oleh

Petani Ogah Jual Hasil Panen Sesuai HPP Gabah

Kabarmadura.id/PAMEKASAN – Masa panen padi telah mulai terlihat di beberapa titik desa salah satunya di desa nyalabu Laok kecamatan kota  Pamekasan. Saat ini para petani memilih menimbun hasil panen. Alasannya, Harga gabah rendah.

Kabid Ketersediaan Distribusi dan Kelapangan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan, Frida Ekadiana mengatakan, berdasarkan data dari Badan Urusan Logistik (Bulog) harga gabah berdasarkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp4.600 perkilogram, sedangkan para petani menginginkan lebih dari harga HPP tersebut.

“Di Madura rata-rata disimpan untuk makanan pokok satu tahun,” katanya, Minggu (31/3).

Dijelaskan, harga jual padi tebas maupun gabah kering dirasa kurang sebanding bila dirupiahkan semua. Padi yang beberapa waktu lalu panen, sekarang ini gabahnya dikeringkan untuk proses tanam selanjutnya dan lebih memilih mengolah hasil panen padinya untuk makan sehari-hari, ketimbang dijual.

Dilanjutkan Frida, sejatinya Bulog berusaha menstabilkan harga yakni dengan senantiasa menyerap gabah jikalau harga di masyarakat rendah. “Jika mau dijual pun ada babinsa yang mengawal insyaallah terserap jika para petani mau menyerap,” paparnya.

Dan untuk menjaga stabilitas harga beras diperlukan kerja sama semua pihak agar berhasil dalam menjaganya. “Keberhasilan tersebut juga tak luput dari sinergi antarpihak terkait,” bebernya.

Target Serap Gabah Petani besarannya adalah 10 persen, jadi petani diharap menjual 10 persen hasil panennya ke bulog sebagai cadangan pangan pemerintah

“Cadangan pangan pemerintah akan dikeluarkan pada saat harga beras di masyarakat mahal dg operasi pasar,” tukasnya.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, diamanatkan bahwa pemerintah bersama masyarakat bertanggungjawab untuk mewujudkan ketahanan pangan. Hal ini dapat diartikan bahwa ketahanan pangan tidaklah sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar.

“Seperti yang dilakukan oleh sebagian negara maju dan liberal,” pungkasnya.

Sementara itu Ketua Komisi II DPRD Pamekasan Apik berharap, untuk mengisi gudang penyimpanan stok pangan, Bulog melakukan kemitraan dengan beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) serta penggilingan padi (PP) yang tersebar di beberapa kecamatan.

Para mitra bulog tersebut bertugas mengumpulkan hasil produksi petani dengan cara mencari titik-titik petani yang akan menjual varietas unggul ke Gapoktan, untuk kemudian, disimpan di penggilingan untuk ketersediaan stok pangan bulog.

“Penetapan HPP merupakan kebijakan pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga, agar ketika puncak panen harga gabah petani tidak anjlok,” pintanya. (km45/pai)

Komentar

News Feed