oleh

Petambak Garam Sumenep Ragukan Manfaat PMN PT Garam

Kabarmadura.id/Sumenep-Petani garam mengakui kehadiran kembali PT Garam Persero ke Kabupaten Sumenep, belum terasa manfaatnya kepada masyarakat, khususnya yang menngantungkan  penghasilan prioritasnya adalah garam.

Pasalnya setelah setahun berkantor di Sumenep, badan usaha milik negara (BUMN) yang bertujuan menuntaskan persoalan keterpurukan harga garam ini, terkesan ogah menyerap hasil produksi petani.

Sebagaimana diungkapkan Ketua Aliansi Paguyuban Tambak Garam Sumenep Ubed Amrullah Karim, PT Garam selama ini terkesan kurang peka terhadap hasil produksi petani lokal, terlebih di daerah pesisir yang lokasinya dekat dengan perusahaan itu.

Karena, hasil produksi yang tinggi dan melebihi target yang ditetapkan sejak awal musim, menjadi tidak ternilai lantaran rendahnya harga jual. Ubed mengklaim, lebih dari 50 ribu ton garam petani tidak terserap dan ditawar dengan harga rendah.

Sementara, PT Garam yang berperan sebagai penyelamat saat harga di pasaran rendah, tidak nampak.

Perusahaan yang berdiri sejak era Hindia Belanda itu, dinilai kurang tanggap untuk segera menyerap hasil produksi garam petani yang ditawar dengan harga rendah oleh perusahaan swasta.

“Kalau hasil produksi sangat bagus, melebihi target malah, normalnya itu 80-100 ton per hektarnya, sekarang malah lebih, tapi yang menjadi persoalannya perusahaan-perusahaan  termasuk PT Garam itu terkesan ogah menyerap hasil produksi petani,” tuturnya, Kamis (9/1/2020).

Ubed menegaskan, kepedulian PT Garam juga terkesan lambat, karena baru menyerap di akhir-akhir ini.

“Kalau dampak keberadaan PT Garam secara sosial, kami belum banyak merasakan manfaatnya, kalau keterlambatan, dia kan hanya mengandalkan sisa anggaran PMN tahun 2017 untuk menyerap garam rakyat,” imbuhnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidowi menemukan 301.696 ton garam rakyat di Pulau Madura tidak terserap lantaran murahnya harga pasaran, yakni di kisaran Rp200 per kilogram atau Rp200 ribu per ton. Garam tersebut disimpan di gudang terbuka dengan daya tahan satu tahun..

“Data ini berdasarkan hasil kunjungan ke kantor pusat PT Garam di Kalianget, Sumenep dan gudang penyimpanan garam di Pamekasan tadi,” kata Baidowi sebagaimana dikutip dari ANTARA, Kamis (9/1/2020).

Berdasarkan penuturannya, produksi garam milik PT Garam di tahun 2019 ini mencapai 454.500 ton. Sedangkan penyerapan dari petambak garam lokal melalui anggaran dari penyertaan modal negara (PMN) sebanyak 152.804 ton.

Sedangkan anggota Komisi ll DPRD Sumenep Masdawi menawarkan solusi kepada petambak garam. Dia menyarankan petani untuk patungan modal untuk membangun gudang yang lebih besar, yang berfungsi untuk menampung atau menyerap hasil produksi khusus masyarakat.

Sebab menurutnya, lahan produksi yang dimiliki PT Garam sangat luas, sehingga selagi stok di internal masih ada, tidak mungkin untuk menyerap hasil produksi petani.

“PT Garam harus transparan dalam pengelolaannya dan harga betul-betul itu sudah harga maksimal, bukan ada spekulan-spekulan yang bermain yang merugikan para petani,” paparnya. (ara/waw)

Komentar

News Feed