Pernah Buka Usaha Sablon Kaos hingga Kuliah di Perancis, Potret Perjuangan Ali Afandi

(KM/ FAUZI) Ali Afandi: Kacabdindik Jatim Wilayah Sampang

KABARMADURA.ID | Tepat jam 12.02, di tengah cuaca gerimis, mobil dinas warna hitam tiba di halaman Gedung Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim Wilayah Sampang. Seketika, dua penjaga berdiri dan melangkah ke pintu kiri bagian belakang untuk memayungi Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Sampang Ali Afandi.

KM64, SAMPANG

Sambil berlari menuju gedung Cabdindik Jatim, Ali Afandi melambai ke arah wartawan dan memanggil: “Ayo Mas, bentar lagi saya ada rapat.” Sontak, semua pewarta mengikutinya dari belakang menuju ruang dinasnya.

Setelah menaruh barang bawaannya, ia mempersilahkan duduk semua pewarta. Kemudian ia bercerita bahwa orang tuanya merupakan pegawai kecil dan tidak mampu membiayainya sekolah hingga jenjang perguruan tinggi.

“Kebetulan waktu itu, saya baru lulus dari Sekolah Teknik Menengah (STM), ada tawaran kerja pabrik di Surabaya. Akan tetapi kakak saya menawarkan agar saya kuliah,” ujarnya.

Setelah dipikir secara matang, saat itu ia memilih untuk kuliah melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) di salah satu universitas di Surabaya. Waktu pertengahan kuliah, kiriman uang dari kakaknya sempat telat tiga hingga empat bulan. Namun, ia tidak kehabisan akal. Justru, mengambil alternatif menghemat pengeluaran dengan cara membeli satu ikan lauk untuk dimakan tiga kali.

“Akhirnya, saya juga buka usaha sablon undangan pernikahan, kadang bantu-bantu foto copy-an untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah,” jelasnya sambil menyentuh bajunya yang basah.

Singkat cerita, setelah lulus berhasil menamatkan studinya, ia kemudiajn mengajar di lembaga swasta di Mojokerto dengan gaji yang sangat minim. Seiring berjalannya waktu, tepat pada tahun 1999, ia memberanikan diri untuk mengikuti tes pegawai negeri. Terbukti, tekadnya itu berbuah manis, ia diterima dan ditempatkan di Bangkalan, dari kisaran tahun 2000-2006.

Pada tahun 2006, ia melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya hingga kemudian mendapatkan beasiswa program pemerintah yaitu kuliah di Prancis selama 6 bulan.

“Saya banyak belajar tentang budaya, pendidikan, dan seni di Prancis selama 6 bulan itu. Berangkat ke Prancis pertengahan September 2007, pulang Maret 2008, dan lulus dari UB 2009,” ungkapnya bercerita pengalamannya di masa silam. .

Setelah lulus S-2,  ia melanjutkan mengajar. Kemudian ia mengajukan mutasi ke pemerintah provinsi. “kebetulan waktu itu saya bagian Staf Kerja Sama Luar Negeri 2010-2020,” tuturnya.

Kemudian pada tahun 2021, digeser ke Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Protokol menangani kepegawaian Sekretaris Daerah. “Di bulan Januari tahun 2022, saya diangkat jadi Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Sampang,” pungkasnya.

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.