Perjuangan Hidup Anak Kolong Melawan Keterbatasan

  • Whatsapp

Oleh: Muhamad Ilyasa *)

Anak kolong adalah sebutan untuk anak tentara. Sebutan ini muncul saat zaman Belanda, ketika keluarga tentara KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger) berpangkat rendah menempati barak-barak sempit sampai anak-anak mereka harus tidur di kolong ranjang.

Bacaan Lainnya

Anak kolong sering diidentikkan dengan kenakalan. Stigma negatif ini muncul karena tekanan hidup akibat kondisi ekonomi yang pas-pasan dan sering ditinggal ayah untuk tugas operasi. Belum lagi nilai dan disiplin militer yang keras yang diterapkan dalam keluarga terkadang berdampak negatif berupa munculnya sikap pemberontak.

Novel ini merupakan memoar penulisnya yang anak kolong. Yan (Rusdian) Lubis, penulis novel ini, adalah anak prajurit TNI-AD yang tinggal di asrama tentara pada kurun 1960-1970-an. Ia tinggal berpindah-pindah dari asrama ke asrama di lingkungan Brigade Infanteri IV Dewa Ratna, Kodam IV Diponegoro yang semua asramanya berada di kaki Gunung Slamet di Jawa Tengah.

Yan lahir pada 1953 dari ayah Mandailing dan Ibu Jawa Solo. Ayahnya bernama Marah Rusli Lubis dan ibunya Hermani Soediah. Marah Rusli menginjakkan kaki di Jawa untuk bergabung dengan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan (1947-1949). Di medan juang inilah cintanya pada Soediah bersemi dan mereka menikah hingga lahirlah Yan Lubis.

Masa 1960-1970-an dirasakan sangat berat bagi Yan. Banyaknya pergolakan membuat Yan selalu jauh dari sosok ayah karena ayah tak henti ke medan tugas. Operasi pembebasan Irian Barat, konfrontasi dengan Malaysia, penumpasan G30S/PKI, PGRS/Paraku di Kalimantan, dan Operasi Seroja di Timor Timur di antara yang dijalani ayah Yan.

Sering tanpa kehadiran ayah, Yan yang tinggal di asrama bersama ibu, nenek, dan tiga adiknya tak jarang mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan sehari-hari. Untuk sekadar makan, ia harus keliling semak-semak di perkampungan sekitar asrama untuk mencari telur ayam liar. Bahkan terkadang makan laron yang disangrai (hlm. 103).

Pergolakan politik 1965 juga berimbas ke kalangan tentara. Menurut Yan, infiltrasi yang dilakukan PKI menimbulkan perpecahan di asrama tentara. Sebaliknya, ketika Orde Baru berkuasa, di kalangan tentara juga terjadi pembersihan terhadap oknum-oknum yang terlibat PKI. Setiap yang terindikasi PKI diciduk dan diamankan, bahkan banyak yang tak kembali ke asrama setelah menjalani tugas operasi (hlm. 303).

Namun, dari kacamata Yan, kurun 1960-1970-an dipandang sebagai masa yang paling manis dan dinamis dalam hidupnya. Di sinilah jati diri dan karakternya terbentuk. Kesulitan hidup yang dialami membuat dirinya tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan tahan banting.

Kemandirian ini menjadi bekal kesuksesan Yan dalam studi dan karier. Di tengah keterbatasan, Yan berhasil menamatkan SD, SMP, SMA, S1 dan S2 di IPB, Ph.D. di Oregon State University, training dan post-doctoral studies di Sidney University, Royal Institute of Public Adiministration di Inggris, dan Kennedy School of Government di Harvard University.

Selepas studi, Yan menjadi dosen di Universitas Hasanuddin, Direktur Amdal Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Senior Environmental Specialist World Bank di Washington DC, Chair of Compliance Review Panel Asian Development Bank (CRPADB) di Manila, dan Principal of Green Finance Corporation di Washington DC. Atas prestasi dan dedikasinya, ia menerima penghargaan The Eisenhower Fellowship (1990), tanda kehormatan Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI (1997), dan The World Bank Presidential Award of Excellence (2002).

Dari anak kolong yang sederhana, Yan berkembang menjadi sosok intelektual yang kosmopolit, yang mampu menembus pergaulan dunia. Bagi Yan, kunci keberhasilannya, selain kemandirian, juga kemampuan bergaul terhadap semua golongan dan sikap menghargai perbedaan. Sebagai anak kolong yang mengalami hidup nomaden mengikuti ayah bertugas, Yan punya kemampuan bergaul dengan semua lapisan sosial dan mudah beradaptasi dengan segala situasi. Ia juga terbiasa dengan perbedaan yang tersemai dalam kehidupan asrama yang berpenghuni beragam suku dan agama.

Novel dengan endorsement dari sastrawan Ahmad Tohari ini membuka mata kita tentang kehidupan anak kolong yang selama ini terlupakan. Di Indonesia, kini ada 10 juta anak kolong yang memerlukan perhatian karena kondisi ekonomi mereka yang terbatas. Yan aktif melakukan pemberdayaan anak-anak kolong ini. Novel ini merupakan bagian dari upaya itu.

*) Penulis dan editor buku, tinggal di Depok, Jawa Barat.

 

Judul      :    Anak Kolong di Kaki Gunung Slamet

Penulis   :    Yan Lubis

Penerbit :    Pustaka Obor Indonesia, Jakarta

Cetakan :    I, Desember 2018

Tebal      :    xviii + 464 halaman

ISBN     :    978-602-433-641-7

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *