oleh

Petani Keluhkan Daya Serap dan Harga Garam yang Murah

Kabarmadura.id/Pamekasan-Petani garam di Kabupaten Pamekasan, mengeluhkan banyaknya garam yang masih belum terjual akibat murahnya harga kristal putih tersrbut.

Kendati demikian, para petani masih melakukan aktivitas produksi garam. Akibatnya, jumlah garam yang tidak terjual semakin menumpuk. Tak pelak, petani merasa kebingunan dengan garam yang tidak diserap oleh pabrik tersebut.

Romli, salah seorang petani garam asal Pademawu, Pamekasan, mengungkapkan, secara kualitas garam yang dihasilkan oleh petani sudah cukup bagus. Hanya saja kendala pada bulan ini garam lokal memang semakin banyak, sehingga tidak mungkin dapat diserap oleh pabrik secara keseluruhan.

“Bisa dipaksakan untuk dijual, tapi kalaupun harus terjual, itu biasanya sangat murah,” ungkapnya, Minggu (13/9/2020).

Sejauh ini, tambah Romli, satu-satunya pabrik yang biasa membeli garam Pademawu hanya PT. Susanti Megah yang beralamatkan di Surabaya, itu pun masih harus melalui tahap sortir kualitas garam.

Proses sortir, lanjut dia, juga mempengaruhi terhadap harga garam. Dirinya mengaku, untuk harga satu ton garam dengan kualitas bagus, hanya Rp 300.000,00 sampai Rp 350.000,00.

“Itu kalau garam lama, berbeda dengan garam yang baru panen, harganya akan lebih murah. Kami berharap harga garam kembali normal, seperti harga sebelumnya yang mencapai Rp500.000 per ton,” imbuhnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Herman. Petani garam asal Desa Lembung, Pademawu, Pamekasan itu menyampaikan, tumpukan garam setiap musim kemarau pasti ada, hal itu bisa dilihat dari tempat-tempat penampungan garam hasil petani di sekitar tambak garam yang hanya ditutupi plastik ala kadarnya.

Meski harga garam murah, dirinya mengaku selama ini tidak ada garam yang tidak laku. Hanya saja harus menunggu waktu untuk dibeli oleh pengepul agar dijual ke pabrik.

“Biasanya pengepul juga masih menyortir garam yang bisa masuk pabrik agar tidak ditolak pabrik,” ujarnya.

Lanjut dia, jika proses sortir tidak dilakukan, hal itu akan berdampak fatal pada pengepul, karena akan mengalami kerugian yang sangat besar jika ditolak oleh pabrik. Sehingga alternatifnya, agar tidak mengalami kerugian yang sangat besar, maka harus dijual secara eceran di daerah jawa.

“Kau ditolak pabrik, pengepul tidak bisa membawa garam balik ke Madura, karena resikonya kalau dibawa balik akan semakin rugi, bahkan kerugiannya bisa mencapai Rp2,5 juta,” pungkasnya. (mukhtar/pin)

Komentar

News Feed