oleh

Perjuangan Samsul Arifin untuk Bisa Berkuliah

Kabarmadura.id/Bangkalan-Tidak semua orang bisa mendapatkan pendidikan tinggi. Terkadang, untuk bisa berkuliah, harus menempuh perjuangan yang berat dan melelahkan. Apalagi di tengah posisinya sebagai tulang punggung keluarga, dengan tanggung jawab untuk menafkahi adik dan ibunya.

MOH SAED, BANGKALAN

Hal itulah yang dialami Samsul Arifin, warga Desa Bilaporah Utara Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan. Sosok kelahiran Nabire, 28 Mei 1996 tersebut sempat merantau ke Papua untuk mengais rezeki di tanah orang dengan bekerja sebagai tukang pangkas rambut.

Arif kemudian pulang dari tanah rantau setelah 1 tahun lamanya bekerja. Ia pulang ke kampung halaman karena ditinggal oleh sang ayah selama-lamanya. Setelah ditinggal oleh sang ayah,  Samsul Arifin tekadnya semakin bulat karena ia menjadi punggung bagi keluarga. Selain  dituntut menafkahi sang ibu, Samsul Arifin juga harus menafkahi adiknya yang mengenyam bangku SMA.

Pada tahun 2015 Samsul Arifin nekad untuk merantau ke Bojonegoro untuk menekuni  tukang pangkas rambut. Ia memilikih Bojonegoro karena dekat dengan kampung halamannya dibandingkan Papua, sehingga ia bisa pulang ke rumah dalam setiap minggu  untuk menemani sang Ibu. Pada tahun 2016 adiknya sudah lulus sekolah. Perasaan Arif mulai lega karena adiknya sudah bisa kerja untuk membantunya.

Pada tahun 2017, Arif nekad mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi yang ada di Bojonegoro, yakni Unigoro. Ia pun akhirnya merasakan bangku kuliah, hasil dari jerih payahnya sendiri tanpa ada bantuan dari orang tua. Malah ia masih sempat kirim belanja untuk kebutuhan sang Ibu dalam setiap minggu. Hal ini karena ia tetap bekerja meskipun telah kuliah.

“Alhamdulillah, ketika sudah kuliah, itu semua mengubah mindset saya tentang perkulihan yang awalnya tidak penting menjadi wajib kuliah. Setiap pagi saya ke kampus untuk belajar di kampus. Selepas kuliah pukul 13.00, saya langsung berangkat kerja sampai pukul 22.00 WIB,” ungkapnya, Kamis (05/12/2019).

Pada awalnya ia berpikir, kuliah itu tidak penting. Tetapi setelah terjun langsung, dia mulai menyadari bahwa kuliah itu penting. Semenjak saat itu ia mengaku aktif kuliah dan belajar berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selain itu, ia juga aktif di organisasi Karang Taruna Desa Bilaporah dan juga owner pangkas rambut Cakraningrat Bojonegoro. (pai)

 

 

Komentar

News Feed