Petilasan Dua Ulama dalam Kelenteng

  • Whatsapp
MEGAH: Suasana Kelenteng Hian Thian Siang Tee tampak dari depan

Kabarmadura.id-Kelenteng merupakan tempat ibadah bagi penganut Konghucu. Namun, ada sesuatu yang menarik di Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Kelurahan Palmerah, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibu Jakarta. Di kelenteng tersebut terdapat dua petilasan ulama.

Jakarta, Moh Tamimi

Dua petilasan ulama tersebut berada di sisi kanan pintu masuk ruangan Kelenteng Hian Thian Siang Tee, namanya Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Djilosu dan EMR Surya Kencana. Kedua petilasan berjajar rapi membujur dari utara ke selatan sebagaimana kuburan pada umumnya.

Terdapat dua lilin merah di setiap petilasan, tetap berada di sisi kiri-kanan papan nama yang mengunakan kayu yang bercat latar merah dan bertulisan warna kuning. Suasana tetap khas kelenteng yang didominasi warna merah dan kuning, entah apa filosofinya.

Di antara kedua petilasan itu terdapat kotak yang tutupnya menyerupai atap limas dan terdapat lubang seukuran uang logam, warnanya merah. Di bawah kotak berkaki itu terdapat sebuah tungku yang menyerupai kendi dan di dalamnya masih tersisa arang.

Di depan masing-masing petilasan itu terdapat meja hitam persegi empat setinggi cengkang tangan orang dewasa. Di atas masing-masing meja terdapat sebuah kendi yang terbuat dari besi kuningan yang dipenuhi abu pembakaran.

Di atasnya tertancap beberapa dupa bertangkai merah yang telah habis terbakar. Di sebalah selatan kendi itu juga terdapat tiga cangkir kecil yang berisi cairan kuning, serupa minyak kelapa.

Di belakang papan nama petilasan terdapat beberapa keris pusaka, berbagai ornamen bertuliskan huruf-huruf Cina. Di antara beberapa keris tersebut, ada yang dibungkus dengan kain merah werangkanya. Di dinding keramik belakang atas petilasan terdapat angka 14 (sebelah kiri) dan angka 15 (sebelah kanan).

Sayangnya, penjaga Kelenteng Hian Thian Siang Tee A Miauw mengungkapkan, ia sendiri tidak mengetahui sejarah dua ulama dalam petilasan tersebut. Mengingat, usia kelenteng sudah hampir tiga abad, tepatnya 290 tahun, dan merupakan kelenteng tertua di Jakarta.

“Petilasan mbah Raden (Surya Kecana) dari Bogor, dan satunya dari Gunung Kawi, Jawa Timur. Bagaimana sejarahnya juga kita tidak ngerti, itu ada pusakanya doang, kita orang tidak mengertilah tetapi tetap dirawat,” ungkap Miauw saat ditemui di kelenteng itu. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *