oleh

Pesantren Sebagai Solusi Permasalahan Bangsa

Kabarmadura.id –Di era sains dan teknologi yang semakin maju dan canggih ini, kita semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan dan permasalahan bangsa di semua sisi kehidupan baik bidang agama, pendididikan, sosial, budaya, ekonomi, hokum, keamanan dan lain-lain dari masalah yang paling ringan sampai yang paling sulit baik yang bersifat lokal, nasional dan internasional yang pada puncaknya mengancam keututhan NKRI.

Kita sudah menyaksikan beberapa peristiwa-peristiwa memilukan baik secara langsung maupun di lewat media sosial yang terjadi akhir-akhir ini seperti anak dibawah umur terlibat dalam aksi video porno, seorang suami yang memutilasi istrinya, remaja wanita yang menganiaya remaja wanita yang lain, gerakan memisahkan diri dari NKRI, penggunaan narkoba yang semakin massif, korupsi sudah jadi hidangan segar tiap hari dan yang cukup menyesakkan dada seorang pelajar yang menganiaya gurunya sendiri hingga merenggut nyawanya. Tentunya masalah-masalah tersebut tidak terjadi begitu saja, pasti ada sebab-akibatnya yang perlu kita cari tahu dan pahami agar menemukan solusi yang efektif. Solusi yang diberikan diharapkan dan bahkan harus menghasilkan penyelesaian yang komprehensif dan berkelanjutan sehingga masalah tersebut tidak semakin kronis yang pada akhirnya mengancam masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalah bangsa ini tentunya tugas kita bersama untuk diselesaikan. Kita tidak bisa memasrahkan urusan moral pada guru dan pelanggaran hukum pada penegak hukum saja. Sebagai penyelenggara Negara tentunya pemerintah tidak tinggal diam dalam menyelesaikan permasalahan tersebut yang dibuktikan dengan adanya perangkat UU dan peraturan.

Dari berbagai solusi yang sudah ada ternyata pesantren bisa jadi salah satu solusi yang sangat komprehensif, mengakar dan berkelanjutan/ berkesinambungan (suatainable) sehingga sangat efektif untuk dijadikan salah satu alternatif. Pesantren sudah berkontribusi besar dalam memerdekakan bangsa ini dan mencerdaskan anak bangsa bahkan jauh sebelum negara ini merdeka. Pesantren merupakan miniatur NKRI karena didalamnya terdapat kumpulan orang dari berbagai latar belakang yang bereda-beda.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang pada awalnya terfokus pada pendalaman ilmu-ilmu agama dan ritual keagamaan saja sehingga yang ter-image di benak masyarakat bahwa masyarakat pesntren adalah orang yang bersarung, berkopiah, mempelajari kitab kuning dan taat ibadah serta bersopan santun pada semua orang yang cukup tinggi. Namun saat ini berbeda, pesantren sudah mengalami transformasi baik secara struktur kelembagaan maupun kurikulum sehingga pesantren juga mempelajari berbagai bidang disiplin keilmuan yang sesuai dengan tuntutan zaman baik di bidang sains dan teknologi, budaya, dan bahasa agar para santri ketika sudah kembali berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat bisa berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang semakin kompleks. Hal ini bisa dilihat dari adanya lembaga pendidikan umum seperti SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA bahkan sudah banyak pesantren yang membuka perguruan tinggi baik jenjang Strata Satu atau Strata Dua dengan berbagai pilihan Jurusan dan Prodi. Artinya kurikulum pesantren yang notabena awalnya fokus pada ilmu-ilmu keagamaan sangat mungkin diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan umum agar relevan dengan tuntutan perkembangan sains dan teknologi.

Konsekwensinya para santri selalu sibuk dengan kegiatan kegiatan baik yang bersifat wajib maupun yang ekstra. Di sisi lain mereka juga dituntut dan ditempa untuk hidup mandiri, sederhana dan bersabar seperti memasak dan mencuci sendiri karena harus hidup jauh dari keluarga dan teman bermain di kampung sehingga tidak bisa menikmati bebasnya pergaulan seperti mereka yang tidak hidup di pesantren.. Selain itu, mereka juga harus bertoleransi tinggi, mudah beradaptasi, dan selalu menjaga sopan santun dengan masyarakat pesantren baik dengan Kiayi dan keluarganya, para ustadz dan juga sesama santri karena pondok pesantren merupakan tempat baru bagi mereka yang di dalamnya dihuni para santri dari berbagai macam latar belakang keluarga, daerah, suku, bahasa, ekonomi dan bahkan Negara yang berbeda. Oleh karena itu, para santri setelah lulus dari pesantren sudah siap baik secara spiritual, intelektual, sosial dan emosional ikut berpartisipasi dan mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat baik dalam skala kecil di lingkungan kehidupan keluarga sampai skala  besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara spiritual,para santri sudah dibekali, pengetahuan, pemahaman dan praktik ilmu agama yang cukup agar mereka menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kapada Allah Subhanahu Wataala dan RasulNya dengan tuntunan dan menjadi warganegara yang baik dan ta’at hukum sehingga mereka siap mengemban berbagai tanggungjawab bangsa dan negara yang di berikan kepada mereka dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Mereka tidak akan mudah terjerumus padak praktik-praktik melawan hukum karena mereka sudah mempunyai strong self-control yang bekerja secara otomatis sebagai alarm yang membuat mereka selalu sadar bahwa perbuatannya tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia saja tapi juga di akhirat. Salain itu, degan kekuatan spiritual itu juga meraka tidak akan mudah terinfeksi virus-virus negative seperti kenakalana remaja dan pergaulan bebas yang menjebak mereka pada penyalahgunaan obat-obat terlarang dan seks bebas.

Secara intelektual, para santri sudah tidak diragukan lagi kompetensi, daya saing, skil dan kreatifitasnya karena mereka sudah belajar berbagai disiplin ilmu yang terintegrasi antara ilmu wahyu (revealed knowledge) – ilmu yang fokus belajar keagamaa seperti fiqh, tauhid dll.dan ilmu non-wahyu (non-revealed knowledge) – ilmu yang fokus belajar ilmu seperti ekonomi, politik, pemerintahan dll. dan praktik-praktik yang menunjang kompetensi, keahlian dan kreatifitas mereka di bidangnya sehingga mereka sudah siap bekerja dengan profesional bersanding dengan para pekerja profesional non-santri. Selain itu, dengan bekal kombinasi ilmu agama dan umum mereka tidak mudah berfikir picik, irasional, ekstrim dan juga sekuler, tetapi mereka akan selalu mengedepankan berfikiran cerdas, luas, solutif, akomodatif, moderat, dan selalu mengedapkan musyawarah/ diskusi dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi sehingga mereka menjadi mudah diterima di komunitasnya.

Secara sosial, kehidupan berbangsa dan bernegara tidak semudah membolak-balikan telapak tangan karena bangsa kita terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa,dan ras sehingga dibuthkan generasi yang mampu menerima perbedaan, beradaptasi dengan mudah dan tidak eksklusif apalagi rasis. Bagi para lulusan pondok pesantren itu semua merupakan hal yang lumrah (common sense) dikarenakan selama di pesantren mereka sudah belajar bersosialisasi, berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan baru dengan berbagai perbedaan baik perbedaan secara individu maupun kelompok. Mereka sudah terbiasa hidup saling berdampingan, menghargai, menolong, merangkul, berempati, bertukar fikiran, adat istiadat, budaya serta menafikan perbedaan asal bukan menyangkut keyakinan. Dengan demikian, mereka sudah sangat siap menjaga keutuhan NKRI seperti manjaga keutuhan pondok pesantren.

Secara emosional, kestabilan emosi membutuhkan latihan yang cukup lama dan terus menerus. Emosi secara sederhana kondisi perasaan atau jiwa. Sseseorang akan berhasil kalau mampu mengendalikan emosi dengan baik. Para lulusan pesantren terbiasa melatih manahan emosi yang bergejolak karena selama di pesantren mereka sudah terbiasa dengan hidup sederhana dan apa adanya. Mereka tidak mudah reaktif secara berlebihan dalam menghadapi permasalahan yang akan dihadapinya sehingga mereka tetap bisa berfikir dan bertindak dengan bijak dan rasional.

Dengan demikian, gerakan “Ayo Mondok” perlu dukungan bersama karena pesantren mampu menghadirkan generasi yang berintegritas, berkarakter, berdaya saing dan mampu mengemban tugas negera yang penuh dengan tantangan baik tantangan internal maupun eksternal di masa yang akan datang.

Achmad Baidawi

Alumni PP.Miftahul Ulum Bettet

Dosen Fakultas Tabiyah IAIM Madura

Komentar

News Feed