Petambak Garam Butuh Solusi Selain Bergantung Pabrikan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) MEMPRIHATINKAN: Capaian Produksi garam tahun 2020 sangatlah minim hingga tidak mencapai target.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Capaian produksi garam tahun 2020 di Sumenep gagal mencapai target. Bahkan jika mengacu realisasi 2019, hasilnya lebih rendah. Pada 2019 lalu, hasil produksinya mencapai 236.000 ton, di 2020 inihanya mencapai 103.606,08 ton.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sumenep Sri Harjani mengatakan,jika berkaca pada tahun sebelumnya, capaiannya masih kurang 132.394 ton atau turun sekitar 70 persen.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, salah satu penyebab tidak tercapainnya produksi garam lantaran harga garam saat ini terlalu murah. Sehingga petambak enggan untuk memproduksi.

“Kalau musim tidak terlalu berpengaruh,” ucapnya.

Hasil penelusurannya, harga garam saat ini kisaran Rp250 hingga Rp300 per kilogram, bahkan ada juga yang Rp125 per kilogram seperti di Kepulauan Gili Genting.

Capaian produksi garam rakyat 332.009,60 ton pada 2019, berdasarkan target produksi sebesar 236.000 ton. Sayangnya, stok garam ditahun 2019 masih tersisa 102.820,35 ton hingga 2020.

“Saat ini sangat minim,memang perlu pembenahan ditahun 2021 ini,” ujar dia.

Untuk tahun 2021 ini, Diskan Sumenep belum menentukan target. Alasannya, menunggu dari pemerintah pusat. Sembari menunggu, Harjani mengatakan, pihaknya terus berupaya agar petambak bersedia memproduksi garam lebih banyak.

Namun jika petambak enggan berproduksi dengan alasan rendahnya harga jual, Diskan belum bisa memberikan solusi dengan dalih sudah menjadi masalah nasional.

“Ini tanggung jawab pemerintah pusat. Kami yakin jika harga melonjak, maka produksi juga meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengarahkan agar adaupaya lain untuk meningkatkan produksi, seperti perbaikan saluran air ke setiap tambak dan petambak diarahkan harus mempunyai tandon air baku yang cukup. Termasuk penataan lahan seperti penggunaan geomembran.

“Cara memacu produksi memang harus ada upaya memperbaiki sistem pengelolaan tambak, yang semula tradisional diperbaiki ke arah lebih baik,” tegasnya.

Sedangkan di Sampang, stok garam rakyat sisa dua tahun terakhir ini masih melimpah. Petani menilai pemerintah setempat tidak melakukan upaya pemanfaatan garam hasil petani.Sehingga petani merasa merugi.

Ditambah lagi, harga turun drastis dan tidak ada penyerapan dari pabrikan,baik dari PT. Garam dan perusahaan swasta. Dampaknya, stok garam masih banyak tidak terjual.

Ketua Forum Petani Garam Madura (FPGM), Moh. Yanto kepada Kabar Madura mengatakan, banyaknya stok garam yang masih ditimbun, membuat sebagian rusak.

Sejatinya, petambak sudah terlatih mengolah garam menjadi garam konsumsi. Namun sejauh ini terkendala pemasaran, ditambah lagi belum ada dukungan dari pemerintah setempat. Sehingga petani menjualnya dengan cara sederhana.

“Petani sudah bisa mengolah hasil garam menjadi garam konsumsi. Mereka ikut pelatihan agar bisa memproduksi garam konsumsi. Namun masih terkendala penjualan,” ucapnya.

Menurut Yanto, jika melihat peluang tata niaga garam, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagprin) Sampang semestinya langsung bisa menangkap hal itu. Sehingga bisa menjadi solusi saat tawaran harga garam dari pabrikan anjlok.

Dia berharap, produksi hilir garam bisa difasilitasi oleh pemerintah. Sehingga garam rakyat tidak hanya mengandalkan penyerapan dari pabrikan. Selain menghabiskan stok, juga meningkatkan ekonomi masyarakat.

Sayangnya Kepala Disperindagprin Sampang, Abd. Hannan belum bersedia menanggapi hal itu bisa memberikan keterangan.

“Saya masih ada rapat mas,” ucapnya singkat.(man/imd/waw)

 

CAPAIAN PRODUKSI GARAM RAKYAT SUMENEP TAHUN 2020

Kecamatan: Capaian

Gapura: 20.738,97 ton (KP1)

Kalianget:29.081,96 ton (KP1) dan 1.932,00 ton(KP2)

Saronggi: 20.082,60 ton (KP1)

Pragaan: 13.971,14 ton(KP1) dan 1.690,49 ton (KP2)

Giligenting: 1.813,14 ton (KP2)

Talango:230, 75 ton (KP1)

Dungkek: 124,20 ton (KP2)

Ra’as: 4.527,81 ton(KP2)

Arjasa: 3.266,94 ton (KP2)

Kangayan: 2.787,75 ton (KP2)

Sapeken: 3.358,34 ton (KP2)

Jumlah:103.606, 08 ton

Luas Lahan Keseluruhan : 1.967,42 Ha

 

Sumber: Diskan Sumenep

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *