Pesantren dan Indonesia dalam Kacamata Historis

  • Whatsapp

Oleh: Dendi Fariky*)

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia (the oldhets eduction in Indonesia) yang sangat strategis sebagai tempat para siswa ataupun santri dalam mengajarkan berbagai hal. Seperti halnya tentang agama, budaya maupun pendidikan. Karena sistem yang ada di pesantren adalah sistem asrama, di mana santri bisa lebih fokus dalam hal belajar maupun menekuni sebuah keilmuan dan lebih banyak waktu dan kesempatan untuk mempraktikkan ilmu dan nilai-nilai kepesantrenan.

Pesantren tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Orang-orang pesantren mengambil banyak peran sebagai penggerak dalam pemberdayaan masyarakat umum dan berandil besar dalam kejayaan bangsa Indonesia. Pondok pesantren ikut andil dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), di mana hal itu terjadi karena ada dorongan KH Hasyim Asyari yang menyuruh semua santri untuk ikut berperang dengan niatan jihad, karena menurut beliau membela negara merupakan bagian dari jihad.

Salah satu pengamat pesantren, Azzumardi Azra pernah mengatakan bahwa pesantren sebagai basis pendidikan islam di indonesia, merupakan salah satu sumber inpirasi yang tidak pernah kering untuk dikaji. Sehingga wajar jika di antara peneliti tersebut pernah mengatakan, “Tradisi pesantren itu memang sarat dengan aneka pesona, keunikan, keikhasan, dan karakteristik unggul yang tidak dimiliki oleh pendidikan Islam lain yang ada di belahan dunia mana pun”.

Lebih jauh, dinyatakan pula bahwa sejak awal keberadaan pesntren ,mulai dari masa Maulana Malik Ibrahim yang di lanjutkan oleh Raden Rahmat selaku spritual father Walisongo, dalam masyarakat jawa dipahami sebagai gurunya para guru. Pesantren telah mampu memainkan peran pentingnya sebagai pusat pendidikan Islam pertama di pulau Jawa. Selain itu pesantren juga merupakan pusat  perkembangan media dakwah islamiyah untuk Nusantara. Dengan demikian, maka bukanlah hal yang berlebihan pula ,kalau kemudian banyak ahli sejarah Islam Nusantara yang mengakui “Pesantren” sebagai bagian terpenting dari sejarah masuknya islam ke Bumi Nusantara yang kini di sebut Repuplik Indonesia (Zamakhyari: 12, 2001)

Sesuai dengan semangat dari pendirian pesantren yaitu untuk selalu bisa merespon soal sosial masyarakat dan dapat mengambil tindakan atas itu, pesantren harus menjadi institusi pendidikan yang inklusif dan menjadi corong penebar kedamaian di muka bumi (rahmatan li al-alamin). Pesantren tidak bisa lagi bersifat eksklusif dan keras atas nama agama kepada simbol-simbol Barat dalam kondisi penetrasi global. Hal itu juga harus dilakukan dalam narasi positif keIndonesiaan, yakni bagaimana pesantren mengambil posisi pada kondisi Indonesia yang plural, baik agama, etnis, maupun kepercayaan di dalamnya.

Dalam  tradisi  Jawa  kata  santri sering digunakan dalam dua terminologis,  yaitu  pengertian  yang  sempit  dan  yang  luas.  Dalam  pengertian sempit, santri berarti seorang pelajar sekolah agama yang disebut pondok  atau pesantren  atau  orang yang  mendalami agama.  Sedangkan pengertian luasnya adalah seorang muslim Jawa yang sungguh-sungguh  dan  rajin  dalam  menjalankan ibadah shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid, shalat Jumat, shalat Id dan puasa Ramadan.

Adapun pengertian santri secara umum, yakni orang yang belajar agama Islam dan mendalami agama  Islam di sebuah pesantren yang menjadi  tempat belajar bagi para santri. Jika dirunut dengan tradisi pesantren, terdapat dua kelompok santri, yaitu santri  mukim dan santri kalong. Santri mukim adalah murid-murid yang berasal dari daerah jauh dan  menetap  di pesantren, dan biasanya sudah  memikul  tanggung  jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari, seperti  mengajar  santri-santri  muda  tentang  kitab-kitab tingkatan rendah dan menengah. Sedangkan santri  kalong adalah murid-murid yang berasal dari desa sekelilingnya yang biasanya mereka tidak tinggal di pesantren  kecuali di waktu waktu belajar.

Istilah  santri  hanya  ditemukan  di  Pesantren  sebagai  peserta  didik  yang  haus  terhadap ilmu  pengetahuan  yang  dimiliki  oleh  seorang  kiai  yang  memimpin  Pesantren.  Di dalam proses  belajar  mengajar,  ada  dua  tipologi  santri  yang  belajar  di pesantren  berdasarkan  hasil penelitian yang dilakukan oleh ZamakhSyari Dhofier, yaitu  santri mukim dan santri kalong.

Santri  mukim  yaitu  santri  yang  menetap  dan  tinggal  bersama  kiyai  dan  secara  aktif menuntut ilmu dari seorang kiyai. Selain itu santri mukim adalah murid-murid yang berasal dari daerah jauh dan  menetap  di pesantren, dan biasanya sudah  memikul  tanggung  jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari, seperti  mengajar  santri-santri  muda  tentang  kitab-kitab tingkatan rendah dan menengah. 

Sedangkan santri  kalong  pada  dasarnya  adalah  santri  atau  murid  yang  berasal  dari  sekitar  pondok pesantren yang pola belajarnya tidak dengan jalan menetap di dalam pondok pesantren melainkan semata-mata belajar dan langsung pulang kerumah. Selain itu santri  kalong adalah murid-murid yang berasal dari desa sekelilingnya yang biasanya mereka tidak tinggal di pesantren  kecuali di waktu  belajar (Hasbullah: 1996, 49).

Mahfud Junaedi dalam Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam mengatakan, eksistensi santri apabila ditinjau dari motivasi dan kualitas, maka santri dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) Santri yang betul-betul santri, menuntut ilmu untuk diamalkan sebagaimana lazimnya. Santri yang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan mengamalkannya akan memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi orang disekitarnya. 2) Santri yang diantar orangtuanya atau walinya ke pesantren dengan maksud semata-mata untuk melepaskan dirinya dari kenakalan anaknya. Santri yang dimasukkan ke pesantren karena untuk mengubah sikap dan sifat yang awalnya buruk atau nakal serta bertujuan untuk berubah lebih baik dengan cara menuntut ilmu di pesantren. 3) Santri yang hanya ikut-ikutan saja. Santri yang hanya mengikuti temannya akan memiliki dua kemungkinan dalam menuntut ilmunya yaitu apabila santri tersebut mendapat barokah maka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat selama menuntut ilmu di dalam pesantren. Atau sebaliknya, santri tersebut akan merasa tidak nyaman dalam menuntut ilmu di dalam pesantren sehingga santri tersebut ingin selalu pulang atau keluar dari pesantren. 

NKRI merupakan suatu bentuk negara yang terdiri atas wilayah yang luas dan tersebar dengan berbagai macam adat, suku, keyakinan, serta budaya yang memiliki tujuan dasar menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Sedangkan istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menutut UUD 1945 Pasal 1 (1) berbunyi sebagai berikut,“Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.” Ketentuan ini dijelaskan dalam pasal 18 UUD 1945 ayat (1) yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kota dan kabupaten, yang tiap-tiap kota, kabupaten, dan provinsi itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.

Jika membahas mengenai peran santri dalam perjalanan kebangsaan, maka kita akan bertemu dengan cerita mengenai pembentukan sebuah barisan militer yang bernama Laskar Hizbullah yang merupakan salah satu bukti nyata dari kontribusi santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Laskar Hizbullah yang pada awal pembentukannya bertujuan untuk memperkuat barisan militer Jepang bertransformasi menjadi sebuah barisan militer yang siap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejak itulah NKRI dan pesantren bekerjasama dalam hal memerdekakan bumi Nusantara,sampai sekarangpun pesantren menjadi pemersatu di Indonesia hususnya di pulau jawa. Pesantren tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Orang-orang pesantren mengambil banyak peran sebagai penggerak (movers) dalam hubungan dengan masyarakat tersebut. Pulau Jawa menjadi arena dibangunnya banyak pesantren. Pesantren pada mulanya banyak dibangun lebih dekat dengan perdesaan dan masyarakat kelas bawah.

Sesuai dengan semangat dari pendirian pesantren yaitu untuk selalu bisa merespon problematika sosial dan kemasyarakatan serta dapat mengambil tindakan atas itu, pesantren harus menjadi institusi pendidikan yang inklusif dan menjadi corong penebar kedamaian di muka bumi (rahmatan lil’alamin). Pesantren tidak bisa lagi bersifat eksklusif dan keras atas nama agama kepada simbol-simbol Barat dalam kondisi penetrasi global. Hal itu juga harus dilakukan dalam narasi positif keindonesiaan, yakni bagaimana pesantren mengambil posisi pada kondisi Indonesia yang plural, baik agama, etnis, maupun kepercayaan di dalamnya.

 

*) Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah  Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah (STAIFA) Pamekasan

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *