Pesan Apapun, Dimanapun, Ongkos Kirim Seikhlasnya Ada Mass Jek

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) RAMAH: Kurir Mass Jek, Ahmad Syarifuddin saat mengantarkan pesanan milik pelanggan di Bangkalan, kemarin.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Gigih, niat Ahmad Syarifuddin dalam merintis usaha ojek online secara mandiri. Usaha ojek online yang diberi nama Mass Jek mulai hadir di industri ojek online di Bangkalan sejak Maret 2020.

HELMI YAHYA, Bangkalan

Bacaan Lainnya

Berpikir panjang merencanakan kehidupannya setelah melepas status Mahasiswa. Syarif yang merupakan pemuda Asal Sampang, lulus dengan waktu 10 Semester. Sebab, sejak memasuki dunia kampus pada tahun 2014, Syarif terus merintis bakatnya di berbagai organisasi mahasiswa.

Syarif memiliki catatan berharga saat dirinya menjadi Mahasiswa yang aktif di bidang kesenian. Yakni, belajar hidup bebas dan kreatif dengan bertahan hidup memanfaatkan lingkungan di sekitarnya.

Mahasiswa Ilmu Hukum tersebut, seolah jauh dari persepsi umum tentang Mahasiswa Hukum yang kebanyakan diakses oleh orang-orang berduit. Persepsi umum masyarakat harus disentuh. Bahwa penampilan fisik, jelas tidak menjadi acuan utama menggambarkan prilaku manusia.

Catatan menjadi Mahasiswa kesenian, tentu identik dengan nyeleneh, aneh dan bertolak belakang dengan masyarakat yang lebih terstruktur. Kehidupan terstruktur dan didekte adalah kehidupan yang tak ingin Syarif geluti. Sebab, kehidupan manusia yang telah diberikan oleh yang maha kuasa adalah kebebasan dan berhak memilih jalannya.

”Manusia harus bebas, tidak bisa jika hidup didekte dan mengharap kekayaan,” cerita lelaki usia 30 tahun itu.

Lulus dari UTM pada Sabtu (21/11/2020) membuat dirinya lebih serius menjalankan bisnis ojek online di Bangkalan. Sejak maret 2020 lalu, ide tersebut muncul di warung kopi, ketika mendengar adanya Covid-19. Setelah ada himbauan pemerintah untuk dirumah saja, uji coba Mass Jek mulai muncul.

”Saya kira untuk mencukupi kebutuhan saat itu, bisnis ojek ini akan sangat menguntungkan,” katanya.

Kondisi pandemi juga menjadi dasar pemikirannya, untuk memilih langkah dalam perjuangan merintis Mass Jek. Termasuk menentukan keuntungan. Dirinya yang berharap bermanfaat dan membantu warga, kemudian mencoba untuk menerapkan sistem ongkir se ikhlasnya.

”Saya yakin memilih seikhlasnya, karena saat ini musibah sedang mengancam semua orang,” paparnya.

Beberapa kali menjalankan bisnis tersebut, Syarif merasa ada keberkahan dalam membantu orang lain. Salah satunya dengan menerapkan ongkir seikhlasnya, banyak pelanggan yang memberikan upah lebih meskipun orderan dekat.

”Saya tertawa sendiri saat itu, setelah diberikan ongkir Rp20 ribu dengan jarak yang dekat, ini rezeki Allah,” ucapnya dalam hati sembari memperagakan.

Mas Jek menerima antar jemput, dan order makanan, minuman, bahkan barang. Promosinya juga hanya menggunakan aplikasi Whatsapp. Sebab, tidak mungkin bagi Syarif membuat aplikasi ojek online seperti yang sudah memiliki nama besar.

”Kalau saya buat aplikasi juga, tentu saya kalah, karena saya belum memiliki nama besar,” jelasnya.

Dirinya yang memulai bisnis Mass Jek berusaha mencari orderan dari teman dan saudara. Melalui grup Whatsapp dan media sosial lainnya. Sesekali, Syarif juga meminta tolong pada setiap temannya untuk menginformasikan keberadaan Mass Jek di Bangkalan.

”Kalau satu orang berbagi informasi ke satu orang, kan sudah banyak. Dan terus begitu,” ungkap Syarif.

Menjalani bisnis tersebut memang tidak hanya perkara untung. Tetapi, percaya pada rezeki dan takdir Allah membuatnya bertekad untuk mengembangkan Mass Jek. Tidak hanya karena Ongkir yang diberikan lebih. Tetapi, ikhlas bekerja membantu masyarakat tanpa target.

”Pernah juga ada yang minta pesanan banyak dan jauh, tapi tidak mau bayar ongkir. Atau bahkan ongkirnya sedikit, saya terima. Meski memang masih perlu penyesuaian kesabaran,” yakinnya.

Berawal dari keikhlasan tersebut, Mass Jek kemudian menjadi opsi bagi Mahasiswa yang kekurangan uang untuk sewaktu-waktu bergabung. Sehingga, ada tiga Mahasiswa terus bergabung. Sedangkan, jika salah satunya tidak mendapatkan orderan, Syarif membaginya.

”Saya tidak ambil untung, malah saya bagi agar sama-sama dapat orderan. Sedang saya harus bisa dapat orderan sendiri,” tegasnya.

Syarif menyebutkan, ingin menjadi masyarakat yang kreatif. Tidak hanya mengandalkan ijazah untuk mencari pekerjaan. Tetapi berusaha menyediakan pekerjaan meski keuntungan belum seberapa.

Sehingga bisa bermanfaat dan tidak menjadi beban untuk orang lain. Terlebih lagi, tetap menjadi manusia yang hidup bebas, tanpa target pekerjaan. ”Kalau yang lulusan universitas saja juga berbondong-bondong rebutan lowongan pekerjaan, lalu siapa yang menyediakannya untuk lulusan di bawah kita,” pungkasnya. (*/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *