Perjuangan Khotibatul Ummah, Perawat Puskesmas Pragaan Penjaga Posko Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) BERTUGAS: Khatibul Ummah tengah saat bertugas di posko Covid-19.

Kabarmadura,Id/Sumenep-Menjadi tenaga medis di masa wabah Covid-19 ini merupakan perjuangan tersendiri. Apalagi tenaga medis itu seorang perempuan yang harus melawan rasa kantuk, takut, dan resiko lainnya saat bertugas malam di perbatasan atau pintu masuk Kabupaten Sumenep. Hal itulah yang dialami Khotibatul Ummah, perawat di Puskesmas Pragaan yang memiliki tugas tambahan sebagai penjaga Posko Covid-19.

MOH RAZIN, SUMENEP

Bacaan Lainnya

Bagi sebagian orang, insentif khusus tenaga kesehatan yang menangani Covid-19 merupakan berkah tersendiri. Namun bagi

Khotibatul Ummah, salah seorang tenaga kesehatan yang bertugas menjaga posko Covid-19 di Kecamatan Pragaan Sumenep, insentif sama sekali bukanlah tujuan.

“Saya sudah tidak memperhitungkan insentif yang saya dapatkan dari bertugas. Jika ada yang bilang enak karena ada tambahan gaji, saya persilakan untuk menggantikan saya. Karena hitungan-hitungannya bukan ke situ maka dengan senang hati saya jalankan tugas ini,” ungkapnya.

Karena menurutnya, risiko yang ditanggung sangat besar. Apalagi, ia sebagai seorang perempuan yang tinggal di pelosok yang jauh dari jalan raya. Dalam perjalanannya ke posko, ia mengendarai sepeda motor sendirian dan pernah dikejar orang tidak dikenal.

“Meskipun tugas siang, saya kan harus pulang malam sekitar pukul 9 malam. Apalagi jalan pelosok yang sepi itu membuat saya ketakutan karena sendirian, sampai di rumah cukup larut. Pokoknya perjalanannya saja cukup menantang bagi perempuan seperti saya,” imbuhnya.

Selain risiko di perjalanan, risiko tertular penyakit juga sangat besar. Sebab, meskipun dilengkapi fasilitas alat pelindung diri (APD) yang cukup, dia tetap khawatir karena memang fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan.

“Ada APD, tetapi kita tidak tahu masyarakat yang datang dari perjalanan itu terinfeksi atau tidak. Apalagi keluarga di rumah sering khawatir, wajarlah saya kan perempuan. Seringkali harus memberikan pemahaman yang lebih kepada keluarga bahwa saya akan tetap baik-baik saja,” paparnya.

Keluarganya sebenarnya menginginkan agar bekerja di rumah saja sebagaimana anjuran pemerintah. Namun, karena sudah tugas, maka mau tidak mau tetap harus dijalankan.

Hal lain yang cukup menyiksa adalah memakai APD di posko. Karena APD yang dipakai hanya seperti jas hujan yang terbuat dari plastik yang dipakai beberapa menit saja sudah bikin gerah. Maka terkadang dia terpaksa tidak memakainya.

“Ya pakai masker beberapa jam saat mewawancarai orang-orang yang datang dari perjalanan itu cukup membuat tidak betah, apalagi pakai APD. Karena kita berjarak dan tidak bersentuhan dengan mereka, jadi insyaallah tetap aman,” pungkasnya. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *