oleh

Perjuangan Peraih Medali Olimpiade Sains di Vietnam Asal Pamekasan

Tempuh Seleksi dari Kecamatan hingga Wakili Negara

Kabarmadura.id-Keinginan merupakan titik awal setiap prestasi. Hal itu harus ditunjang dari sebuah ketekunan yang dibangun dengan rasa optimis. Kegigihan itulah yang tercermin dari raut wajah  Ananda Anindita Sayla Safira, siswi Sekolah Dasar (SD) Al Munawarah  peraih medali perunggu ajang International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) di Hanoi Vietnam.

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Rasa syukur dan perasaan bahagia terpancar dari sosok gadis yang baru meraih ajang beprestasi berskala internasional ini. Diceritakan, untuk bisa mengikuti tahapan perlombaan internasional, harus ikut seleksi mulai tingkat paling bawah, yaitu tingkat kecamatan.

Setelah dinyatakan masuk 6 besar, dia mantap ikut ajang perlombaan tingkat kabupaten yang fokus pada dunia sain. Selanjutnya, setelah masuk 10 besar, baru dikirim ke tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim), untuk kemudian bisa ikut tingkat nasional memawakil Provinsi Jatim.

Setelah menjadi juara tingkat nasional, barulah ikut perlombaan tingkat Asean, mewakili Republik Indonesia (RI). Jika dinyatakan berprestasi dan layak, maka bisa ikut ajang internasional pada ajang Mathematics and Science Olympiad (IMSO) di Kota Hanoi, Vietnam.

Gadis cantik yang lahir di Sumenep 11 Januari 2008 ini menuturkan, bahwa dalam ajang internasional, soal yang dikerjakan sebagian berupa pilihan ganda. Sebagian lainnya berupa soal uraian dan eksprimen. Namun dia fokus pada perlombaan science (ilmu pengetahuan).

“Pilihan ganda 25 soal, uraian sama eksprimen 10 soal,” paparnya.

Untuk mengikuti ajang tersebut, tutur gadis cilik yang biasa disapa Ananda ini,  dia melakukan persiapan selama empat bulan lamanya. Dengan maksud untuk mencapai keinginan yakni menjadi juara. “Alhamdulillah bisa mendapatkan prestasi ini,” ucapnya.

Sebelum bertanding di ajang internasional, dia meraih perak dalam olimpiade tingkat nasional, hal itu juga sebagai wujud motivasi bagi dirinya untuk membanggakan kedua orangtuanya dan membanggakan Indonesia di kancah internasional.

Sejauh ini, dia mengaku masih mendapat kesulitan dalam mengerjakan soal berbahasa Inggris. Karenanya dia bertekad untuk terus berlajar dengan giat untuk masa depannya.

Dia juga mengungkapkan, mulai senang belajar science sejak duduk di bangku kelas III SD, dari kenangan itulah dia berkesempatan untuk terus menempa  menjadi orang yang mampu bersaing.

Putri dari pasangan Mohammad Idarnanto dan Yuli Indriyawati itu memiliki kebiasaan belajar pada malam hari, mulai pukul 07.00 hingga 09.00. Setelah itu, baru istrahat dan bangun di sepertiga malam untuk salat tahajud dan diteruskan dengan salat subuh. Setelah itu baru berangat ke sekolah.

Sementara itu, menurut keterangan dari ayahnya, putrinya merupakan sosok yang disiplin dan penurut serta sabar dalam memahami setiap pelajaran yang disukai. Mengenai didikan kepada anaknya, dia tidak pernah memaksakan untuk selalu belajar.

“Tapi saya mengarahkan anak saya sesuai dengan  bidang yang dia senangi, termasuk diikutkan beberapa les private yang menunjang terhadap minat belajar anak saya,” tutur, Mohammad Idarnanto. (ito/waw)

Komentar

News Feed