Perjuangan Moh. Rosi Dirikan Pabrik Tahu, Berusaha Bangkit Usai Kalah Nyaleg

News61 views

KABARMADURA.ID | Kegagalan hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Kalimat itu menjadi gambaran dari perjuangan Moh. Rosi dalam menjalankan bisnisnya. Dia bangkit dari keterpurukan. Kemudian berdiri tegak memulai semuanya dari awal. Kini, dia adalah juragan tahu.

ALI WAFA, SAMPANG

Di Kecamatan Omben terdapat pabrik tahu yang cukup terkenal. Tepatnya di Desa Gersempal. Pabrik tahu itu adalah rintisan Moh. Rosi. Seorang pemuda yang pernah merasakan pahitnya kegagalan dalam dunia politik. Pada tahun 2019 lalu, dia gagal dalam pemilihan legislatif.

Saat itu, dia mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Namun sayang, Dewi Fortuna belum berpihak padanya. Empat ribu suara belum bisa mengantarkannya ke gedung DPRD.

Baca Juga:  Kelanjutan Pembangunan SIHT Pamekasan Digrojok Rp8 Miliar

Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan akibat kegagalan itu, Rosi berusaha mengadu nasib di jalur lain. Dia merintis usaha dengan mendirikan pabrik tahu. Awalnya tidak yakin karena dia belum memiliki pengalaman yang cukup. Tapi dia memantapkan diri. Dia mencari pinjaman modal.

“Saya rasa tahu menjadi usaha yang tepat. Tapi modalnya tidak sedikit, karena harga kedelai mahal. Saya cari pinjaman modal,” ungkapnya.

Tidak mudah baginya untuk menciptakan tahu dengan kualitas bagus. Dia perlu mencoba berkali-kali. Saat dirasa bagus, dia beranikan diri memasarkan. Namun dia sadar diri bahwa dia butuh sekali masukan dari para konsumen. Karena itu, dia selalu minta masukan kepada konsumennya.

Tujuannya agar menjadi bahan evaluasi untuk kemudian meningkatkan kualitas. Hal itu merupakan strateginya untuk membenahi kekurangan yang ada dalam bisnisnya. Selanjutnya, dia tinggal menyusun strategi untuk memasarkan produknya agar memiliki jaringan luas.

Baca Juga:  Penutupan Gua Lebar Kembali Disorot, DPRD Sampang Menilai Tidak Dikaji secara Mendalam

Dia datang ke pasar-pasar menawarkan tahu berkualitas tinggi dengan harga miring. Hal itu dilakukan sebagai sarana promosi. Setelah konsumen mulai merasa nyaman dengan tahunya, barulah kemudian dia menyesuaikan harga dengan modal yang dikeluarkan.

Demi menjaga kualitas, Rosi tidak menggunakan kedelai impor. Dia hanya mau menggunakan kedelai lokal. Sebab, santan yang dihasilkan kedelai lokal lebih banyak. Sehingga, cita rasa tahu lebih bagus dibandingkan dengan kedelai impor. Meski begitu, kedelai lokal lebih mahal.

“Saat awal-awal saya utamakan perluasan pasar. Kalau sekarang, saya utamakan kualitas,” pungkasnya.

Redaktur: Moh. Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *