Pilkada Usai, Petambak Garam Kembali Jadwalkan Aksi Besar-besaran

  • Bagikan
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) PEDULI: Aksi besar-besaran karena harga garam masih anjlok kembali diagendakan, karena konsentrasi terhadap pilkada dinilai sudah mereda.

kabarmadura.id, SUMENEP  – Harga garam tidak ada perkembangan. Janji aksi besar-besaran kembali diagendakan masyarakat petambak gnaram. Ancaman itu disampaikan melalui Asosiasi Petani Garam (APG) di Sumenep.

Ketua APG Abdul Hayat mengungkapkan, aksi besar besaran itu kembali diagendakan dan akan ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep.

“Kami mulai dulu sudah mewanti-wanti. Bahkan, sudah bersurat ke DPRD, namun tidak ada tindak lanjut. Padahal, saat ini mendekati akhir tahun 2020,” katanya, Minggu (13/12/2020).

Pria dengan sapaan akrab H. Ubet itu menyebut, semua petambak garam sudah siap dikerahkan dan mereka akan terus gelisah elama harga jual garam masih sangat merugikan.

Sebelumnya mereka sudah berusaha agar pemerintah di Sumenep ikut memperjuangkan kenaikan harga garam. Namun hingga saat ini tidak kunjung ada hasil.

“Jika kemarin beralasan masih sibuk karena pilkada dan lainnya, maka saat ini apa yang menjadi alasan lagi. Sehingga kami saat ini harus bertindak,” ujarnya.

Rencana aksi besar-besaran sebelumnya akan dilaksanakan pada 20 Juli 2020 lalu. Namun luapan protes itu akhirnya ditangguhkan.

Saat ini mereka merasa sudah terdesak, sehingga harus membuat aksi massa besar-besaran. Terlebih, banyak petambak yang semakin frustasi lantaran hasil produksi garamnya tahun ini tidak terjual. Mereka sengaja tidak menjualnya karena harganya masih rendah.

Alasan petambak garam tetap berproduksi kendati harga rendah, karena sudah menggantungkan nasib dari hasil garam.

“Petambak garam hampir 100 persen sudah merugi. Apalagi ditambah dampak Covid-19. Nah ini harus segera didesak kan,” lanjut pria yang juga menjabat kepala desa itu.

Berdasarkan data dari APG, pada tahun 2019, hasil produksi garam rakyat yang mengendap di gudang petambak sekitar 90 ribu ton. Tingginya sisa stok yang tidak terjual itu,  karena minimnya penyerapan oleh perusahaan pengolah garam. Ditambah lagi dengan pembatasan kepada para supliyer.

Baca juga  Pemkab Sampang Berhasil Bangun 55 SPAM untuk Memfasilitasi Warga

Sebelumnya, petambak garam asal Desa Pinggir Papas, Sumenep, Suharto mengatakan, harga garam saat ini senilai Rp350 per kilogram. Sehingga, sangat merugi jika dibandingkan dengan modal awal untuk produksi.

Dia menghitungm dari awal menggarap hingga atau sewa lahan bisa menghabiskan Rp200 hingga Rp300 juta. Tetapi, jika hanya melanjutkan ataulahan yang sudah siap, misalnya cukuo membeli geomimbrannya, ongkos produksi diperkirakan hanya Rp50 juta.

Suharto juga mengaku tidak menjual semua garam hasil produksinya. Masih ada sisa stok sebanyak 200 ton. Jika harga tetap buruk, pada awal tahun 2021 rencananya akan dijual, meski dengan harga rendah.

“Jika dijual semuanya, maka jelas saya sangat rugi,” tukasnya. (imd/waw)

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan