Petani Garam Asal Aeng Sareh Tetap Optimis Meski Harga Garam Anjlok

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) MEROSOT: Jumlah produksi garam semakin menurun sebab harga garam semakin penyerapannya tidak jelas.

KABARMADURA.ID- Petani garam di masa wabah Covid-19  semakin resah. Sebabnya yaitu harga garam turun drastis ditambah kepastian penyerapannya tidak jelas. Sementara itu biaya produksi justru mengalami peningkatan.

FATHOR RAHMAN, Sampang

Di balik kondisi tersebut, para petani tetap gigih mengolah lahannya. Mereka tetap menaruh harapan bahwa akan ada kebijakan yang adil dari berbagai pihak terkait. Terutama soal stabilitas harga. Petani berharap harga naik dari yang semula senilai Rp200 ribu per satu ton garam.

Mereka menginginkan penyerapan kembali normal. Sebab, menurut para petani, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 4 juga menjadi salah satu kendala stabilnya harga garam. Terbukti, sejak lahan garam mulai digarap sejak dua hingga tiga bulan terakhir, belum pernah ada penyerapan garam. Yakni, sejak lahan garam mulai digarap sejak dua bulan hingga tiga bulan terakhir.

“Kami tetap masih berharap ada kenaikan harga. Setidaknya naik sedikit yang penting tidak terlalu rugi. Sebab, harga saat ini anjlok, terlebih tidak ada yang membeli,” ungkap Sumadi, (55), warga Desa Aeng Sareh, Sampang.

Ia mengaku, seandainya ada pilihan lain, maka akan berpindah mata pencaharian. Namun menurutnya, kemampuannya hanya mengolah lahan garam. Meski selama dua tahun terakhir selalu mengalami kerugian, ia tetap berharap manisnya menjadi petani garam kembali dirasakannya.

Ia bercerita, mengelola lahan garam tidak hanya cukup bermodal kemampuan. Tapi juga butuh kesiapan mental. Menurutnya, banyak rintangan yang harus dihadapi. Semisal, tantangan perubahan musim yang mendadak menjadi kendala alam.

Selain itu, menurutnya, turunnya harga dan tidak adanya pembelian garam  juga menjadi masalah. Sebab, penyerapan yang dilakukan PT. Garam dan perusahaan garam swasta tidak bisa diprediksi.

“Kami dituntut sabar. Sebab tidak cukup tenaga dan pikiran. Modal juga penting. Biaya produksi juga tidak sedikit, ” ucapnya.

Sumadi mengungkapkan, sejak puluhan tahun silam sudah bekerja sebagai petani garam. Dulu, dia menjadi mantong dan memungut bayaran dari hasil mengelola lahan garam milik orang lain. Kali ini dia sudah mempunyai sawah sendiri. Namun, harga sudah tidak bersahabat dan cenderung membuatnya mengalami kerugian sejak dua tahun terakhir.

Sementara itu,  Manager Corporate Communications PT Garam Miftahol Arifin mengaku belum bisa memastikan soal penyerapan garam. Dia mengaku jika stok garam masih banyak.

“Stok garam masih banyak di gudang kami. Sehingga penyerapan belum kami pastikan,” ucapnya. (maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *