oleh

Petualangan Ismail 30 Tahun Keliling Indonesia

Kabarmadura.id-Bisa berkeliling dan berkunjung ke setiap daerah dengan segala keindahan, ragam adat budaya, serta destinasi wisata nan indah di setiap penjuru Nusantara, sudah tentu menjadi keinginan setiap orang. Akan tetapi, jika berkeliling Indonesia dengan hanya mengendarai sepeda ontel, tidak semua orang memimpikannya. Namun tidak demikian bagi Ismail, si “Penakluk” nusantara ini menyelesaikannya dengan hanya mengendari sepeda ontel yang sudah tua.

MIFTAHUL ARIFIN, PAMEKASAN

Siang itu, langit Kabupaten Pamekasan terlihat mendung. Dari kejauhan tampak sesosok laki-laki dengan tatapan penuh semangat mengayuh sepeda ontel yang sudah “berumur”. Sosok laki-laki yang menapaki pedal sepeda “tua” itu tak lain adalah Ismail.

Pria asal Kabupaten Indramayu yang memiliki tekad “menaklukan” nusantara dengan bersepeda itu, akhirnya mengantarkannya menikmati keindahan alam Bumi Ratu Pamelingan Pamekasan. Dengan langkah pasti di bawah awan  mendung, ia menyempatkan diri mengunjungi kantor DPRD Pamekasan, kemarin, Selasa (26/3).

Ismail Petualang, begitu dia memperkenalkan namanya kepada setiap orang yang menyapanya. Laki-laki yang sudah memulai perjalanannya mengelilingi Indonesia dengan hanya mengayuh sepeda sejak 20 juni 1989 itu, mengaku sangat senang bisa menapaki setiap sudut kabupaten dengan slogan Gerbang Salam ini.

Di tengah lesu yang dia rasakan, Ismail menyempatkan diri untuk singgah di gedung wakil rakyat Pamekasan, untuk sekedar melepas lelah dan menceritakan pengelamannya mengelili nusantara dengan bersepeda.

Dia mengatakan, yang dilakukannya itu bukanlah sekedar perilaku latah untuk mencari ketenaran. Akan tetapi, lebih dari itu, kegilaannya mengelilingi Indonesia, merupakan salah satu mimpi yang dia pendam sejak masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD).

“Kalau Gajah Mada bisa menaklukan nusantara dengan kegagahannya, maka saya bermimpi untuk menaklukan nusantara dengan bersepeda,” katanya sambil meneguk sebotol air putih untuk melepas dahaga. Selasa (26/3)

Kecintaannya terhadap tanah tumpah darah Indonesia yang begitu amat besar, menjadi pelecut untuk semakin  menambah kobaran semangatnya untuk menjejakkan kakinya di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Dikatakan laki-laki yang hingga kini masih membujang itu, dirinya memantapkan langkah untuk mengawali tekadnya berkeliling Indonesia sejak menginjak kelas XI di salah satu SMK di Indramayu. Setelah membulatkan tekadnya, Ismail kemudian memilih Pulau Dewata, Bali, untuk  memulai perjalanan panjang mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda.

Demi memenuhi tekad dan kecintaannya terhadap tanah air, Ismail mengaku rela meninggalkan sekolahnya untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang penjelajah, serta bisa mencatatkan namanya dalam buku rekor dunia Guiness Book of Record.

“Pulau Dewata Bali menjad titik nol tekad saya untuk mengelilingi Indonesia,” sambungnya.

Dalam waktu tak kurang dari 30 menit, Ismail menceritakan tantangan yang dia lalui dari awal memulai berkeliling Indonesia. Bahkan dirinya sempat berjuang untuk lolos dari maut, saat kapal yang dia tumpangi menyebrang di kepulauan kecil di Maluku, karam setelah menambrak batu karang.

Tak hanya itu, Ismail mengaku juga pernah dihukum adat oleh suku Dani saat dirinya melintas di Papua. Kemudian, dirinya juga pernah disekap oleh kelompok separatis, lantaran dicurigai menjadi mata-mata pemerintah.

“Kan saya pasang bendera merah-putih di sepeda saya. Makanya saya langsung disandera dan diintrerograsi. Saya dikira sebagai mata-mata dari Indonesia,” tuturnya.

Meski sudah mendapatkan pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dan hampir merenggut nyawanya itu, Ismail  tidak lantas menyerah untuk menggapai cita-citanya. Ia malah terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Pulau Madura, yang dikatannya menjadi tempat reakhir sebelum dirinya kembali ke tempat pemberangkat di Pulau Bali.

Seluruh pengalaman yang dia temui sepanjang perjalanan mengelilingi Indonesia, dia catat di sebuah buku kecil yang dibawa sepanjang jalan petualangannya.

“Pulau Madura ini jadi tempat terakhir yang saya kunjungi selama 30 tahun perjalanan saya mengelilingi Indonesia,” pungkas pria kelahiran Desa Cangko, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 5 Mei 1969 itu. (waw)

Komentar

News Feed