Persiapan MTQ Jatim ke-39, Panitia Kekurangan 630 Kamar

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) PERSIAPAN: Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-29 Jawa Timur di Pamekasan setidaknya membutuhkan 1.500 kamar untuk peserta.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Persiapan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-29 Jawa Timur sejauh ini masih mencapai 10 persen. Kegiatan yang akan dilaksanakan tahun 2021 di Pamekasan tersebut, setidaknya membutuhkan 1.500 kamar untuk penginapan peserta dan panitia. Namun hingga kini baru tersedia 870 kamar.

Hal itu terungkap setelah ada survei dari Bagian (Kabag) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sekretariat Kabupaten (Setkab) Pamekasan. Dengan kondisi itu, panitia masih membutuhkan alternatif penginapan yang representatif untuk menutupi kebutuhannya.

Bacaan Lainnya

Terkait suksesi dari pelaksanaan MTQ itu, Kabag Kesra (Setkab) Pamekasan Halifaturrahman mengaku sudah beberapa kali menggelar rapat koordinasi dengan semua pihak, termasuk dengan pengusaha hotel dan rumah kos. Salah satu tujuannya, untuk menyiapkan tempat yang representatif kepada para peserta MTQ Jatim ke-29 tersebut.

“Jadi pada bulan Desember kemarin kami sudah paparkan di depan 38 kabupaten kota dan Pemprov Jatim tentang kesiapan kami, untuk pelaksanaan MTQ,  hari ini kami melakukan rapat koordinasi dengan pengusaha hotel atau pengusaha penginapan mengenai kesiapan kamar para kafilah,” paparnya, Selasa (19/1/2021).

Selain berkoordinasi dengan pengusaha penginapan, juga akan rapat koordinasi dengan berbagai organisasi pemerintah daerah (OPD).

“Kami juga akan melakukan koordinasi dengan pemilik venue untuk ditempati 12 cabang lomba MTQ, kami targetkan rapat-rapat koordinasi ini selesai pada bulan Februari,” tuturnya.

Pria dengan sapaan Mamank itu menambahkan, untuk mengurai kekurangan kamar, pihaknya sudah mengidentifikasi alternatifnya, yakni bisa diletakkan di tempat kos yang representatif.

“Kurang lebih ada 1.500 kamar, sementara ini yang sempat kami identifikasi dan verifikasi, baru 870 kamar,  jadi butuh tambahan kamar lagi, alternatifnya adalah rumah-rumah kos yang representatif,” tukasnya.  (rul/waw)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *