oleh

Perjuangan Menghadapi Quarter Life Crisis

Alex Fowke menyebut quarter life crisis sebagai periode ketidakpercayaan diri, keraguan, dan kekecewaan tentang hal-hal seputar karir, hubungan, dan kondisi finansial (Hal. xv). Fase ini dapat ditandai dengan perasaan yang seringkali gamang ketika harus menentukan pilihan. Karena pilihan sudah berada di pundak diri sendiri.Masa yang sangat membingungkan adalah quarter life crisis (krisis perempat usia). Jika usia SMP atau SMA membingungkan menurut orang lain seperti ibu dan ayah. Namun usia 20-an hingga awal 30-an, kegelisahan nyata dirasakan diri sendiri. Banyak orang akan merasa ngeri-ngeri sedap saat melewatinya. Takut, sudah tentu. Karena masa ini berperan penting bagi kehidupan yang akan datang. Kesalahan memilih bisa menuai resiko yang besar.

Buku JD. Salinger berjudul The Catcher In The Rye agaknya berisi hal yang mirip dengan masa ini. Salinger menunjukkan cerita pemuda bernama Holden. Holden memiliki sikap yang semaunya sendiri dan cenderung dianggap negatif bagi banyak orang. Banyak perilakunya yang kelam seperti aktivitas di klub malam, perkelahian, dikeluarkan dari banyak sekolah, kondisi finansial, asmara dan banyak hal rumit lainnya. Walaupun Holden berusaha menjadi orang baik, situasi membingungkan membuat dia tidak tahu harus bagaimana dan ke mana. Akhirnya ia hilang arah dan dirundung kekacauan. Pada banyak situasi, Holden dihinggapi keputus asa-an.

Masa-masa sulit yang sebenarnya sebab kesalahan memilih membawa Holden pada kesialan beruntun. Asal-asalan mengambil pilihan membuatnya semakin terjepit masalah. Masa sulit memang membingungkan apabila kita tak mampu melewatinya. Dan masa-masa seperti ini akan terjadi pada banyak orang pada quarter life crisis. Bedanya, Holden sangat tegas dalam memilih suatu keputusan dan di sisi lain ia terlihat tidak berpikir jangka panjang. Keputusan-keputusannya terlihat sangat emosional seakan ia lupa jika yang dilakukan hari ini akan berakibat pada hari-hari selanjutnya. Akhirnya terbukti ia kalang kabut terhadap dirinya sendiri. Misalnya ketika holden memberikan beberapa uangnya kepada dua wanita yang ditemui di tempat makan. Ia memberi banyak uang dan mengeluh setelahnya. Holden juga memutuskan untuk pergi dari sekolahan, namun ia bingung mau ke mana setelah benar-benar jauh dari sekolah. Holden pulang ke rumah, namun tidak tau harus bilang apa kedua orang tuanya, selain menyembunyikan dirinya di kamar adiknya, dan pergi dengan cara menyelinap.

Berbeda dengan Holden yang cenderung melakukan perilaku negatif dalam hidup. Fahd justru melewati “keganasan” quarter life crisis dengan banyak berkarya. Fahd memiliki keyakinan jika karya akan mendatangkan hal yang ia butuhkan. Uang, teman, kondisi finansial, terutama adalah kebahagiaan. Dalam berkarya, ia menyarankan untuk “menaruh hatinya di puncak gunung” (hal.1). Sehingga kita tidak akan tetap bisa fokus berkarya pada kondisi apapun.

Dalam berkarya Fahd menekuni dunia tulis menulis. Dengan menulis, ia dapat merubah hidupnya menjadi lebih baik. Dari awalnya yang tidak punya apa-apa bahkan ia pernah mampu mentraktir seluruh teman sekolahannya. Saat ia terpilih menjadi salah satu penulis terbaik UNICEF (hal.8).

Fahd adalah salah satu diantara penulis yang royaltinya diputar menjadi bisnis. Pada puncak keberhasilannya, ia telah menjadi pemimpin di berbagai unit bisnis seperti PT Dua Rajawali Teknologi Indonesia, PT Umrah Leadership Series, PT Visi Matahari Pagi, PT Saroba Rezeki Bersama, dan lainnya.

Namun dalam berkarya ia berkata tidaklah mudah menjalaninya, apalagi menulis. Salah seorang redaktur majalah Horizon, Joni Ariadinata sempat berujar jika motivasi menulis rendah, lebih baik tidak usah dilanjutkan. Menulis perlu kegigihan dan perjuangan untuk melakoninya. Salah satu resep Fahd yang ditekankan untuk tetap berkarya adalah terus bergerak! (Hal.61). Dengan terus bergerak, orang akan mampu merubah kesalahannya dan mengembangkan dirinya.

Dalam menjalankan bisnis, kebahagiaan dalam perjuangan menurut Fahd adalah saat mengeksekusi ide. Situasi di mana kemampuan seseorang diuji apakah konsep yang dibuat benar-benar menghasilkan, atau justru menghancurkan. Pada bisnis orang bisa saja rugi puluhan juta! Buku ini menjelaskan salah satu tekadnya dalam membangun bisnis Umrah Leadership Series. Fahd berkumpul dengan rekan-rekannya dan mendiskusikan mau dibawa ke mana bisnisnya. Perusahaannya ingin memberangkatkan umrah sedangkan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Namun akhirnya dengan keberanian dan tekad, mereka berencana memberangkatkan umrah dalam waktu dua bulan. Tiket dibeli sejumlah 45 kursi yang dibutuhkan sekali pemberangkatan walaupun belum ada seorangpun yang mendaftar. Dalam waktu dua bulan, mereka bekerja keras untuk mencari orang yang bersedia mendaftar, mengurus izin-izin, land arrangement, dan hal-hal lain yang dibutuhkan. Pada hari terakhir, akhirnya semuanya siap dan semua rencana terpenuhi berkat kerja keras dan kerja sama tim. Dengan tangis kebahagiaan akhirnya perusahaan mampu memberangkatkan umrah (hal.47).

 

Buku ini tidak memberitahu cara memjalani quarter life crisis. Melainkan bercerita tentang serunya Fahd melewati fase ini. Fahd menunjukkan perjuangannya yang tidak mudah, namun tetap berusaha dan meraih kebahagiaan.

Meski buku ini tebal, namun sub babnya dua hingga 8 halaman dan tidak akan membuat mata kelelahan. Cara membaca pun tidak harus dimulai dari akhir, melainkan bebas dari halaman berapapun. Gaya penulisannya juga ringan seperti karya Wiwid Prasetyo berjudul Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu yang ditulis per hari satu sub bab. Namun terlihat ada kedalaman dan detail yang lebih. Fahd terlihat memiliki banyak referensi bacaan dan pengalaman  yang ia tuangkan.

Judul : Muda Berdaya Karya Raya

Penulis : Fahd Pahdepie

Penerbit : Republika Penerbit

Cetakan : I, Maret  2019

Tebal : xx + 336 Hlm; 13,5 x 20,5 cm

ISBN : 978-6025-7347-2-4

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed