Perjuangan Hidup Khusnul Khotimah, Merawat Ibu Lumpuh dan Bude Lansia

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ IST) SEBATANG KARA: Khusnul Khotimah bersama bude dan ibunya yang terbujur kaku karena lumpuh akibat stroke.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Hidup sebagai orang tak mampu, dan masih menanggung kebutuhan hidup ibunya yang telah bertahun-tahun lumpuh karena stroke serta menanggung kebutuhan hidup budenya yang sudah lanjut usia (lansia), Khusnul Khotimah tetap sabar.

ALI WAFA, PADEMAWU

Bacaan Lainnya

Khusnul Khotimah (48) merupakan warga Oberen Desa Murtajih Kecamatan Pademawu Pamekasan. Dirinya hidup sebagai seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Hidupnya tertatih-tatih oleh kondisi ekonominya yang sulit.

Dia tidak hanya harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, sebab harus menanggung segala kebutuhan hidup ibunya yang sudah bertahun-tahun terbujur kaku di atas ranjang reot karena lumpuh oleh penyakit stroke.

Khusnul Khotimah hanya bekerja sebagai buruh tani musiman. Dia bisa bekerja hanya saat ada ajakan dari tetangganya. Dia merasa sangat senang saat ada tetangganya yang memberdayakannya dengan membantu menanam dan memanen padi.

Setidaknya dengan bekerja seperti itu, dia dapat mengisi perutnya dan merawat ibunya yang sedang lumpuh. Tidak banyak upah yang diterima dari pekerjaannya sebagai buruh tani. Sekali bekerja, seharian dia bisa tidak pulang dari sawah. Upah yang diperoleh hanya  Rp50 ribu.

Pekerjaannya tidak menentu, dalam satu bulan bisa datang dua kali. Sementara dia harus memenuhi kebutuhan hidup budenya yang sudah lansia dan tak bisa bekerja. Bahkan budenya sudah sering sakit-sakitan.

Mereka bertiga tinggal di sebuah gubuk reot yang tak layak huni. Rumah tua itu sudah bertahun-tahun tidak direnovasi. Akibatnya, banyak atap yang bocor dan tidak diperbaiki. Alasannya karena dia tidak memiliki dana untuk memperbaikinya..

“Kalau terus seperti ini, tidak butuh waktu lama rumah ini akan roboh juga. Tinggal menunggu waktu saja,” ucapnya.

Sementara untuk makan saja, dia harus rela makan seadanya dan tidak jarang dia harus berhutang kepada tetangganya. Saat musim hujan seperti saat ini, mereka bertiga harus bersabar meski menggigil kedinginan.

Terjangan angin dan derasnya hujan tidak henti-hentinya menghantui kehidupan mereka. Penderitaan mereka menjadi semakin lengkap dengan rumah yang sudah hampir roboh ditambah lagi genangan banjir yang belakangan ini menimpa wilayahnya.

Kini Khusnul Khotimah hanya bisa tabah sembari terus berdoa meminta pertolongan  kepada Tuhan agar ada pihak yang bisa membantu meringankan bebannya. Karena dia mengaku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan kondisi yang dialaminya saat ini.

“Masih mending karena ada bantuan sembako dari pemerintah, meski tidak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membenahi rumah, mustahil saya bisa,” pungkasnya.

Kalau untuk dimakan saya dapat Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Pemerintah, tapi untuk benahi rumah itu sangat mustahil bagi saya,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *