Petambak Sampang Ancam Hentikan Produksi Garam

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) MERUGI: Petambak kembali mempersiapkan penggaraman lahan di tambak garam di Desa Aeng Sareh, Sampang.

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Rusaknya harga garam di Madura tidak belum ada perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sejumlah petambak garam rakyat di Sampang mengancam akan menghentikan produksi garam.

Sebab, sampai saat ini tidak ada kepastian harga garam kembali naik. Meskipun tidak kembali pada harga semula seperti pada tahun 2017 lalu. Sementara harga garam saat ini masih rusak parah dan terus merugikan petambak.

Bacaan Lainnya

Salah satu tokoh petambak garam, Lukman, mengaku biaya produksi garam terus naik. Sementara harga garam tidak ada kepastian kembali naik. Sehingga petambak garam dipastikan menghentikan produksinya jika tahun ini harga makin anjlok.

“Sudah dipastikan kami akan menghentikan produksi garam. Jika pemerintah dan sejumlah pihak terkait tidak berupaya mendorong baiknya harga garam,” katanya.

Dikatakan, penghentian produksi garam menurutnya tidak sekadar ancaman. Namun hal itu sudah pasti dilakukan. Jika dalam mengolah lahan garam tidak ada hasil. Apalagi merugi. Sebab, petambak melakukan produksi dengan harapan mendapatkan keuntungan, bukan malah rugi.

Dia menjelaskan, biaya kuli angkut semakin tahun semakin naik. Bayaran mereka tidak mengikuti turunnya harga garam. Tidak termasuk biaya transportasi. Selain itu, bayaran mantong pun juga tidak sedikit. Sehingga jika dikalkulasi, dalam satu bidang lahan garam menghabiskan biaya jutaan.

Sehingga, jika harga garam tidak ada kenaikan, petambak akan terus merugi. Sebab harga garam terakhir, per ton senilai Rp350 ribu. Sementara biaya produksi paling minim sebesar Rp700 ribu. Itu pun sudah dilakukan dengan sangat irit.

“Sudah sangat jelas, jika dengan harga sekarang petambak benar-benar dirugikan. Tahun ini saja, tambak yang jauh dari akses jalan sudah tidak diolah. Itu dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar,” lanjut Lukman.

Selain harga, kata Lukman, petambak garam juga terus dirugikan minimnya penyerapan. Terbukti, tahun 2020 perusahaan swasta hanya melakukan penyerapan sedikit. Itu pun dengan harga relatif rendah. Sementara PT. Garam sudah dua tahun lebih tidak melakukan penyerapan sama sekali.

“Tapi bagaimanapun, tahun ini kami berharap ada perubahan harga. Termasuk ada penambahan kuota penyerapan. Terlebih kepada PT. Garam yang bisa menyerap lebih tinggi dari perusahaan swasta,” katanya.

Data yang dihimpun Kabar Madura, dalam beberapa tahun terakhir, harga garam menurun drastis. Pada 2017 seharga Rp3,5 juta per ton, tahun 2018 seharga Rp500 ribu per ton, dan 2019 seharga Rp400 ribu per ton. Sementara pada tahun 2020, harga semakin anjlok di tahun berikutnya, yakni Rp350 ribu per ton.

Sementara itu, Kabid Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan Sampang, Moh. Mahfud menegaskan pemerintah tidak mempunyai kewenangan penuh soal penentuan harga garam. Apalagi tidak ada regulasi yang menguatkan. Sebab belum ada aturan tatakelola garam yang bisa menjadi dasar kewenangan.

“Tapi, kami mempunyai kewajiban untuk berkoordinasi untuk membantu petambak. Sebab ini akan berdampak pada ketercapaian target produksi garam secara nasional. Jika petambak merugi, lahan banyak tidak digarap,” ucapnya. (man/waw)

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *