuangan Getir di Balik Orasi Ilmiah Achsanul Qosasi dalam Pengukuhan Guru Besar Kehormatan Unair Surabaya

(FOTO: KM/TOTOK ISWANTO) BERWIBAWA: Prof. Dr. Achsanul Qosasi, S.E., MM,. CSFA., CFrA ketika menyampaikan orasi ilmiah di ruang sidang kampus C Unair Surabaya. 

KABARMADURA.ID | Achsanul Qosasi (AQ) mendapat amanah baru sebagai Guru Besar Kehormatan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.  Baginya, hal itu merupakan capaian penuh makna dalam hidupnya. Untuk menggapai anugerah tersebut, dia harus menghabiskan hampir separuh usia untuk meneliti dan mengabdi kepada masyarakat atau sekitar 24 tahun.

TOTOK ISWANTO, SURABAYA

Penelitian pria yang pada 10 Januari 2022 lalu menginjak usia 56 itu, menghasilkan karya ilmiah “Kutabung: Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecil untuk Bertahan Hidup Melalui Koperasi sebagai Rumah Besar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)”.

Bacaan Lainnya

Sosok yang sempat tinggal di kawasan pertukangan selatan, Jakarta Selatan tersebut, pernah menyaksikan banyak industri konveksi yang menjadi pendapatan utama masyarakat tutup lantaran bangkrut. Sehingga cukup mengancam kestabilan ekonomi di kawasan itu. Padahal kebutuhan pokok meningkat. Sedangkan kondisi ekonomi semakin menurun.

“Melihat kondisi tersebut, seolah sebuah panggilan jiwa bagi saya untuk memulai riset seumur hidup. Jadi selama 24 tahun saya menjalankan program “Kutabung, Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecil untuk Bertahan Hidup Melalui Koperasi sebagai Rumah Besar UMKM,” ujar Prof. Dr. Achsanul Qosasi, S.E., MM,. CSFA., CFrA saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Kehormatan di kampus C Unair Surabaya, Selasa (22/2/2022).

Menurutnya, dari kondisi tersebut banyak masyarakat beralih profesi. Menjadi tukang ojek untuk menyambung hidupnya. Bahkan sebagian masih menganggur atau kerja serabutan. Sehingga kegiatan apa saja dikerjakan demi mendapatkan penghasilan, termasuk tindakan kriminal. Sebab mereka sudah tidak memiliki pilihan.

“Saya merasa prihatin dengan kondisi ini. Nasib saya bisa dibilang beruntung dari mereka, kendati bank tempat saya bekerja juga ditutup,” ucapnya.

Meski pria kelahiran asli Sumenep, Madura, ini juga terdampak dari penutupan industri konveksi, hati kecilnya masih tidak terima dengan kondisi yang dialami masyarakat itu. AQ kemudian berinisiatif menyisihkan pesangon dari bank untuk membantu masyarakat agar tidak terhimpit persoalan ekonomi.

“Pesangon saya pada saat itu sebesar Rp100 juta, dari jumlah itu sebessar Rp85 juta saya berikan ke istri saya (Nonny Qosasi) untuk renovasi rumah. Kemudian sisanya Rp15 juta saya siapkan untuk membantu masyarakat sekitar sebagai modal awal mendirikan koperasi,” paparnya.

Koperasi itu dinamai Koperasi Putera Swadaya (PS) Merpati, sebuah lembaga keuangan mikro bagi masyarakat kecil yang tidak berorientasi pada profit. Sehingga untuk mendukung keberlangsungannya, koperasi hanya menerapkan iuran anggota yang wajar dalam sistem kerjanya.

“Koperasi ini didirikan pada 29 September 1998, saya melakukan riset, pengabdian masyarakat untuk bersama-sama menemani masyarakat kecil dalam menyambbung hidupnya. Banyak kisah, banyak suka dan duka. Tetapi saya banyak sekali memperoleh pelajaran hidup yang sangat berharga dari mereka,” tutur ayahanda Annisa Zhafarina tersebut.

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.